Showing posts with label Self Healing. Show all posts
Showing posts with label Self Healing. Show all posts

Thursday, May 21, 2015

Keputusanmu, Takdirmu!
























Dalam hidup kita pasti akan selalu dihadapkan pada banyak pilihan-pilhan. Bahkan tidak menutupkemungkinan jika pilihan-pilihan tersebut terkadang sangat dilematis. Bahkan jika pilihannya sangat pelik, akan membuat kita gamang dalam mengambil dan menentukan keputusan. Walau bagaimanapun, kita tetap diharuskan untuk menentukan pilihan dari pilihan-pilihan tersebut. Semakin tepat keputusan kita, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan dan keberhasilan yang nantinya akan diperoleh. Tetapi jika kita salah dalam mengambil keputusan, maka konsekuensinya kita pun harus mengorbankan "biaya" kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menentukan pilihan hidup tersebut. Well, our decision determines our destiny! Keputusan yang tepat adalah kunci keberhasilan.

Hidup adalah perjalanan dari satu keputusan ke keputusan-keputusan lainnya. Keputusan di masa lalu, akan berpengaruh terhadap kehidupan sekarang, dan keputusan sekarang akan berpengaruh terhadap kehidupan kita di masa depan. Rangkaian keputusan ini akan membentuk rute dan "benang" takdir yang harus kita lalui. Keputusan juga bisa menjadikan kita mampu dalam menentukan suatu rute dari sekian banyak rute yang harus dipilih dalam hidup.

Tuhan telah memberikan kebebasan kepada kita semua untuk menentukan jalan hidup yang harus kita tempuh, tetapi kehendak kita tersebut sudah pasti akan dibatasi dengan kehendak-Nya. Kita hanyalah makhluk yang bebas menentukan takdir masing-masing dalam naungan kehendak sang Pencipta. Takdir kita tidak akan berubah jika kita tidak mau merubahnya. Itulah mengapa nasih suatu golongan, juga individu tidak akan berubah jika bukan mereka sendiri yang mengubahnya.

Takdir kita dibentuk dari keputusan-keputusan hidup yang sudah diambil, yang sudah di "approve" oleh sang Pencipta. Dengan demikian, perbedaan nasib antara satu orang dengan orang lainnya adalah buah dari keputusannya masing-masing. Misalkan ketika seseorang sedang menghadapi cobaan hidup, maka dia akan dihadapkan pada dua pilihan, berani menghadapinya atau menyerah. Jika dia memilih untuk menghadapi cobaan tersebut, kemungkinan besar dia akan lulus dari cobaan tersebut, dan memperoleh derajat yang lebih tinggi. Tapi jika dia memilih yang kedua, maka kemungkinan besar dia akan berada pada kesulitan, penyesalan bahkan penderitaan. Atau ketika ada seorang sarjana yang baru saja menyelesaikan pendidikannya, dihadapkan pada dilema dalam pengambilan keputusan, apakah melanjutkan kuliah S2, mulai bekerja atau mulai berwirausaha. Tentunya setiap pilihan tersebut, akan memberikan corak takdir yang berbeda pada kehidupannya di masa depan.

Cobalah sejenak mengingat keputusan kita beberapa tahun yang lalu. Bayangkan jika anda memutuskan suatu hal yang berbeda dari keputusan yang sudah anda ambil, apakah anda akan seperti sekarang ini? Atau bisa sebaliknya, anda menyesal, dan tidak ingin seperti sekarang ini? Keadaan bisa saja berbeda. Bisa jadi lebih baik, atau bahkan bisa jadi lebih buruk. Bayangkan jika dulu anda memutuskan belajar disekolah yang berbeda, atau memutuskan untuk memulai suatu bisnis yang berbeda, atau memutuskan untuk tinggal di tempat atau kota yang berbeda, tentunya setiap keputusan tersebut akan berdampak pada keadaan anda disaat sekarang ini.

Saya yakin dan percaya bahwa keputusan-keputusan yang kita ambil didalam hidup, memiliki pengaruh besar terhadap takdir kita. Selebihnya, kehendak dan keputusan Tuhan lah yang nantinya akan menjadi pusat dan penentu dari segala keputusan. Saya percaya, Tuhan tidak akan merubah takdir kita, jika dari dalam diri kita sendiri tidak ada keinginan untuk mengubahnya. Merubah takdir adalah dengan cara membuat keputusan-keputusan hidup yang berkualitas. Ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk hidup sukses atau biasa-biasa saja, pilihan hidup sukses. Ketika kita dihadapkan pada pilihan hidup untuk menjadi kaya atau miskin, pilihlah kaya. Ketika dihadapkan antara menang atau kalah, maka pilihlah kemenangan. Semakin berkualitas keputusan-keputusan hidup kita, maka semakin berkualitas pula takdir kita. Sebaliknya, banyak orang yang asalnya sejahtera tiba-tiba hidup berkekurangan. Hal ini terjadi bukan karena keadaan yang membuatnya, tetapi karena keputusan-keputusan didalam hidup dia yang sebelumnya yang membuat dia menjadi demikian.

Banyak hal penting yang harus diputuskan dalam hidup. Keadaan kita saat ini adalah hasil dari keputusan kita di masa lalu. Jika ada orang yang lebih sukses dari kita, maka itu adalah buah dari keputusannya di masa lampau, atau sebaliknya, jika ada orang yang hidupnya lebih terpuruk dari kita, itu pun hasil dari keputusannya di masa lampau. Keputusanmu akan membangun takdirmu. Maka tentukanlah masa depan kita di dunia ini, maupun nanti di akhirat. Tentukanlah hal penting yang harus kita lakukan, dan apa yang paling bermakna dalam kehidupan kita. Jika kita mampu memutuskan sesuatu dengan baik, maka secara tidak langsung itu adalah pertanda bahwa kita mampu menguasai kehidupan kita dengan baik.

