Wednesday, December 31, 2014

Hello, December 31st! We Meet Again!




















Setiap manusia pasti mendapat beragam nikmat dari Tuhan. Salah satunya adalah nikmat umur. Bicara soal nikmat umur yang diberikan setahun dari Tuhan, boleh jadi hari ini, 31 Desember 2014 kembali gue mengucap syukur atas berkat nikmat tersebut. Ketika seseorang mensyukuri hari kelahirannya maka tidak ayal lagi begitu banyak teman dan kerabat menyampaikan selamat. Dan sepanjang hari ini gue sangat bersyukur mengingat perayaan ulang tahun kali ini bisa dirayakan bersama seluruh keluarga besar gue dan kembali dirayakan di Tana Toraja. The land where's I belong! 

I thank you God, for making me see this day as my birthday, and for sparing my life up to see another year. Getting older is the best part of me. I feel better at 30s than I did at 20s. I feel blessed this year!

This year's birthday will be one of my best birthdays in my life! Many thanks to all of my big family and lovely friends for all good wishes. It is indeed a special moment for me. All I want to say is a heartfelt thank you! God bless you all...

Thursday, December 25, 2014

Natal: Berjumpa Dengan Allah didalam Keluarga.

 






















Ada yang berbeda dengan perayaan hari natal tahun ini buat gue. Jika dibandingkan natal tahun kemarin yang dimana gue mau tidak mau harus merayakannya seorang diri mengingat pekerjaan yang tidak bisa gue tinggalkan, maka di tahun ini gue diberikan kesempatan untuk merayakannya bersama keluarga besar. Seperti tiga tahun yang lalu, perayaan natal bersama keluarga tahun ini kembali diadakan di Makassar. So here I am, Makassar! Kota yang tidak pernah lepas dari kehidupan gue sejak kecil, mengingat hampir semua keluarga besar gue berdomisili disini.

Buat sebagian besar orang, natal tak lepas dari hadiah, pohon natal, berkumpul di sejumlah pusat hiburan yang beratmosfir natal, tapi buat gue pribadi, kumpul bersama keluarga adalah yang terpenting. Oleh karena itu gue sangat bersyukur atas kesempatan baik yang diberikan Tuhan dalam merayakan hari natal di tahun ini.

Seiring pertambahan usia, semakin kesini gue pun semakin menyadari bahwa makna perayaan natal yang sesungguhnya adalah kehadiran Allah dalam keluarga. Natal merupakan sumber sukacita tersendiri bagi setiap keluarga. Buat gue, natal merupakan undangan untuk berjumpa dengan Allah melalui keluarga. I feel blessed this year!

Btw, untuk semua yang merayakan,
SELAMAT HARI NATAL 2015,
dan selamat berkumpul bersama orang-orang tercintamu.
Kiranya damai dan kasih natal senantiasa menyertai kita sekalian.. Amin.


Tuesday, December 16, 2014

Renungan Menjelang Natal: Meneladani Kasih dan Semangat Natal Yang Sesungguhnya.

 















"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." (Filipi 2:5) 

Tidak terasa kita sudah hampir sampai pada pertengahan bulan Desember, dan sebentar lagi kita akan merayakan Natal. Ada yang sudah mengambil cuti dan sebentar lagi pergi berlibur bersama keluarga, atau bersiap-siap untuk merayakan Natal dengan pesta bersama keluarga atau teman-teman terdekat. Ada yang tukar menukar kado dan berbagai bentuk perayaan lainnya. Dekorasi di pusat-pusat perbelanjaan pun sebagian sudah penuh dengan ornamen-ornamen yang identik dengan sebuah perayaan Natal. Sebuah pertanyaan hadir dari seorang teman, salahkah jika kita merayakan Natal dengan pesta atau bentuk-bentuk perayaan lainnya? Tentu saja tidak.

