Tuesday, December 31, 2013

Hello My Birthday, We Met Again!


































Selain menyambut malam pergantian tahun baru nanti yang tinggal beberapa jam lagi, rasanya tidak ada yang terlalu istimewah lagi di hari ini, meskipun seharusnya hari ini menjadi momentum khusus buat gue pribadi dalam memaknai pergantian tahun sekaligus umur. Ya! Hari ini, 31 Desember 2013 setelah hampir semua orang di dalam kehidupan gue sudah merayakannya, adalah giliran gue merayakan hari lahir yang untuk kesekian kalinya. I'm the last in every year!

Bicara tentang ulang tahun, tentu gue memiliki pengalaman yang beda setiap tahunnya, dan tahun ini merupakan tahun paling khusuk dimana gue harus merayakannya sendirian, seorang diri, mengingat kerjaan yang tidak memungkinkan untuk gue tinggalkan sehingga sejak perayaan hari Natal kemarin, gue pun harus sendiri dan juga jauh dari keluarga.

Ketika jaman ABG, tentu ritual ulang tahun yang gue rasakan sangat berbeda dengan tahun-tahun sekarang. Selalu merayakannya bersama teman-teman, dan keluarga pun menjadi nomor kesekian. Maklum, masa-masa itu adalah masa paling rusuh dan inginnya selalu menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-teman, terlebih hari ulang tahun gue berdekatan dengan malam pergantian tahun.

Pada saat di umur yang sekarang, gue justru mulai memaknai ulang tahun sebagai titik balik kehidupan yang telah gue raih. Hingar bingar dan keriaan ulang tahun bersama segerombolan teman pun bukanlah menjadi prioritas utama gue dalam menghabiskan hari spesial gue tersebut. Terlebih di hari ini. Meskipun tanpa keluarga, sendiri pun gue tetap bersyukur.

Dengan adanya perjalanan hidup gue yang sudah lebih dari sepuluh tahun jauh dari keluarga, gue mulai belajar berevolusi dalam mendewasakan diri. Kembali dalam memaknai hari ulang tahun, di tahun ini, gue hanya bisa mensyukuri semua kejadian-kejadian (susah-senang) yang diberikan Tuhan dalam setahun kemarin. Satu persatu pelajaran hidup dalam setahun kemarin, kembali gue kaji di pagi ini dan dijadikan sebagai kado terindah yang pernah gue miliki.

Sempatkah kita berpikir berapa kali dalam setahun kita menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" untuk teman, keluarga atau diri kita sendiri? Ulang tahun sering dimaknai dengan bertambahnya usia, panjang umur karena memang masih diberikan kesempatan untuk bertemu pada tanggal dan bulan yang sama meski ditahun yang berbeda.

Menjelang atau hari dimana gue memperingati bertambahnya usia, termaksud di hari ini, gue selalu ingat dengan sebuah kutipan dari Abraham Lincoln "...,Yang paling penting adalah bukan berapalama tahun yang sudah kamu lewati, tetapi bagaimana kamu menjalani kehidupanmu sepanjang tahun-tahun tersebut."

Bertambah usia berarti sisa hidup kita untuk berdiri di muka bumi ini semakin berkurang, kesempurnaan rohani dan jasmani pun semakin melemah akibat bergumul dengan setiap warna dan permasalahan yang diberikan dalam hidup. Inilah makna ulang tahun yang gue rasakan sekarang. Introspeksi diri!

Setiap individu tentu berbeda-beda memaknai arti ulang tahun. Mungkin bagi kita yang sudah kenyang dengan pengalaman hidup, memaknai hari kelahiran lebih sebagai sebuah neraca perjalanan kehidupan.  Introspeksi diri dijadikan sebagai bahan renungan untuk menata hidup ke depannya. Ya, kualitas hidup seseorang memang tidak bisa ditentukan dengan seberapa lama dia hidup, tetapi bila kita mau mengambil hikmah dari perjalanan di masa lalu, berkaca dari kesulitan dan kesuksesan yang sempat singgah di tahun sebelumnya, maka gue rasa itulah yang akan modal utama buat kita untuk mencari tahu siapakah dibalik penentu kekalahan dan kemenangan, dan kepada siapa umur kita yang kemarin dipertanggung jawabkan.

Usia bisa kita umpamakan seperti sepotong kayu yang dibakar api. Jika kayu itu sepanjang satu meter maka semakin lama kayu tersebut bukan semakin panjang, namun semakin pendek dan terus memendek, sampai akhirnya apipun mengakhiri pembakarannya.

Usia juga bisa kita umpamakan air dalam sebuah ember, tiap saat segelas demi segelas air dalam ember tersebut diambil, semakin hari maka isi air dalam ember tersebut akan habis dan emberpun menjadi kosong tak berisi. Banyak lagi perumpamaan yang dapat kita buat terkait dengan usia/umur. 

Dengan bertambahnya usia secara kuantitas maka secara kualitas kondisi fisikpun semakin menurun, semakin bertambah semakin menurun, tingkat penurunan kualitas fisik ada yang langsung drop and down, namun ada pula yang tampak begitu lambat penurunannya. Hal ini berkait erat dengan penyikapan hidup dan manajemennya atau bahasa simplenya gaya hidup seseorang. Begitulah kehidupan dan prosesnya

Kita kembali ke masalah utama ulang tahun. Ulang tahun bukan mengulang tahun yang sudah berlalu, namun ulang tahun adalah bertemunya penanggalan usia kelahiran namun pada tahun yang berbeda.

Saat seseorang merayakan ulang tahun, ia akan diberikan selamat berupa doa-doa, seperti panjang umur, sehat, rezeki, jodoh, anak dan lain-lain. Saat lagu ulang tahun dikumandang dengan syair panjang umurnya, lalu kita kaitkan dengan perumpaman diatas sebagaimana api memakan kayu bakar tadi tentu amatlah tidak cocok sekali, mengapa? Secara kuantitas memang usia bertambah, namun secara kuantitas juga ia berkurang. Secara kuantitas memang usia bertambah, namun secara kualitas kondisi fisik berkurang. Tiap orang tidak akan pernah tahu sampai usia berapa ia masih bisa bertahan hidup.