Putuskan sesuatu yang berkualitas didalam kehidupanmu mulai dari sekarang juga! Dengan usaha, dan tetap mendekatkan diri dengan Tuhan, anda dan saya bisa menjadi apapun yang kita putuskan. Amin!

Sunday, March 8, 2015

Menjadi Kaya Yang Sebenarnya.
















Saat ini, banyak individu yang memiliki gaya hidup defisit. Pengeluaran mereka lebih besar dibandingkan dengan pendapatan. Mereka memilih untuk hidup diatas kemampuannya. Kekurangan pendapatan karena besarnya budget bulanan terpaksa dipenuhi dengan pinjaman. Mereka yang memiliki gaya hidup extravaganza biasanya cenderung ingin memenuhi semua keinginan dan kebutuhannya diatas pendapatannya. Jika uang adalah kekuatan, mereka meminjam kekuatan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Alih-alih bukannya kesejahteraan yang mereka raih, tapi bebab-beban yang harus dihadapi di masa depan, termasuk hutang-hutang yang harus mereka lunasi.

Memang, manusia memiliki banyak sekali keinginan, bahkan karena banyaknya keinginan tersebut, ada anggapan bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas. Akhirnya kehidupan mereka pun tidak berkualitas. Orang-orang yang tidak bisa membayar tagihan telepon di akhir bulan, tidak bisa membayar tagihan kartu kredit, tidak bisa membayar cicilan rumah atau kendaraan bahkan yang masih ngontrak atau ngekos sekalipun masih sering keteteran dalam membayar sewa kontrakan secara tepat waktu, adalah mereka yang telah memutuskan untuk hidup diatas kemampuan mereka. Atau karena tiba-tiba pendapatan tidak stabil sehingga pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Hal ini pada akhirnya menimbulkan banyak kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Rumah atau mobil disita, dikejar-kejar debt-collector, disuruh keluar dari kontrakan atau kosan, dan masih banyak hal lainnya.

Dari semua rangkuman tersebut diatas, anda-kah salah satu dari mereka?

Salah satu cara terbaik dalam mengatasi masalah kendala anggaran adalah mengatur pengeluaran dibawah pendapatan. Gaya hidup yang memiliki pengeluaran dibawah pendapatan adalah kunci dari hidup yang sejahtera. Kita bahkan mungkin sering mendengar nasihat ini, tetapi pada kenyataannya tidak semudah menjalaninya. Hidup dibawah kemampuan adalah bagaimana memangkas pengeluaran dan terus meningkatkan pendapatan sehingga ada sebagian pendapatan yang bisa diinvestasikan.

Walaupun mengatur pengeluaran dibawah pendapatan bukanlah hal yang mudah, tetapi hal ini akan memberikan banyak manfaat terhadap kehidupan kita.

  • Kesempatan Untuk Menabung.

Ada tiga alasan utama seseorang membutuhkan uang. Pertama untuk konsumsi, kedua untuk berjaga-jaga, dan yang terakhir adalah untuk spekulasi, atau lebih tepatnya sebagai investasi. Jika merujuk pada alasan-alasan tersebut, mereka yang menghabiskan uangnya untuk konsumsi adalah mereka yang kehidupannya kurang efisien karena tidak memiliki kesempatan untuk menabung. Mereka juga memiliki kehidupan yang tidak berkualitas, karena tidak ada dana yang nantinya akan digunakan untuk berjaga-jaga maupun investasi.

  •  Kesempatan Untuk Investasi.

Jumlah uang yang ditabung, adalah sama dengan jumlah yang diinvestasikan. Maka ketika seseorang mampu menabung, berarti dia pun mampu berinvestasi. Mengapa ada kejadian yang menjelaskan bahwa orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin? Jangan salahkan pemerintah, orang kaya akan semakin kaya karena mereka memiliki sisa uang dari konsumsi untuk ditabung, sehingga bisa diinvestasikan. Sedangkan orang miskin semakin miskin karena mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk dikonsumsikan sehingga harus ditutupi dengan hutang. Mereka yang hidup diatas pendapatannya adalah mereka yang memiliki mental orang miskin, sedangkan mereka yang hidup dibawah pendapatannya adalah mereka yang memiliki mental orang kaya.

  •  Memiliki Dana Darurat.

Dalam hidup kita sering menghadapi ketidakpastian, dan didalam ketidakpastian tersebut terdapat resiko yang salah satunya adalah resiko munculnya keadaan darurat. Keadaan ini tentu saja bisa muncul dalam bentuk yang bermacam-macam yang memang sulit untuk diprediksi kapan datangnya dan seperti apa bentuknya. Demi menanggulangi keadaan darurat tersebut, maka kita pun harus memiliki dana darurat yang bisa kita gunakan ketika hal itu terjadi. Hidup pun akan semakin jauh lebih tenang ketika kita memiliki dana yang nantinya akan bisa digunakan ketika dalam keadaan yang mendesak.

  • Hidup Berkualitas.