Kelahiran Yesus sudah sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. KedatanganNya ke dunia ini membawa misi penting untuk menebus kita semua, sebagai bukti nyata betapa Tuhan mengasihi manusia dan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa. Ayat emas yang sudah tidak asing lagi bagi kita menuliskan isi hati Bapa akan kasih dan kepedulianNya terhadap diri kita.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

Sukacita hadir di dalam diri kita, dan sebagai manusia tentu kita akan merayakannya melalui berbagai kegiatan yang diisi dengan kegembiraan. Tapi kemudian, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta, tukar menukar kado, mendengar dan menyanyikan lagu-lagu Natal dari artis ternama serta hal-hal sejenis lainnya saja? Jika itu yang menjadi gambaran bagi kita, maka itu tandanya kita belumlah sepenuhnya mengerti apa yang seharusnya menjadi semangat Natal yang sesungguhnya.
 

Natal adalah saat dimana kita merayakan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita, Tuhan merelakan anakNya yang tunggal turun ke dunia ini, membuatNya turun mengambil rupa sama seperti kita untuk menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" (Ibrani 4:16), merasakan kedamaian berdiam dalam hadirat Tuhan. Ini adalah anugerah yang luar biasa yang bisa kita nikmati lewat penebusan Kristus. Mari kita lihat bagaimana cara Paulus menggambarkan hal ini dalam Filipi 2. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5)

Pertama, lihatlah bahwa Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Allah. Tapi meski demikian, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (ay 6-7), Yesus mengosongkan diriNya. Maknanya, Dia rela mengambil rupa seorang hamba dan dilahirkan seperti manusia.

Kedua, Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi kita semua manusia. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Ini semua Dia lakukan karena kasih yang begitu besar kepada kita. Dan bagi kita manusia yang telah ditebus, sudah seharusnya kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus kepada sesama kita pula. We should think the way He thinks. Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, karena itulah Natal ada. Jika Dia memikirkan nasib kita, tidak kah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga?
 

Lewat pertobatan kita meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh cacat dan diperbaharui dalam roh dan pikiran kita dan menggantikannya dengan sebuah hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan. (Efesus 4:22-24). Be constantly renewed in the spirit of your mind. Roh kita sudah diperbaharui, maka pemikiran kita pun sepatutnya mengikuti itu. Ironis sekali jika kita yang seharusnya sudah diubahkan menjadi manusia baru tapi masih juga belum bisa menanggalkan berbagai pola pemikiran lama, masih terpusat pada kepentingan dan hal-hal yang menyenangkan secara pribadi lalu tidak tergerak untuk memikirkan saudara-saudara kita lainnya yang tengah menghadapi pergumulan berat terutama menjelang peringatan turunnya Kristus ke dunia buat kita semua seperti saat ini.
 

Di saat kita tengah merencanakan dan mempersiapkan berbagai kegiatan seperti pesta, liburan ke luar kota atau ke luar negeri atau bentuk-bentuk perayaan lainnya, ada banyak saudara kita yang mungkin makan sehari sekali saja masih sulit. Ada banyak yang tengah meratap memohon belas kasih akibat beratnya beban hidup. Ketika Yesus sudah melakukan itu semua lewat kedatanganNya ke dunia ini, sudahkah kita merepresentasikan semangat Kristus itu? Apakah kita mau merendahkan diri kita juga untuk berkorban, melayani dan membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita? Itulah yang menjadi semangat Natal yang sesungguhnya. Tidaklah salah jika kita merencanakan berbagai perayaan dlaam menyambut kelahiranNya di dunia, namun jangan lupakan pula saudara-saudari kita yang tengah membutuhkan uluran tangan dari kita. Memasuki Natal tahun ini, marilah kita lebih peka dan peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak akan ada perayaan Natal jika Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus kita. Dia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib sehingga kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat jaminan keselamatan dalam kehidupan kekal. Demikian pula seharusnya kita bersikap.

Semangat Natal sesungguhnya adalah semangat yang meneladani Kristus, dimana kita mau meluangkan waktu, tenaga dan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu sesama kita yang menderita. Mereka pun ada dalam kasih Tuhan, mereka pun terlukis dalam telapak tanganNya dan tergambar dalam ruang mataNya. Tuhan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi kita. Dan jika Tuhan saja mengasihi mereka, kita pun sudah selayaknya mengasihi mereka juga. Membantu mereka yang kekurangan, membagi sukacita dan berkat kepada mereka, sehingga mereka bisa tersenyum dan dapat merayakan kelahiran Kristus bersama kita tanpa harus menangis lagi, itulah semangat Natal yang sesungguhnya. Mari masuki masa Natal dengan semangat Natal yang benar.