Nah, bagi orang-orang yang sadar tentunya mampu menjadikan moment ulang tahun sebagai media untuk merefleksikan kualitas diri, apakah usia hidup ini memberi manfaatkah untuk kehidupan? Semakin baikkah ibadah kita, sikap sosial kita kepada sesama, adakah perubahan yang lebih baik yang mampu kita  promosikan untuk kehidupan? Dengan banyak mempertanyakan kualitas dan sumbangan hidup untuk kebaikan akan memberi motivasi diri untuk membuat hidup dan kehidupan menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik dan pada akhirnya nanti bisa mengakhiri hidup dengan kebahagiaan.

Dengan memahami makna ulang tahun secara benar, seseorang akan mampu menghindari perayaannya secara berlebihan yang penuh dengan hura-hura dan semu tanpa makna dan perubahan, namun diisi dengan pemaknaan dan doa serta peningkatan kualitas diri.

Disini gue tidak berusaha untuk bersikap sok menggurui, sok bijak atau apalah julukannya. Gue cuma ingin berbagi pemikiran saja. Pemikiran dari seseorang yang ingin menata kembali kehidupannya agar bisa menjadi jauh lebih baik, amin.

Dan tentunya agar semoga kita semakin bisa memaknai moment ulang tahun untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik. Well, Selamat Ulang tahun bagi kalian yang juga sedang berulang tahun sama dengan gue di hari ini, semoga sehat, sukses dan Tuhan senantiasa memberkati. May joy and happiness will surround you, today, tomorrow and always. Amen.

Salam.

Wednesday, December 25, 2013

Surviving Christmas.
















Is it true that most people have a miserable time?

Someone once said to me, that most people have a miserable time at Christmas. Now while this isn’t true for everyone, to me it highlights the gap between the hype and the reality for many people. Spending time with family over the Christmas period can re-ignite old difficulties and familiar patterns of relating. And any cracks in your relationships, deepen as you spend a greater amount of time together. It may be hard to admit to mixed feelings about spending time with family. You are supposed to look forward to it, but difficulties from the past often re-emerge at Christmas.

If you are on your own, Christmas can heighten feelings of loss and isolation. But, frankly speaking: It is NOT for me! I almost always spent Christmas Day alone, but at least I have work and keep busying myself with deadline. I could have visited my family, but I chose not to: I preferred to see my family at times other than Christmas, without the stress of holiday travel/ high expectations/ December in the Midwest. And I could have visited any number of friends who were having Christmas Day gatherings. But I didn’t. This time at the Christmas Eve, I'm wondering.. Maybe I loved spending Christmas Day alone, or maybe I'm too indie to celebrate this day?

Christmas Day was my day of peace and quiet. Christmas Day was the day I spent reading books people had given me, watched any of my favorite Christmas Movies, listening to CDs people had given me, eating leftovers from Christmas Eve dinner. I’d talk to friends and family on the phone… but otherwise, Christmas Day was the day that I fed my introverted brain with all the downtime it wanted.

Here’s the reason I bring this up:


The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the way other people reacted to it. The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the expectation that of course you want to spend Christmas Day with family and/ or friends… and that you were a big sad loser if you spent it alone. The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the cultural trope that the only possible reason anyone would spend Christmas Day alone was that they had no family, no friends, nobody who cared about them, no other choice. 

I remember in particular one phone conversation I had on one particular Christmas Day. I was doing the rounds of Christmas phone calls, and one of the people I was talking to asked what I was doing that day. I said that I was just hanging around reading books and eating leftovers. And they said, in a voice filled with horror and shock, “ALONE?!? You’re not spending Christmas alone, are you?” - Up until that moment, I’d felt fine about spending Christmas alone. I’d felt more than fine about it. I’d felt positive and happy about it. I’d been looking forward to my Christmas day alone almost as much as I’d been looking forward to my Christmas Eve of food and festivity and boisterous social chaos. But as soon as I heard, “You’re not spending Christmas alone, are you?”, I suddenly felt ashamed. I actually wound up lying, just to stop the horrified sympathy: I told them I was alone at the moment, but had plans to go visit friends later in the day. This person’s concern — and I do think it was genuine, well-meaning concern — about me not being a big sad loser on Christmas… it was exactly the thing that made me feel like a big sad loser. (And if I had, in fact, felt sad about being alone on Christmas Day, this would have made me feel even worse.)

I know, from what I’ve been told, that I’m not the only one to feel pressured about not spending Christmas alone. I know that this pressure to not spend Christmas alone is felt even by people who don’t care about Christmas. Even people who don’t come from a Christian background, religiously or culturally, get hit with this “You’re not spending Christmas alone, are you?!?!” thing. And I know I’m not the only one who’s been made to feel ashamed about spending Christmas alone, even if they personally were fine with it.


So I want to say two things:


One: If you have people in your life who may be spending Christmas alone — please don’t make them feel bad about it. Sure, extend an invitation if you’re having a gathering. But please don’t frame it with, “You don’t have to spend Christmas alone.” Please don’t frame it with the “You don’t have to be a big sad loser who can’t even find anyone to cadge an invitation from on Christmas” trope. Please don’t frame it as “You poor thing, we’ll invite you to join us out of charity.” Frame it as, “We would love to have your company if you’d like to join us.” (And if they say “No, thank you” accept it.)


And two: If you’re spending Christmas Day alone, I hope you have a good one. Whether you care about Christmas, or you don’t give a damn about Christmas and as far as you’re concerned today is Wednesday and why the hell are all the stores closed… I hope you have a great day today, on these Christmas Day.

Well, to those who celebrate it, HAVE A VERY MERRY CHRISTMAS!

Friday, August 30, 2013

Nyinyir = Idealisme Berlebihan dan Budaya Permisif.