Manakah yang anda pilih, kaya cepat tetapi hidup tidak berkualitas, atau kaya secara perlahan tetapi hidup berkualitas? Mereka yang memilih untuk membeli rumah, kendaraan mewah secara kredit ataupun menikmati liburan mewah dengan uang kredit adalah mereka yang tergesa-gesa dengan sesuatu yang mereka belum mampu untuk memilikinya. Seseorang yang membeli mobil secara kredit untuk dikonsumsi artinya dia menikmati sesuatu yang bukan miliknya, tetapi tetap harus membayar cicilan yang lebih mahal dibandingkan dengan harga mobil yang sebenarnya. Bunga dari cicilan tersebut adalah biaya untuk membayar ketergesa-gesaan dalam pemenuhan hasrat dan keinginannya. Akhirnya, dalam jangka beberapa tahun ke depan, dia hanya memiliki mobil hasil kredit yang membosankan, ketinggalan jaman atau sudah banyak yang rusak. Tetapi jika uang cicilan tersebut diinvestasikan, dan dia bisa bersabar untuk menangguhkan pembeliannya, kemungkinan besar dia akan bisa membeli dua atau tiga mobil dimasa depan. Mobil yang baru dan tentunya lebih bagus dari mobil kredit tersebut.

  • Kebebasan dan Keamanan Finansial.

Para pengusaha bekerja keras untuk meraih kebebasan finansial, sedangkan para pegawai bekerja keras untuk meraih keamanan finansial. Tetapi semua itu akan sia-sia jika kita masih memiliki gaya hidup defisit. Banyak pengusaha yang terjerat dengan hutang, dan banyak pegawai yang diakhir bulan, hanya menerima separuh dari gajinya. Akhirnya hidup pun menjadi sulit. Tapi jika mereka memilih untuk mengatur pengeluaran dibawah pendapatan, tentunya mereka pun akan mudah untuk meraih kebebasan dan keamanan finansial.

  • Menjadi Kaya Yang Sebenarnya.

Pada umumnya, semakin meningkat konsumsi seseorang, maka akan semakin tinggi pula hutangnya. Ada orang yang memiliki tingkat konsumsi tinggi, seperti memiliki mobil mewah, rumah mewah dsb, tetapi jika pendapatannya dikurangi dengan hutangnya hasilnya negatif. Hal ini adalah bentuk dari kekayaan yang semu. Dia akan kaya dengan tingkat konsumsi yang tinggi, tetapi dia kaya dengan kekayaan orang lain. Konsekuensinya dia harus mengembalikan kekayaan orang lain tersebut secara kredit dan tambahan bunga. Tetapi jika dia konsekuen untuk bisa menjaga agar tingkat konsumsi dibawah pendapatannya, menjaga agar tidak ada kegiatan konsumsi yang dipenuhi secara kredit, maka sudah dipastikan dia akan memiliki pola konsumsi yang sehat. Dan jika dia kaya, maka kekayaan yang dia miliki adalah bukan kekayaan yang semu, tetapi kekayaan yang sebenarnya.

Dari beberapa manfaat tersebut diatas, intinya adalah bagaimana agar kita memiliki kesempatan untuk menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk motif yang lain selain konsumsi. Jika seseorang mampu mengurangi presentasi konsumsinya dan menambah presentasi savingnya, tentu dia akan memiliki kesempatan lebih untuk berinvestasi dan berjaga-jaga. Dengan demikian dia akan mengalami pertumbuhan ekonomi secara personal, seiring dengan ketenangan hati.

Gaya hidup inilah yang akan menjadikan kita kaya yang sebenar-benarnya.


Dirangkum dari www.amhardinspire.com 

Tuesday, December 16, 2014

Renungan Menjelang Natal: Meneladani Kasih dan Semangat Natal Yang Sesungguhnya.

 















"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." (Filipi 2:5) 

Tidak terasa kita sudah hampir sampai pada pertengahan bulan Desember, dan sebentar lagi kita akan merayakan Natal. Ada yang sudah mengambil cuti dan sebentar lagi pergi berlibur bersama keluarga, atau bersiap-siap untuk merayakan Natal dengan pesta bersama keluarga atau teman-teman terdekat. Ada yang tukar menukar kado dan berbagai bentuk perayaan lainnya. Dekorasi di pusat-pusat perbelanjaan pun sebagian sudah penuh dengan ornamen-ornamen yang identik dengan sebuah perayaan Natal. Sebuah pertanyaan hadir dari seorang teman, salahkah jika kita merayakan Natal dengan pesta atau bentuk-bentuk perayaan lainnya? Tentu saja tidak.

Kelahiran Yesus sudah sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. KedatanganNya ke dunia ini membawa misi penting untuk menebus kita semua, sebagai bukti nyata betapa Tuhan mengasihi manusia dan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa. Ayat emas yang sudah tidak asing lagi bagi kita menuliskan isi hati Bapa akan kasih dan kepedulianNya terhadap diri kita.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

Sukacita hadir di dalam diri kita, dan sebagai manusia tentu kita akan merayakannya melalui berbagai kegiatan yang diisi dengan kegembiraan. Tapi kemudian, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta, tukar menukar kado, mendengar dan menyanyikan lagu-lagu Natal dari artis ternama serta hal-hal sejenis lainnya saja? Jika itu yang menjadi gambaran bagi kita, maka itu tandanya kita belumlah sepenuhnya mengerti apa yang seharusnya menjadi semangat Natal yang sesungguhnya.
 

Natal adalah saat dimana kita merayakan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita, Tuhan merelakan anakNya yang tunggal turun ke dunia ini, membuatNya turun mengambil rupa sama seperti kita untuk menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" (Ibrani 4:16), merasakan kedamaian berdiam dalam hadirat Tuhan. Ini adalah anugerah yang luar biasa yang bisa kita nikmati lewat penebusan Kristus. Mari kita lihat bagaimana cara Paulus menggambarkan hal ini dalam Filipi 2. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5)

Pertama, lihatlah bahwa Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Allah. Tapi meski demikian, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (ay 6-7), Yesus mengosongkan diriNya. Maknanya, Dia rela mengambil rupa seorang hamba dan dilahirkan seperti manusia.