Merayakan Natal bukan lagi hanya sekedar untuk bertukar kado, membuat kue, mempercantik rumah, bahkan membeli baju baru, tetapi lebih dari itu, yakni berbagi kasih dengan sekeliling kita!

Monday, December 1, 2014

Hello December, I Just Love You So Much!












December is coming!!!! Yay!!!!!! 
I can't believe how time flies this year!!!!


I am SO excited that it is December!!!

December happens to be my absolute favorite month of the year. Not only is it my birthday month, but it is also the month of my favorite holidays!


I just love getting ready for Christmas and seeing all the Christmas lights and singing Christmas songs and all the fun Christmas decorations and holiday cheer! And of course, it is wonderful to have extra time to spend with my amazing family!

Happy December, guys!!!!
God bless us always.

Waktu Terbaik Didalam Hidup: Saat Bersyukur!

Ini kisah seorang pria yang merasa gelisah akan hidupnya. Namanya Hardi. Dua hari ke depan, di bulan Januari ini, ia akan berumur 30 tahun. Ia gelisah karena sebentar lagi akan memasuki masa dekade baru dalam hidupnya dan cemas karena merasa masa-masa terbaik dalam hidupnya akan segera berlalu.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Hardi selalu menyempatkan diri berolahraga di gym. Di sana pula ia akan selalu berjumpa temannya yang bernama Nicholas. Usianya sudah 79 tahun, tapi kondisi tubuhnya masih sangat prima. Hari itu, Hardi tidak terlihat bersemangat. Hal ini pun diperhatikan oleh Nicholas, sehingga ia bertanya, "Apa ada masalah?" Hardi akhirnya bercerita soal kegelisahannya. Lalu, ia bertanya pada Nicholas, "Kapan waktu terbaik dalam hidupmu?" 

Tanpa ragu, Nicholas menjawab, "Saat aku masih kecil dan tinggal di kampung halaman, saat aku dibesarkan dengan kasih sayang oleh orangtuaku, itulah masa terbaik dalam hidupku. 

Saat aku mulai bersekolah dan belajar segala hal yang sekarang aku ketahui, itu juga masa terbaik dalam hidupku. 

Saat aku diterima kerja pertama kalinya dan punya tanggung jawab serta digaji atas kerja kerasku, itulah waktu terbaik dalam hidupku. 

Saat aku bertemu istriku dan jatuh cinta, itu juga waktu terbaik dalam hidupku. 

Saat pecah perang, aku dan istri harus mengungsi demi menyelamatkan hidup kami. Saat kami tetap bersama-sama dan selamat di sebuah kapal menuju tempat tinggal yang baru, itulah waktu terbaik dalam hidupku. 

Saat kami tiba di tanah harapan yang baru dan mulai membina sebuah keluarga, itu waktu terbaik dalam hidupku. 

Saat aku menjadi seorang ayah, melihat anak-anakku tumbuh besar, itulah masa terbaik dalam hidupku. 

Dan sekarang, Hardi, umurku 79 tahun. Aku masih merasa sangat sehat dan tetap merasa jatuh cinta pada istriku seperti pertama kali bertemu. Itu juga menjadi waktu terbaik dalam hidupku." 

Sahabat yang luar biasa, 

Sejatinya, tidak ada masa tertentu yang bisa menjadi masa terbaik dalam hidup ini. Jika kita mampu mensyukuri setiap momen yang sedang kita lewati dengan cara mengerahkan segenap tenaga, hati, dan pikiran terhadap apa pun yang kita lakukan, maka kita akan mendapatkan waktu terbaik dalam hidup. 
Karena itu, mari kita berjuang untuk merasakan masa terbaik dalam hidup kita mulai hari ini juga!
Sumber: www.http://r0edin.blogspot.com