"Di dunia ini, barangkali tidak ada hal baik yang direspon dengan sempurna positif. Hal yang paling benar sekalipun, yang ditujukan untuk kemaslahatan umum, dan meski sudah dikuatkan dengan justifikasi yang bertanggungjawab, selalu menyisakan reaksi-reaksi negatif."

Jika kita sedang dalam kerumunan bersama teman–teman, terus ada orang lewat yang dengan sengaja memamerkan segala kelebihannya dari tampilan fisik juga yang melekat pada tubuhnya yang serba WOW itu –walaupun orang itu tidak merasa ingin diperhatikan dan terkadang manusia berpakaian dan berpenampilan sedemikian rupa hanya untuk merasa nyaman dan pede aja– apa yang terlintas dalam pikiran kita? Pasti kita nggak bisa menahan gerakan mulut kita untuk ngomongin si manusia yang barusan lewat itu. Gosip. Adalah hal biasa bagi setiap orang, khususnya pada wanita atau lelaki yang kewanita-wanitaan (Maybe). Tapi saking asyiknya ngegosip, ujung–ujungnya malah jadi pada nyinyir. Dan bumbu nyinyir itu enak banget rasanya. Bagaikan sayur tanpa garam, kalo gosip nggak dibumbui dengan nyinyir, akan berasa ada yang hambar kali ya. Wait! Enak? Yeah, enak buat yang nyinyir tapi engga buat mereka yang dijadikan objek nyinyir.

Kenapa sih orang banyak sekali yang nyinyir? Gini deh, kenapa sih orang Indonesia banyak banget yang senang ikut campur atau mengurusi urusan orang lain? Mungkin karena budaya di Indonesia ini cenderung berkelompok, berkoloni, sampai ada istilah untuk suku bangsa tertentu yang menyatakan, “Makan nggak makan, yang penting ngumpul”. Itulah, Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan, dan cenderung untuk memihak pada satu kelompok di mana ia berasal, sehingga rasa pembelaan terhadap kelompok itu sangat kuat. Senangnya ngumpul sambil membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan. Dan jika ada suatu hal yang berbeda, yang lain daripada yang lain, yang tidak sama dengan apa yang ada di kelompoknya, maka itu akan menjadi hal yang mengusik perhatiannya dan menimbulkan anggapan tersendiri. Terus apa hubungannya dengan nyinyir?

Nyinyir atau sinis biasanya diutarakan dalam bentuk pernyataan atau perkataan terhadap suatu hal yang dirasa menarik perhatian. Mungkin ada kecenderungan si orang yang nyinyir tersebut iri kepada orang yang dia “nyinyiri”, merasa lebih dari orang lain, sehingga jika ada orang yang melebihi dirinya dalam segala hal apalagi jika orang yang bersangkutan itu tidak disangka– sangka bahwa dia punya kelebihan itu maka dia akan merasa tersaingi hingga menimbulkan rasa tidak suka, atau dalam kondisi yang lebih parah, dia memulai permusuhan dengan orang tersebut, baik melalui kata–kata yang bisa menjatuhkan mental, atau pun melalui gerakan tubuh juga tindak–tanduk yang jelas menunjukkan bahwa dia tidak suka. Dan nyinyir ini biasanya muncul saat seseorang yang bersangkutan itu mendapati sebuah kejadian atau suatu hal yang mengganggu perhatiannya alias “gengges” banget buat dia, hingga dia akan merasa puas jika sudah menyalurkan kata–kata nyinyirnya itu, baik melalui teman–temannya, atau social media. Ya! Penyakit bangsa Indonesia yang sedang booming saat ini adalah nyinyir lewat social media.

Coba perhatikan, jika kita termasuk yang aktif menggunakan jejaring Facebook dan Twitter bahkan Path, jejaring sosial yang cukup banyak digunakan oleh orang Indonesia. Kita sering menemukan status–status yang isinya marah–marah, menggerutu sama orang, nyindir orang, ataupun meledek sinis terhadap apa yang seseorang lakukan, bahkan kata–kata itu sangat lebih dari cukup untuk mewakili kebodohan–kebodohan yang dilakukan oleh orang–orang di sekitarnya. Bukan kah ini sebuah penyakit? Nyinyir berlebihan itu adalah penyakit hati!
 
Kita cukup banyak menyaksikan kesalahan dan kebodohan orang–orang di sekitar kita, kita punya pendapat tersendiri tentang segala hal, dan kita merasa orang lain kebanyakan salah. Pendapat kita lah yang lebih baik. Namanya juga manusia. Boleh saja punya anggapan demikian, asal pendapatnya masuk akal, disampaikan dengan maksud memberi teguran atau memperbaiki kesalahan seseorang, tapi alangkah bijaknya jika menyampaikan hal tersebut dengan kata–kata yang sopan agar tidak menyinggung pihak–pihak tertentu. Saya menulis tentang ini di blog, saya bisa dikatakan sebagai “orang yang punya pendapat sendiri tentang segala hal” itu, tapi setidaknya saya masih berobservasi dan berusaha menyusun kata–kata yang masih bisa dianggap sopan menurut saya. Bukannya sok bijak, tapi hidup ini kan bersosialisasi, dan tidak menutupkemungkinan bahwa suatu saat mereka yang kita nyinyirin itu lah yang akan membantu kita di saat susah atau lagi ada masalah. Hidup ini berputar kawan! Kadang diatas, kadang dibawah. Jangan terlalu sombong!