Kedua, Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi kita semua manusia. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Ini semua Dia lakukan karena kasih yang begitu besar kepada kita. Dan bagi kita manusia yang telah ditebus, sudah seharusnya kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus kepada sesama kita pula. We should think the way He thinks. Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, karena itulah Natal ada. Jika Dia memikirkan nasib kita, tidak kah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga?
 

Lewat pertobatan kita meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh cacat dan diperbaharui dalam roh dan pikiran kita dan menggantikannya dengan sebuah hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan. (Efesus 4:22-24). Be constantly renewed in the spirit of your mind. Roh kita sudah diperbaharui, maka pemikiran kita pun sepatutnya mengikuti itu. Ironis sekali jika kita yang seharusnya sudah diubahkan menjadi manusia baru tapi masih juga belum bisa menanggalkan berbagai pola pemikiran lama, masih terpusat pada kepentingan dan hal-hal yang menyenangkan secara pribadi lalu tidak tergerak untuk memikirkan saudara-saudara kita lainnya yang tengah menghadapi pergumulan berat terutama menjelang peringatan turunnya Kristus ke dunia buat kita semua seperti saat ini.
 

Di saat kita tengah merencanakan dan mempersiapkan berbagai kegiatan seperti pesta, liburan ke luar kota atau ke luar negeri atau bentuk-bentuk perayaan lainnya, ada banyak saudara kita yang mungkin makan sehari sekali saja masih sulit. Ada banyak yang tengah meratap memohon belas kasih akibat beratnya beban hidup. Ketika Yesus sudah melakukan itu semua lewat kedatanganNya ke dunia ini, sudahkah kita merepresentasikan semangat Kristus itu? Apakah kita mau merendahkan diri kita juga untuk berkorban, melayani dan membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita? Itulah yang menjadi semangat Natal yang sesungguhnya. Tidaklah salah jika kita merencanakan berbagai perayaan dlaam menyambut kelahiranNya di dunia, namun jangan lupakan pula saudara-saudari kita yang tengah membutuhkan uluran tangan dari kita. Memasuki Natal tahun ini, marilah kita lebih peka dan peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak akan ada perayaan Natal jika Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus kita. Dia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib sehingga kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat jaminan keselamatan dalam kehidupan kekal. Demikian pula seharusnya kita bersikap.

Semangat Natal sesungguhnya adalah semangat yang meneladani Kristus, dimana kita mau meluangkan waktu, tenaga dan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu sesama kita yang menderita. Mereka pun ada dalam kasih Tuhan, mereka pun terlukis dalam telapak tanganNya dan tergambar dalam ruang mataNya. Tuhan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi kita. Dan jika Tuhan saja mengasihi mereka, kita pun sudah selayaknya mengasihi mereka juga. Membantu mereka yang kekurangan, membagi sukacita dan berkat kepada mereka, sehingga mereka bisa tersenyum dan dapat merayakan kelahiran Kristus bersama kita tanpa harus menangis lagi, itulah semangat Natal yang sesungguhnya. Mari masuki masa Natal dengan semangat Natal yang benar.

Merayakan Natal bukan lagi hanya sekedar untuk bertukar kado, membuat kue, mempercantik rumah, bahkan membeli baju baru, tetapi lebih dari itu, yakni berbagi kasih dengan sekeliling kita!

Monday, December 1, 2014

Waktu Terbaik Didalam Hidup: Saat Bersyukur!

Ini kisah seorang pria yang merasa gelisah akan hidupnya. Namanya Hardi. Dua hari ke depan, di bulan Januari ini, ia akan berumur 30 tahun. Ia gelisah karena sebentar lagi akan memasuki masa dekade baru dalam hidupnya dan cemas karena merasa masa-masa terbaik dalam hidupnya akan segera berlalu.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Hardi selalu menyempatkan diri berolahraga di gym. Di sana pula ia akan selalu berjumpa temannya yang bernama Nicholas. Usianya sudah 79 tahun, tapi kondisi tubuhnya masih sangat prima. Hari itu, Hardi tidak terlihat bersemangat. Hal ini pun diperhatikan oleh Nicholas, sehingga ia bertanya, "Apa ada masalah?" Hardi akhirnya bercerita soal kegelisahannya. Lalu, ia bertanya pada Nicholas, "Kapan waktu terbaik dalam hidupmu?" 

Tanpa ragu, Nicholas menjawab, "Saat aku masih kecil dan tinggal di kampung halaman, saat aku dibesarkan dengan kasih sayang oleh orangtuaku, itulah masa terbaik dalam hidupku. 

Saat aku mulai bersekolah dan belajar segala hal yang sekarang aku ketahui, itu juga masa terbaik dalam hidupku. 

Saat aku diterima kerja pertama kalinya dan punya tanggung jawab serta digaji atas kerja kerasku, itulah waktu terbaik dalam hidupku. 

Saat aku bertemu istriku dan jatuh cinta, itu juga waktu terbaik dalam hidupku. 

Saat pecah perang, aku dan istri harus mengungsi demi menyelamatkan hidup kami. Saat kami tetap bersama-sama dan selamat di sebuah kapal menuju tempat tinggal yang baru, itulah waktu terbaik dalam hidupku. 

Saat kami tiba di tanah harapan yang baru dan mulai membina sebuah keluarga, itu waktu terbaik dalam hidupku. 

Saat aku menjadi seorang ayah, melihat anak-anakku tumbuh besar, itulah masa terbaik dalam hidupku. 

Dan sekarang, Hardi, umurku 79 tahun. Aku masih merasa sangat sehat dan tetap merasa jatuh cinta pada istriku seperti pertama kali bertemu. Itu juga menjadi waktu terbaik dalam hidupku." 