Entah apa yang menjadi alasan banyak orang menumpahkan kata–kata nyinyirnya lewat social media. Entah artis, pejabat, sutradara film, stand up comedian, doktor, professor, mahasiswa, pegawai kantoran, pelajar, bahkan kaum “underdog” pun masih bisa aja nyinyir. Ketidakpuasan, ketidaknyamanan, dan ketidakbersyukuran atas apa yang sudah dimiliki saat ini, merupakan alasan utama yang menghalalkan perilaku kenyinyiran sejauh yang saya amati. Tapi saya kurang tau, apakah dalam kehidupan nyata mereka selalu berkata nyinyir, ataukah hanya melampiaskannya lewat social media saja, khususnya Twitter. Yang saya tahu pasti, saya punya teman yang hobinya nyinyir blak–blakan right in front your face. Saya akui, cara pandang semacam ini bukan hal yang bagus untuk dibiasakan. Mungkin sudah bawaan manusia bahwa, ego untuk merasa lebih berharga dibanding yang strata sosialnya lebih rendah cenderung menguasai pola pikir yang sehat. Saya sendiripun tidak jarang terkuasai oleh ego dan ambisi itu. Itu memang tantangan bagi setiap orang yang berusaha, meski sedikit, untuk menyebarkan kebaikan dan hal positif, meski dalam taraf yang kecil.
 
Dalam pandangan saya, jika suatu idealisme hidup di tengah-tengah budaya permisif, maka idealisme akan cenderung dipandang negatif. Pola budaya permisif semacam ini, menurut saya, tidak boleh dilestarikan, atau malah dicarikan pembenaran. Bersosial pun ada hukumnya. Lain halnya jika kita hidup sendiri, atau mungkin memang ada seorang yang introvert dan anti sosial? Apa perlu saya bilang WOW terus koprol untuk pendapat seseorang yang lebih mirip kepada penghinaan?

Nyinyir, sayapun tak tahu persis apa kosa kata ini telah terdaftar secara resmi di KBBI atau belum. Tapi unik juga sih kalau mendengar kata ini, agak-agak lucu jika diucapkan, semacam ada rasa pedas bermakna keluhan bila mengaitkan kata ini untuk sebuah peristiwa atau kejadian yang menyebalkan.

Setelah saya cek di internet, ternyata nyinyir itu berarti mengulang-ulang perintah, atau dengan kata lain, cerewet. Sering kali kata ini saya dapatkan di internet, terutama twitter, kala seseorang dilihat cuma bisa ngomong doank, padahal kerja pun belum tentu bisa, kontribusi pun belum tentu ada. Dan mungkin fenomonena nyinyir sedang nge-trend sekarang ini, saat beberapa isu nasional maupun internasional sekalipun sedang asyik tuk di-nyinyir-in.
Semua hal di-nyinyir-in. Jabat tangan menteri komunikasi dengan ibu negara Amerika Serikat, nyinyir. Pedagang stasiun yang bersusah payah membela hak-haknya, nyinyir. Perda larangan berboncengan dengan duduk mengangkang, nyinyir. FPI yang menegakkan nahi mungkar, nyinyir. Bahkan berprasangka baik terhadap partai yang terkena kasus korupsi pun di-nyinyir-in, Gila.. sekedar berprasangka baik saja di-nyinyir-in. duh.

Nyinyir itu asyik, puas rasanya saat mengomentari seseorang yang terkenal bersih dan alim ternyata tersangkut kasus korupsi. Nyinyir itu sarana melampiaskan emosi, saat suatu hal berjalan tidak sesuai dengan kehendak dan pemikiran kita. Nyinyir itu mudah, cuma sekedar duduk santai mengeluh dan mengkritik segala hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, dimana disaat yang bersamaan orang-orang lain sibuk bekerja dan bertindak nyata. C'mon get a life and do something better!
Nyinyir itu budaya, karena sejak dulu leluhur kita memang terkenal sebagai seorang pujangga yang jago bersilat lidah. Sehingga banyak yang beralasan bahwa nyinyir adalah faktor keturunan. Benar juga sih, tapi saat nyinyir hanya bisa berdampak negatif, membuat orang emosi, dan memancing permusuhan, nyinyir tidak lebih dari aktivitas yang penuh kesia-siaan. Apalagi nyinyir-nya sudah sampai tingkatan ghibah, wah itu sudah masuk zona merah..
Mungkin karena nyinyir pula lah yang membuat Indonesia menduduki peringkat 5 besar pengguna Twitter terbanyak di dunia, apapun dikicaukan. Sehingga setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini walau sekedar nyinyir lewat Twitter-an. Bangga?

Ya,
Bangga kah kalian dengan budaya baru ini?


(Dirangkum dari http://anakaseliindonesia.wordpress.com dan http://tegarhamzah.blogspot.com.)

Saturday, July 13, 2013

Why Does God Test Us?

"Does God sometimes test our faith by letting hard times happen to us? If so, why does He do it? Doesn't He already know whether or not our faith is genuine?"

Sometimes God does test our faith, just as He tested the faith of the ancient Israelites by allowing them to go through hard times in the wilderness, "in order to know what was in your heart". Remember: If our faith is weak, it may not be obvious when life is going smoothly and we aren't challenged in any way. But when hard times come, a weak faith will be revealed for what it really is: shallow and unable to help us through life's difficulties. It may be anything: an unexpected illness, the death of a loved one, the loss of our job, or even a friend who turns against us. But when hard times happen, the true nature of our faith will be revealed.

But God doesn't test us because He doesn't know how strong we are, instead, He tests us because we don't know how strong we are. 

God tests us so we can experience victory. He walks in faith and believes we will win every test. He is like a proud parent who tells their child to "Go out there and show them what you can do," expecting them to win.
God allows us to enter into faith combat so we can see His deliverance and victory over our adversary. As we are faithful where we are (the test), God will give us a larger sphere of responsibility. -- and we'll only realize it when times of testing come. The psalmist prayed, "Search me, O God, and know my heart; test me and know my anxious thoughts".

None of us likes to go through hard times (and God isn't necessarily behind them, even if He does allow them). But God can use them to show us our weaknesses. And when that happens, we need to ask God to help our faith grow. Testing should make us spiritually stronger -- and it will as we turn it over to God. The Bible says, "Consider it pure joy, my brothers, whenever you face trials ... so that you may be mature and complete".

(http://www.billygraham.org)

Wednesday, July 10, 2013

Mukjizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia.




"Puasa itu juga bermanfaat u/ kesehatan. Jadi gak ada salahnya kita yang non-muslim ikutan berpuasa, loh. Ini tahun ke- 5 gue bertoleransi."

Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.

Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

Inilah 20 Mujizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia

1. Keseimbangan anabolisme dan katabolisme
Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

2. Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.
Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

3. Tidak berpengaruh pada sel darah manusia
Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia & tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

4. Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh
Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.

5. Pengaruh pada Ibu hamil dan menyusui
Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin.

6. Pengaruh pada janin saat ibu hamil berpuasa
Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.
Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total, low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), very Low density lipoprotein (VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D.

7. Penurunan glukosa dan berat badan
Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan. Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan. Tampaknya efek puasa Ramadhan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia.
8. Pengaruh pada fungsi kelenjar gondok
Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.
9. Pengaruh pada hormon virgisteron
Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

10. Bermanfaat Bagi Jantung
Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian "chronobiological" menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

11. Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel
Saat puasa terjadi perubahan dan konversi yang masif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan, sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang. Sehingga, memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi.

12. Sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin
Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

13. Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi peningkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalami kenaikkan pesat. Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apo-betta, menaikkan kadar apo-alfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah.

14. Penurunan berbagai hormon salah satu rahasia hidup jangka panjang
Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan penurunan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

15. Bermanfaat dalam pembentukan sperma
Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh kedua testis.

16. Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis
Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

17. Memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual
Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya.

18. Memperbaiki kondisi mental secara bermakna
Seorang peneliti diMoskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.

19. Peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia
Manfaat puasa bagi kehidupan psikososial memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya. Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.

20. Menurunkan adrenalin
Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. 

Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia. Selain umat Muslim, jadi gak ada salahnya kan bila kita ikutan berpuasa? Toh, buat kesehatan kita juga.


(Disalin dari www.kompas.com)

Monday, May 27, 2013

Ketika Cinta Datang Bukan Pada Waktunya.




Gue selalu percaya ada dua hal di dunia ini yang selalu menjadi misteri bagi manusia.. Pertama adalah kematian, dimana kita akan mati, bagaimana caranya kita mati dan seperti apa keadaannya saat kita akan menghadapi maut.. Semua tidak ada yang bisa mengetahui kecuali Tuhan. Dan yang kedua adalah jodoh.
Ya, jodoh ada ditangan -Nya!

Melihat orang jatuh cinta itu rasanya seperti melihat orang yang baru saja menemukan air setelah berpuluh-puluh hari berada di gurun pasir. Menyegarkan meskipun kadang ada beberapa pasangan yang terlalu berlebihan dalam mengekspresikan rasa tersebut. Apalagi jika orang yang jatuh cinta itu adalah diri kita sendiri. Tapi jangan salah, ternyata ada fenomena dimana jatuh cinta itu bukanlah suatu hal yang menyegarkan bahkan ironisnya bisa jadi jatuh cinta itu menghancurkan cinta lainnya. Ya, karena kadang cinta datang di waktu yang salah dan salah satu hati bahkan beberapa hati pun harus ada mengalah dalam waktu yang bersamaan sekaligus.

Jujur saja, gue sendiri pernah mengalami rasanya menjadi seseorang yang mesti mengalah terhadap keadaan. Masih jelas dipikiran gue, bagaimana rasanya menerima kenyataan harus mengubur perasaan yang gue miliki. Kecewa! Pada kenyataannya jika cinta itu datang di waktu yang salah maka harus ada hati lainnya yang mengalah. Entah itu gue, elo atau dia.

Kemarin, disaat hati gue sudah mantap untuk kembali dibuka dan berniat serius dengan seseorang yang sudah mencoba meyakinkan gue disaat trauma hubungan tiga tahun yang lalu gue masih ada (mengingat kandasnya hubungan terakhir gue sebelum ketemu si orang baru ini dikarenakan adanya orang ketiga), kenyataannya malah ketidakseriusan dari dialah yang gue terima dan kejadian serupa pun terjadi lagi. Dan kini, disaat perasaan takut itu kembali muncul, bahkan semakin kuat, ada cinta lain yang datang dan mencoba meyakinkan gue lagi. Bukan cuma satu, tetapi dua cinta datang dalam waktu yang bersamaan. Rasanya memang hampir tidak percaya, disaat gue terjatuh karena cinta, ada cinta-cinta lain yang datang secara bersamaan. Mungkin inilah yang sering dibilang kalau kebahagiaan dan kesedihan itu selalu berjalan berdampingan. Begitupun dengan cinta, dia sering kali datang pada waktu yang tepat namun dengan orang yang salah, dan bahkan sebaliknya.


“Ketika loe punya pacar dan suatu saat loe jatuh cinta sama seseorang, elo baru akan merasakan apa itu yang namanya cinta di waktu yang salah” ucap seorang teman.

Dulu gue hanya mengangguk malas dan tidak percaya mendengar ucapan teman gue itu. Sekarang, gue mulai kepikiran ucapannya. Cinta itu bisa datang kapan saja entah detik ini, hari ini, besok atau mungkin tahun depan dengan siapa orangnya tentu kita tidak akan pernah tahu.

Karena terkadang cinta itu datang di waktu yang salah, terlebih disaat elo harus dihadapkan diantara dua pilihan. Gagalnya hubungan, bukan serta merta gue lupakan dan tinggalkan begitu saja, tetapi gue coba untuk pelajari demi terciptanya hubungan baru yang jauh lebih indah. Dihadapkan dengan dua pilihan tidak membuat gue menjadi besar kepala, tetapi semakin membuat gue mawas diri. Kejujuran lah yang selalu gue jadikan modal utama saat berproses dalam menentukan pilihan ini. 