Sahabat yang luar biasa, 

Sejatinya, tidak ada masa tertentu yang bisa menjadi masa terbaik dalam hidup ini. Jika kita mampu mensyukuri setiap momen yang sedang kita lewati dengan cara mengerahkan segenap tenaga, hati, dan pikiran terhadap apa pun yang kita lakukan, maka kita akan mendapatkan waktu terbaik dalam hidup. 
Karena itu, mari kita berjuang untuk merasakan masa terbaik dalam hidup kita mulai hari ini juga!
Sumber: www.http://r0edin.blogspot.com

Saturday, November 15, 2014

Wisuda dan Maknanya.

























Pada saat ini, hampir semua instansi pendidikan mulai dari TK sampai perguruan tinggi (Diploma, S1, S2 dan S3) melaksanakan suatu kegiatan pelepasan para siswa atau mahasiswanya. Kegiatan yang rutin dilakukan sering kita sebut dengan WISUDA.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "wisuda" memiliki arti peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan khidmat. Istilah wisuda sering dikaitkan dengan suatu prosesi (ceremonial) pelantikan mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliahnya di sebuah universitas, institur atau sekolah tinggi. Sebenarnya tidak hanya sekedar untuk mahasiswa saja. Seseorang yang telah lulus dalam menyelesaikan pendidikannya juga dapat juga menggunakan istilah wisuda ini. Misalnya ada anak-anak yang lulus Taman Kanak-kanak (TK), mereka juga dapat diwisuda apabila telah menyelesaikan masa belajarnya di  TK tersebut. Jadi kesimpulannya, istilah wisuda pada dasarnya tidak hanya digunakan untuk kalangan mahasiswa melainkan dapat digunakan untuk siapa saja yang telah lulus/selesai menempuh pendidikannya.
 
Wisuda merupakan bahasa Indonesia serapan yang berasal dari bahasa Sansekerta. Yang artinya amat suci, amat sempurna atau bersih. Jika dikaitkan dengan arti tersebut, maka makna yang terkandung dalam kata wisuda adalah seseorang yang diwisuda diharapkan menjadi insan yang sempurna, suci dan bersih. Terlepas dari itu semua, wisuda (dalam lingkup akademis mahasiswa) sebenarnya merupakan tonggak awal untuk memulai kehidupan dengan menerapkan ilmu yang selama ini dipelajari. Jadi yang dimaksud selesai adalah pendidikannya, tapi penerapan ilmunya barulah dimulai.

Wisuda bukan hanya prosesi pelantikan dan penyematan gelar semata (entah itu gelar lulusan, alumni, ahli madya, sarjana, masgister, doktor atau apalah, atau gelar lainnya). Tapi merupakan penyematan tanggung jawab yang lebih besar. Ya tentunya tanggung jawab moral akan ilmu yang selama ini diperoleh di bangku kuliah untuk diterapkan agar berguna bagi diri sendiri maupun orang lain. Yang penting dalam wisuda bukanlah semangat perayaannya, tapi semangat untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dengan ilmu yang ada di tangan kita lah yang sesungguhnya penting. Masa depan yang baik untuk diri sendiri, masa depan yang cerah untuk keluarga, masa depan yang menyejahterakan masyarakat.

Saat wisuda setiap mahasiswa pasti mengenakan toga, dan pada akhirnya tali toga itu akan dipindahkan arah. Namun apakah kita  semua tahu mengapa tali toga itu yang ada di sebelah kiri akan dipindahkan ke bagian kanan?

Toga sendiri merupakan simbol bahwa mahasiswa sudah dianggap lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat. Tali toga yang pada awalnya ditaruh di samping kepala sebelah kiri dan oleh rektor akan dipindahkan ke bagian kanan.

Tali toga pada sebelah kiri artinya saat menjadi mahasiswa, bagian otak yang dipakai mahasiswa kebanyakannya adalah otak kiri dimana otak itu berhubungan dengan bahasa juga hafalan. Ketika tali toga dipindahkan dari samping kiri kesamping kanan, itu diartikan agar setelah lulus para wisudawan tidak hanya menggunakan otak kirinya, melainkan harus lebih banyak menggunakan otak kanan. Otak kanan itu sendiri berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas juga inovasi seseorang. Hal ini juga berhubungan dengan jenis pekerjaan yang harus dipilih oleh para lulusan.

Yang diharapkan setelah lulus adalah mereka para wisudawan tidak hanya menggunakan otak kiri yang hanya bekerja pada orang lain, tapi harus bisa berpikir kreatif, imajinatif dan inovatif dan menggunakan otak kanan untuk menciptakan pekerjaan sendiri. Arti dari semuanya adalah supaya para lulusan bisa berwirausaha dengan baik dan tidak hanya mengandalkan bekerja pada orang lain.


Maka marilah kita merenungkan apa yang akan kita lakukan setelah kita menjalani prosesi wisuda. Apa yang telah terjadi tidak mungkin bisa dirubah, karena waktu tidak pernah bisa berkompromi dengan manusia. Seperti kata pepatah "Dengan waktu sedetik kita bisa membeli batangan emas, namun batangan emas tidak akan bisa untuk membeli waktu sedetik". Untuk itu janganlah pernah menyesali masa lalu, kita harus mengerti bahwa hidup dalam bayangan masa lalu adalah sia-sia.


Demikian juga kita tidak perlu mencemaskan masa depan. Orang-orang yang mencemaskan masa depan adalah orang-orang yang tidak mempunyai rasa percaya diri. Yang akhirnya, tidak jarang membuat mereka mencari tahu masa depannya dengan mengunjungi para tukang ramal. Apabila si tukang ramal mengatakan masa depannya baik membuat mereka siang malam menunggu datangnya hari keberuntungan itu tanpa mau berusaha dengan maksimal. Sebaliknya, apabila kata si tukang ramal bahwa nasib telah menggariskan masa depannya tidak cerah alias tidak punya masa depan maka mereka pun tak segan-segan mengeluarkan uang yang banyak untuk mengubah masa depan buruk menjadi baik dengan berbagai ritual yang harus dilakukan. Dan ini sering dijadikan oleh tukang ramal untuk mendapatkan banyak uang dengan menjual atas nama ilmu berubah nasib yang ia miliki. Ingatlah, masa depan bukanlah nasib yang telah digariskan kepada setiap manusia apalagi ada ditangan tukang ramal.


Ada satu pepatah lagi yang kurang lebih berbunyi: "Walaupun nasib kita digariskan sebagai raja kalau kita tidak berusaha selamanya tetap tidak akan bisa menjadi raja. Sebaliknya walaupun nasib kita digariskan sebagai pengemis jika kita bekerja keras pasti tidak akan jadi pengemis".


Kekuatan untuk membangun kesuksesan ada pada saat ini, bukan pada saat berikutnya atau saat sebelumnya. Kebahagiaan hidup ada pada saat mengerjakan apa yang dapat kita kerjakan saat ini. Bukan mengerjakan apa yang dapat kita kerjakan pada saat sebelumnya atau sesudahnya. Dan kesuksesan hidup terletak pada apa yang kita lakukan sesuai dengan keinginan hati. Seberapapun kerasnya kita bekerja jika kita kerjakan dengan hati yang senang akan terasa ringan. Demikian juga sebaliknya, seringan apapun pekerjaan yang kita lakukan bila tidak sesuai dengan keinginan hati akan terasa berat.

Bagi yang baru diwisuda, selamat untuk kelulusan sarjana, magister maupun doktornya ya!

Selamat kembali ke kehidupan yang sebenarnya, kawan!

Dirangkum dari: http://unik.kompasiana.com dan https://irvanhabibali.wordpress.com.

Friday, September 12, 2014

Be Your Own Hero!

Menolong (help) adalah membuat sesuatu menjadi mudah bagi seseorang, atau membuat seseorang menjadi mudah dalam melakukan sesuatu. Menolong diri sendiri (self help) adalah membuat sesuatu menjadi mudah bagi diri sendiri, atau membuat diri sendiri menjadi mudah dalam melakukan sesuatu.

Dengan demikian pengertian “menolong diri sendiri” tersebut dapat kita pahami sebagai sebuah proses membuat sesuatu dapat diterima dengan mudah, dan proses membuat sesuatu dapat dilakukan dengan mudah. Tepatnya, diri sendiri menjadi lebih mudah menerima dan mudah melakukan sesuatu.

Sesuatu dapat diterima bila:
Pertama, sesuatu dapat disetujui secara kontent (berdasarkan isinya) dan kontekstual (berdasarkan kaitannya dengan hal-hal lain) oleh diri sendiri.
Kedua, sesuatu difahami sebagai sebuah kebenaran secara kontent dan kontekstual, meskipun dalam pelaksanaannya berakibat tidak menyenangkan bagi diri sendiri. Ketiga, sesuatu difahami sebagai sebuah situasi dan kondisi yang secara kontent dan konteks memberi peluang menguntungkan bagi diri sendiri untuk bergabung.

Sementara itu, sesuatu dapat dilakukan bila:
Pertama, sesuatu difahami sebagai sesuatu yang perlu, penting, berguna, bermanfaat, dan membahagiakan bagi diri sendiri.
Kedua, sesuatu difahami sebagai suatu situasi dan kondisi yang memaksa diri untuk melakukan sesuatu demi kepentingan diri sendiri.
Ketiga, sesuatu difahami sebagai bagian dari suatu proses yang sedang diperjuangkan oleh diri sendiri, sehingga sesuatu itu perlu dilakukan.

Menolong diri sendiri bukanlah konsep asosial, melainkan sebuah konsep yang sangat menghormati konteks sosial. Ketika seseorang sedang menolong dirinya sendiri, maka ia memerlukan orang lain sebagai mitra.

Orang lain yang berperan sebagai mitra tersebut berguna, untuk:
Pertama, pendorong diterimanya sesuatu, karena relevan dengan interaksi sosial yang sedang dibangun oleh seseorang (yang sedang menolong dirinya sendiri) dengan mitranya.
Kedua, pendorong diterimanya sesuatu, karena meskipun dalam pelaksanaannya berakibat tidak menyenangkan bagi diri sendiri, namun ternyata bermanfaat bagi mitranya.
Ketiga, pendorong diterimanya sesuatu, karena memberi peluang menguntungkan bagi diri sendiri dan mitra yang bersedia bergabung dengannya.
Keempat, pendorong dilakukannya sesuatu, karena sesuatu itu difahami sebagai sesuatu yang perlu, penting, berguna, bermanfaat, dan membahagiakan bagi diri sendiri dan mitranya.
Kelima, pendorong dilakukannya sesuatu, karena sesuatu itu difahami sebagai suatu situasi dan kondisi yang memaksa diri untuk melakukan sesuatu demi kepentingan diri sendiri dan mitranya.
Keenam, pendorong dilakukannya sesuatu, karena sesuatu itu difahami sebagai bagian dari suatu proses yang sedang diperjuangkan oleh diri sendiri dan mitranya, sehingga sesuatu itu perlu dilakukan.

diambil dari: http://sosiomotivation.blogspot.com

Wednesday, December 25, 2013

Surviving Christmas.
















Is it true that most people have a miserable time?