Dari sini gue pun semakin percaya kalau ada banyak cara yang diberikan Tuhan saat hendak mempertemukan kita dengan yang namanya "soulmate". Salah satunya mungkin kita harus dipertemukan dengan orang yang salah dulu sebelum yang benar datang. Gak usah terlalu keukeuh lah mencari pasangan hanya untuk mengisi kekosongan hati dan kesepian hidup elo! Being single is a freedom, yeah! Tetapi jangan karena istilah ini juga yang nantinya bisa membuat elo jadi salah kaprah. Kebebasan dan kebablasan itu bedanya tipis! Mencari apa yang dicari, menunggu apa yang ditunggu kadang saat dijalani memang cukup membosankan.. tapi bukan berarti kita harus hinggap dari satu tempat ke tempat yang lainnya hanya untuk meraba-raba dimana cinta kita yang sebenarnya, loh. Berproseslah dengan bijak, then live your life, do the best and be nice to everyone's around you.. We never know who's next! Itulah yang gue pegang sekarang dan thank's to God, I'm back to myself and away better to living my life.

Monday, April 8, 2013

Belajar Mengikhlaskan.





Mencintai adalah pekerjaan yang mulia, karena cinta cenderung melahirkan sifat kasih sayang kepada apa yang kita cinta. Sedangkan sifat “pengasih” dan “penyayang” itu sendiri adalah salah satu sifat Tuhan.

Mencintai akan membuat kita melakukan segala sesuatu yang membuat seseorang yang kita cintai merasa senang dan bahagia. Kita rela bersusah payah demi membahagiakan yang kita cinta. Kita rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan biaya demi mendapatkan dan memelihara cinta seseorang yang kita cintai tersebut. Pendek kata, demi cinta, katanya mati pun rela. Dari sini, kita pasti tahu bahwa subyek perasaan cinta pada pembahasan gue ini adalah subyek yang hidup, bukan benda mati atau sebuah status belaka.

Ketika kita mendengar kata "cinta" maka seringnya asosiasi kata itu ialah cinta kepada lawan jenis. Cinta kepada pacar atau kekasih, suami atau istri, meskipun sebenarnya obyek cinta itu sangat luas. Untuk kali ini mungkin kita tekankan pada emosi cinta pada kekasih atau orang yang spesial dan teristimewah di hati kita.

Membahas masalah cinta akan sangat panjang dan penuh perdebatan, karena arti "cinta" bagi setiap orang mungkin berbeda-beda. Namun kali ini yang akan gue bicarakan mungkin sering terjadi, atau mungkin kita sendiri juga pernah mengalaminya. Apa itu? Tidak lain adalah sebuah episode dari truelove story perjalanan cinta kita mencari pasangan hidup. Kalau dibuat film (yang kemungkinan besar bisa box office), judulnya adalah "Menghadapi Pengkhianatan Cinta" atau "My Love, Kenapa Kau Tinggalkan Daku?". No, I'm joking

Ketika kita sedang sepenuh hati mencintai seseorang, kemudian cinta kita berbalas cinta; tidak ditolak mentah-mentah. Dan si dia juga dari mulutnya sudah berkata bahwa perasaannya juga sama. Oh, indahnya dunia ini. Dua cinta berpadu, aneka bunga pun mekar di hati sepasang insan yang sedang kasmaran. Kasmaran: sejauh mana kau kejar cinta? Bila diteropong dengan kacamata empat dimensi maka akan terlihat di atas kepala mereka berdua beterbangan daun waru merah hati yang berkelap-kelip dan berputar-putar. Ada teman saya yang cintanya baru diterima maka hitam-hitam (pupil) di matanya tiba-tiba berubah menjadi warna pink dan bentuknya menyerupai hati (yang ini hanya fiktif belaka).
Ceritanya sekarang adalah ternyata seseorang (kekasih) yang sangat kita cintai tersebut tiba-tiba berkhianat (menduakan cinta kita, selingkuh, tidak setia atau apapun sebutannya itu). Tentu yang terjadi adalah broken heart; hati kita pun hancur berkeping-keping!

"Dia memang brengsek, bro! Padahal aku ini orang paling setia di dunia…”, demikian sumpah serapah seorang kawan yang lagi patah hati, atau "Sampai sekarang gue gak ngerti, koq bisa ya?" dan sudah pasti masih banyak lagi tanda tanya yang akan keluar dari mulut seseorang yang merasa cintanya sudah dikhianati.

Menurut seorang teman saya, dia berpendapat bahwa seorang "pengkhianat cinta", berarti dia tidak tahu makna sebenarnya tentang cinta itu sendiri. Dia tidak ingin berkomitmen dan tidak ingin terikat dengan cinta yang dia pegang, karena ingin mendapatkan keuntungan dari cinta yang dia tebar (ke orang lain). Dia tidak teguh pendirian dan tidak bisa melihat orang yang lebih indah dari pasangannya, atau bisa saja didukung dengan ketidakstabilan emosi yang dimilikinya.

Sementara itu, teman lain memiliki pendapat yang agak berbeda sebagai berikut. "Pengkhianat cinta"?, Pengkhianat itu orang yang menyalahgunakan kepercayaan. Menurutku pengkhianat cinta itu juga bisa ketika kita mencintai makhluk lebih daripada Penciptanya. Misal, setiap manusia diberi hati dengan rasa cinta karena Tuhan Yang Maha Penyayang, akan tetapi rasa itu diumbar secara berlebihan dan salah sasaran. Mencintai pacar secara berlebihan, jor-jor'an a.k.a kebangeten (berlebihan) sampai menomor sekiankan urusan lainnya. Cinta itu suci, tulus dan ikhlas. Jangan sampai ternoda deh! Kalau terlanjur, cepat perbaiki. Pengkhianat cinta mungkin nggak bisa disalahkan sepenuhnya, mungkin karena dia belum tahu seperti apa cinta itu. Sama halnya dengan cinta orang tua, mereka bekerja untuk kehidupan kita. Bahkan mereka tidak tahu apakah kita akan berbakti atau tidak, tapi mereka tetap mencintai kita dan berdoa yang baik-baik, padahal mungkin kita bolos sekolah, nakal, curang tentang uang SPP, bohong, apalagi sampai melakukan tindak kriminal… berarti kita juga sudah jadi pengkhianat cinta! Baik cinta kepada orang tua, juga cinta kepada Tuhan. Iya kan?”