Someone once said to me, that most people have a miserable time at Christmas. Now while this isn’t true for everyone, to me it highlights the gap between the hype and the reality for many people. Spending time with family over the Christmas period can re-ignite old difficulties and familiar patterns of relating. And any cracks in your relationships, deepen as you spend a greater amount of time together. It may be hard to admit to mixed feelings about spending time with family. You are supposed to look forward to it, but difficulties from the past often re-emerge at Christmas.

If you are on your own, Christmas can heighten feelings of loss and isolation. But, frankly speaking: It is NOT for me! I almost always spent Christmas Day alone, but at least I have work and keep busying myself with deadline. I could have visited my family, but I chose not to: I preferred to see my family at times other than Christmas, without the stress of holiday travel/ high expectations/ December in the Midwest. And I could have visited any number of friends who were having Christmas Day gatherings. But I didn’t. This time at the Christmas Eve, I'm wondering.. Maybe I loved spending Christmas Day alone, or maybe I'm too indie to celebrate this day?

Christmas Day was my day of peace and quiet. Christmas Day was the day I spent reading books people had given me, watched any of my favorite Christmas Movies, listening to CDs people had given me, eating leftovers from Christmas Eve dinner. I’d talk to friends and family on the phone… but otherwise, Christmas Day was the day that I fed my introverted brain with all the downtime it wanted.

Here’s the reason I bring this up:


The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the way other people reacted to it. The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the expectation that of course you want to spend Christmas Day with family and/ or friends… and that you were a big sad loser if you spent it alone. The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the cultural trope that the only possible reason anyone would spend Christmas Day alone was that they had no family, no friends, nobody who cared about them, no other choice. 

I remember in particular one phone conversation I had on one particular Christmas Day. I was doing the rounds of Christmas phone calls, and one of the people I was talking to asked what I was doing that day. I said that I was just hanging around reading books and eating leftovers. And they said, in a voice filled with horror and shock, “ALONE?!? You’re not spending Christmas alone, are you?” - Up until that moment, I’d felt fine about spending Christmas alone. I’d felt more than fine about it. I’d felt positive and happy about it. I’d been looking forward to my Christmas day alone almost as much as I’d been looking forward to my Christmas Eve of food and festivity and boisterous social chaos. But as soon as I heard, “You’re not spending Christmas alone, are you?”, I suddenly felt ashamed. I actually wound up lying, just to stop the horrified sympathy: I told them I was alone at the moment, but had plans to go visit friends later in the day. This person’s concern — and I do think it was genuine, well-meaning concern — about me not being a big sad loser on Christmas… it was exactly the thing that made me feel like a big sad loser. (And if I had, in fact, felt sad about being alone on Christmas Day, this would have made me feel even worse.)

I know, from what I’ve been told, that I’m not the only one to feel pressured about not spending Christmas alone. I know that this pressure to not spend Christmas alone is felt even by people who don’t care about Christmas. Even people who don’t come from a Christian background, religiously or culturally, get hit with this “You’re not spending Christmas alone, are you?!?!” thing. And I know I’m not the only one who’s been made to feel ashamed about spending Christmas alone, even if they personally were fine with it.


So I want to say two things:


One: If you have people in your life who may be spending Christmas alone — please don’t make them feel bad about it. Sure, extend an invitation if you’re having a gathering. But please don’t frame it with, “You don’t have to spend Christmas alone.” Please don’t frame it with the “You don’t have to be a big sad loser who can’t even find anyone to cadge an invitation from on Christmas” trope. Please don’t frame it as “You poor thing, we’ll invite you to join us out of charity.” Frame it as, “We would love to have your company if you’d like to join us.” (And if they say “No, thank you” accept it.)


And two: If you’re spending Christmas Day alone, I hope you have a good one. Whether you care about Christmas, or you don’t give a damn about Christmas and as far as you’re concerned today is Wednesday and why the hell are all the stores closed… I hope you have a great day today, on these Christmas Day.

Well, to those who celebrate it, HAVE A VERY MERRY CHRISTMAS!

Friday, August 30, 2013

Nyinyir = Idealisme Berlebihan dan Budaya Permisif.


"Di dunia ini, barangkali tidak ada hal baik yang direspon dengan sempurna positif. Hal yang paling benar sekalipun, yang ditujukan untuk kemaslahatan umum, dan meski sudah dikuatkan dengan justifikasi yang bertanggungjawab, selalu menyisakan reaksi-reaksi negatif."

Jika kita sedang dalam kerumunan bersama teman–teman, terus ada orang lewat yang dengan sengaja memamerkan segala kelebihannya dari tampilan fisik juga yang melekat pada tubuhnya yang serba WOW itu –walaupun orang itu tidak merasa ingin diperhatikan dan terkadang manusia berpakaian dan berpenampilan sedemikian rupa hanya untuk merasa nyaman dan pede aja– apa yang terlintas dalam pikiran kita? Pasti kita nggak bisa menahan gerakan mulut kita untuk ngomongin si manusia yang barusan lewat itu. Gosip. Adalah hal biasa bagi setiap orang, khususnya pada wanita atau lelaki yang kewanita-wanitaan (Maybe). Tapi saking asyiknya ngegosip, ujung–ujungnya malah jadi pada nyinyir. Dan bumbu nyinyir itu enak banget rasanya. Bagaikan sayur tanpa garam, kalo gosip nggak dibumbui dengan nyinyir, akan berasa ada yang hambar kali ya. Wait! Enak? Yeah, enak buat yang nyinyir tapi engga buat mereka yang dijadikan objek nyinyir.