Sebelum melangkah lebih jauh, kita sebutkan dulu beberapa penyebab seseorang berkhianat, menyeleweng atau selingkuh. Kalian pun boleh menambahkan sendiri:
  1. Kita kurang menjaga perasaannya
  2. Si dia mencari atau menemukan yang lebih baik atau lebih sempurna dari kita
  3. Si dia ingin sesuatu yang lebih dari apa yang sudah kita berikan
  4. Si dia sedang mencari sensasi baru
  5. Si dia bukan tipe pasangan setia
  6. Si dia memang sengaja melukai hati kita
  7. Si dia memang seorang buaya darat (untuk lelaki) atau buaya laut (untuk wanita)
  8. Dasar sifatnya playboy atau playgirl

Demikian mungkin beberapa alasan kenapa "si dia" yang sangat kita cintai membalas cinta kita yang tulus, suci, plus murni dengan sebuah pengkhianatan yang kejam dan tidak berperi kekasihsayangan. Oups!

"Mas, padahal aku sangat mencintainya. Aku mencintainya dengan sepenuh jiwaku. Ketika kami melakukan janji setia, langit dan bumi jadi saksinya. Bahkan dia memintaku untuk bersumpah setia atas nama Tuhan. Aku berpikir bahwa dialah jodoh sejatiku, tapi kenapa dia tega menduakan cintaku dan menghancurkan perasaanku?!"

Teman, mungkin begitulah kalau hati kita tertambat kepada seseorang. Kalau patah hati pasti menderita. Bagi kalian yang sudah biasa dikhianati mungkin tidak merasakan sakit lagi atau malah tidak percaya lagi dengan yang namanya "cinta".

Saya pikir pengalaman "dikhianati" seseorang yang kita cintai adalah merupakan salah satu berkah, rahmat atau hidayah dari-Nya agar kita mau menginsafi kesalahan dan melakukan instrospeksi diri. Ternyata Dia Maha Membolak-balikkan Hati, sehingga dalam hitungan detik bisa mengubah perasaan yang tadinya suka dan cinta dengan kita menjadi sebaliknya.

Jadi, jangan terlalu sedih atau terluka dengan pengalaman yang satu ini. Juga jangan membenci si dia yang telah mengkhianati cinta kita yang seputih salju Himalaya. Oups! Sakit hati karena dikhianati benar-benar akan menjadi ladang pembelajaran bagi kita dalam melatih emosi dan bersikap lebih dewasa. Pengalaman sakit hati akan membuat kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan jika kita mau belajar darinya.

Bicara masalah sakit hati karena dikhianati, bukannya saya tidak pernah mengalaminya. Justru pengalaman itu adalah pengalaman terpahit yang pernah saya alami. Namun, dari pengalaman itulah saya banyak mendapatkan pemahaman dan ilmu baru. Saya tidak tahu bagi kalian yang mengalami pengalaman yang sama, apakah bisa mengambil manfaatnya atau tidak. Tapi yang jelas hikmahnya selalu ada.

Dari masa sakit hati itu, adanya sahabat-sahabat sejatilah yang bisa menegarkan dan memberi arti indahnya persahabatan. Bila dikenang, hanya sahabat-sahabat sejati sayalah yang ternyata hadir dengan penuh perhatian dan memberi support mental yang luar biasa. Dari itu, terkadang sahabat adalah segalanya karena di satu sisi cinta kasih mereka lebih tulus dari kekasih kita yang sebenarnya. Dan sahabat ternyata selalu ada di saat kita benar-benar membutuhkannya. Selain mereka, keluarga juga merupakan media nomor satu untuk menyembuhkan diri dari perasaan kecewa ini.

Selanjutnya, berikut beberapa hal yang mungkin bisa kalian lakukan bila ternyata sudah menjadi takdir cinta kalian yang katanya tulus dan suci hanya mendapat balasan berupa sebuah pengkhianatan yang "menyakitkan". Saya sengaja memberi tanda petik pada kata menyakitkan, karena sesungguhnya itu hanya sebagai akibat penilaian (pemberian makna) pikiran kita secara subyektif. Jika kita belajar NLP (Neuro Linguistic Programming) maka akan dijelaskan bahwa sesungguhnya semua kejadian itu bersifat "netral", hanya pikiran kita saja yang menilai atau memberi "makna".

Ok, mari kita bahas satu per satu…!
Introspeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik

Mengatahui ternyata si dia yang sangat kita cinta koq bisa-bisanya meninggalkan kita dan berdua dengan orang lain harusnya disikapi dengan pemikiran bahwa ternyata diri kita bukanlah makhluk yang sempurna. Jika kita manusia yang sempurna, mana mungkin kekasih kita akan pergi meninggalkan kita dan menjalin cinta dengan orang lain. Kita seharusnya melakukan instrospeksi diri. Ternyata diri kita masih banyak kekurangannya sehingga tidak bisa mempertahankan cinta si dia kepada diri kita. Dari sini kita sama sekali tidak boleh bersikap sombong, meskipun secara fisik kita ini indah. Yang layak untuk sombong hanya Tuhan. Bukan begitu?

Setelah kita menganalisis kekurangan diri kita maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki diri agar kekurangan-kekurangan tersebut bisa kita minimalisir dengan kelebihan yang ada pada diri kita. Jadikan "sakit karena dikhianati" sebagai cambuk agar diri kita bisa menjadi lebih baik, secara lahir maupun batin.

Dalam proses perbaikan diri ini tidak usah kita mengharapkan si dia akan kembali pada kita, karena setelah dia berkhianat/berselingkuh maka kita tahu bahwa ternyata cintanya tidaklah murni.

"Tapi aku sangat mencintainya, Mas! Aku sangat menyayanginya!"

Tidak perlu diuraikan lebih jauh lagi ya, karena kalau sudah begini maka yang bicara adalah emosi. Dan kalau menuruti emosi maka tidak akan ada titik temunya.

"Kalau si dia mau tobat, bagaimana Mas?"

"Kalau dia mau tobat maka dia tidak akan mencari cintamu lagi. Dia hanya akan menemuimu untuk minta maaf, that's all!"

Memaafkan dan mengikhlaskan

Langkah selanjutnya ialah memaafkan dan mengikhlaskan, tidak hanya orangnya, tapi juga perbuatan si dia yang membuat luka di hati kita. Ini dimaksudkan agar kita bisa merelease emosi negatif berupa amarah, sakit hati maupun dendam dari hati kita, karena semua emosi tersebut adalah emosi yang akan sangat menghambat kemajuan diri kita. Orang yang menyimpan dendam cenderung akan sulit meraih kesuksesan karena semua emosi negatif tersebut akan menyedot energi psikis kita. Jadi, bukannya kita tambah bahagia, namun makin menderita.

Maafkanlah orang yang telah mengkhianati kita, karena memaafkan adalah akhlak yang dicontohkan Tuhan. Kalau tidak ada orang yang menyakiti hati kita maka kapan kita praktek langsung meneladani akhlak Tuhan, yakni memaafkan.

Ikhlaskanlah, karena sesungguhnya semua yang ada di dunia ini—termasuk orang yang menyakiti hati kita—juga adalah milikNya. Ikhlaskan kepergiannya dari hati kita agar tidak ada emosi negatif yang bersarang di hati dan menjadi sumber penyakit, baik lahir maupun batin.

Pernah beberapa tahun yang lalu ketika sedang merasakan sakit hati karena dikhianati, seorang kawan yang sedang pulang dari kuliahnya di Jakarta berkunjung dan berkata, "Bersyukurlah coy, itu tandanya Allah masih sayang sama kamu dan mau menunjukkan bahwa dia bukanlah yang terbaik untukmu. Untung selingkuhnya sekarang, coba kalau nanti ketika dia sudah jadi istrimu."
Yakinlah bahwa hukum karma itu ada

Kita tahu bahwa jika orang lain menyakiti kita sesungguhnya dia sedang menyakiti dirinya sendiri. Demikian juga jika menyakiti orang lain, sesungguhnya kita juga sedang menyakiti diri sendiri. Pendek kata, semua itu akan ada balasannya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Hukum karma atau hukum tebar-tuai menyatakan bahwa apa yang kita tebar maka itulah yang akan kita peroleh. Jika yang kita tebar adalah kejahatan, maka bisa dipastikan kejahatan juga yang akan menimpa kita. Begitu juga jika yang kita tebar adalah benih-benih kebaikan, maka kebaikan pula yang akan menghampiri kita, bahkan jumlahnya bisa berlipat ganda.

Sekedar berbagi pengalaman, ternyata bisa dibuktikan… Mantan kekasih yang pernah mengkhianati saya (telah saya maafkan) juga ditinggal kekasihnya (pacar barunya setelah saya) karena orang lain juga.

Karma… selalu ada balasan bagi setiap perbuatan atau tindakan yang berhubungan dengan diri dan perasaan orang lain. Oleh karena itu, hati-hatilah!

Sekedar untuk bahan renungan, dari kisah "pengkhianatan cinta" yang pernah saya alami (semoga tidak akan ada lagi setelah ini, amin..), ternyata mantan kekasih yang menjadi tokoh utama kisah tersebut sampai sekarang masih "sendiri". Sampai kapanpun, Saya percaya bahwa tipikal orang seperti ini tidak akan pernah berhenti mencari.

Mungkin benar ungkapan yang menyatakan hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Namun, menurutku 'cinta' yang dimaksud adalah cinta dari Sang Pemilik Cinta… Adakah manusia yang mencintai sesamanya demi mengharap kerido'an-Nya…?”

So, jangan pernah takut untuk disakiti, namun takutlah untuk menyakiti! Karena dari rasa sakit itulah, maka pelajaran baru pun akan kita terima, ya.. Belajar mengikhlaskan dengan tulus.

Menjadi Kesayangan Tuhan

Merasakan pedihnya cinta kita dikhianati mungkin akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan tak ingin terulang lagi. Namun, boleh jadi dengan cara itu Tuhan sedang mengingatkan kita (bagi yang mau sadar) agar tidak menambatkan seluruh cinta kita kepada sesama makhluk-Nya. Kita mencintai dengan sepenuh hati dan pengharapan, tapi justru si dia membalasnya dengan sebuah pengkhianatan yang memilukan.

Jika saja si dia tidak mengkhianati kita, belum tentu kita jadi ingat dengan Sang Pencipta.. So, jika realitas yang terjadi ternyata si dia berkhianat, mungkin itu sebuah sinyal agar kita segera mendekatkan diri ke Tuhan!

Untuk itu, jika kita sudah terlanjur dikhianati, jangan biarkan hati kita bersedih dan meratapi nasib. Namun, jadikan momentum itu sebagai sarana untuk menginsafi diri dan mendekatkan jiwa raga anda pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadikan setiap keadaan yang tidak nyaman atau menyakitkan sebagai ladang pembelajaran bagi kita untuk memahami kehidupan ini.

Ingat selalu kata bijak berikut ini:
Hal paling buruk yang terjadi terhadap anda mungkin merupakan hal paling baik yang pernah terjadi terhadap diri anda kalau anda tidak membiarkannya mengalahkan diri anda. ~ Napoleon Hill

Setelah ini, alangkah baiknya kita terus memperbaiki diri detik demi detik dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan karena Dia-lah sesungguhnya yang harus menjadi tumpuan cinta dan pengharapan kita. Dengan sekuat tenaga kita berusaha terus meningkatkan kualitas maupun kuantitas amal ibadah kita dan kita lakukan secara terus menerus (konsisten) sehingga pada akhirnya kita pun bisa menjadi "Kesayangan Allah". Jika kita sudah menjadi yang "disayang Allah" maka mungkin kita akan lebih kuat dalam menghadapi apapun cobaan yang datang.

Well, life must go on guys. Keep up the good spirit! 

(Based on a true story).