Kenapa sih orang banyak sekali yang nyinyir? Gini deh, kenapa sih orang Indonesia banyak banget yang senang ikut campur atau mengurusi urusan orang lain? Mungkin karena budaya di Indonesia ini cenderung berkelompok, berkoloni, sampai ada istilah untuk suku bangsa tertentu yang menyatakan, “Makan nggak makan, yang penting ngumpul”. Itulah, Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan, dan cenderung untuk memihak pada satu kelompok di mana ia berasal, sehingga rasa pembelaan terhadap kelompok itu sangat kuat. Senangnya ngumpul sambil membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan. Dan jika ada suatu hal yang berbeda, yang lain daripada yang lain, yang tidak sama dengan apa yang ada di kelompoknya, maka itu akan menjadi hal yang mengusik perhatiannya dan menimbulkan anggapan tersendiri. Terus apa hubungannya dengan nyinyir?

Nyinyir atau sinis biasanya diutarakan dalam bentuk pernyataan atau perkataan terhadap suatu hal yang dirasa menarik perhatian. Mungkin ada kecenderungan si orang yang nyinyir tersebut iri kepada orang yang dia “nyinyiri”, merasa lebih dari orang lain, sehingga jika ada orang yang melebihi dirinya dalam segala hal apalagi jika orang yang bersangkutan itu tidak disangka– sangka bahwa dia punya kelebihan itu maka dia akan merasa tersaingi hingga menimbulkan rasa tidak suka, atau dalam kondisi yang lebih parah, dia memulai permusuhan dengan orang tersebut, baik melalui kata–kata yang bisa menjatuhkan mental, atau pun melalui gerakan tubuh juga tindak–tanduk yang jelas menunjukkan bahwa dia tidak suka. Dan nyinyir ini biasanya muncul saat seseorang yang bersangkutan itu mendapati sebuah kejadian atau suatu hal yang mengganggu perhatiannya alias “gengges” banget buat dia, hingga dia akan merasa puas jika sudah menyalurkan kata–kata nyinyirnya itu, baik melalui teman–temannya, atau social media. Ya! Penyakit bangsa Indonesia yang sedang booming saat ini adalah nyinyir lewat social media.

Coba perhatikan, jika kita termasuk yang aktif menggunakan jejaring Facebook dan Twitter bahkan Path, jejaring sosial yang cukup banyak digunakan oleh orang Indonesia. Kita sering menemukan status–status yang isinya marah–marah, menggerutu sama orang, nyindir orang, ataupun meledek sinis terhadap apa yang seseorang lakukan, bahkan kata–kata itu sangat lebih dari cukup untuk mewakili kebodohan–kebodohan yang dilakukan oleh orang–orang di sekitarnya. Bukan kah ini sebuah penyakit? Nyinyir berlebihan itu adalah penyakit hati!
 
Kita cukup banyak menyaksikan kesalahan dan kebodohan orang–orang di sekitar kita, kita punya pendapat tersendiri tentang segala hal, dan kita merasa orang lain kebanyakan salah. Pendapat kita lah yang lebih baik. Namanya juga manusia. Boleh saja punya anggapan demikian, asal pendapatnya masuk akal, disampaikan dengan maksud memberi teguran atau memperbaiki kesalahan seseorang, tapi alangkah bijaknya jika menyampaikan hal tersebut dengan kata–kata yang sopan agar tidak menyinggung pihak–pihak tertentu. Saya menulis tentang ini di blog, saya bisa dikatakan sebagai “orang yang punya pendapat sendiri tentang segala hal” itu, tapi setidaknya saya masih berobservasi dan berusaha menyusun kata–kata yang masih bisa dianggap sopan menurut saya. Bukannya sok bijak, tapi hidup ini kan bersosialisasi, dan tidak menutupkemungkinan bahwa suatu saat mereka yang kita nyinyirin itu lah yang akan membantu kita di saat susah atau lagi ada masalah. Hidup ini berputar kawan! Kadang diatas, kadang dibawah. Jangan terlalu sombong!

Entah apa yang menjadi alasan banyak orang menumpahkan kata–kata nyinyirnya lewat social media. Entah artis, pejabat, sutradara film, stand up comedian, doktor, professor, mahasiswa, pegawai kantoran, pelajar, bahkan kaum “underdog” pun masih bisa aja nyinyir. Ketidakpuasan, ketidaknyamanan, dan ketidakbersyukuran atas apa yang sudah dimiliki saat ini, merupakan alasan utama yang menghalalkan perilaku kenyinyiran sejauh yang saya amati. Tapi saya kurang tau, apakah dalam kehidupan nyata mereka selalu berkata nyinyir, ataukah hanya melampiaskannya lewat social media saja, khususnya Twitter. Yang saya tahu pasti, saya punya teman yang hobinya nyinyir blak–blakan right in front your face. Saya akui, cara pandang semacam ini bukan hal yang bagus untuk dibiasakan. Mungkin sudah bawaan manusia bahwa, ego untuk merasa lebih berharga dibanding yang strata sosialnya lebih rendah cenderung menguasai pola pikir yang sehat. Saya sendiripun tidak jarang terkuasai oleh ego dan ambisi itu. Itu memang tantangan bagi setiap orang yang berusaha, meski sedikit, untuk menyebarkan kebaikan dan hal positif, meski dalam taraf yang kecil.
 
Dalam pandangan saya, jika suatu idealisme hidup di tengah-tengah budaya permisif, maka idealisme akan cenderung dipandang negatif. Pola budaya permisif semacam ini, menurut saya, tidak boleh dilestarikan, atau malah dicarikan pembenaran. Bersosial pun ada hukumnya. Lain halnya jika kita hidup sendiri, atau mungkin memang ada seorang yang introvert dan anti sosial? Apa perlu saya bilang WOW terus koprol untuk pendapat seseorang yang lebih mirip kepada penghinaan?

Nyinyir, sayapun tak tahu persis apa kosa kata ini telah terdaftar secara resmi di KBBI atau belum. Tapi unik juga sih kalau mendengar kata ini, agak-agak lucu jika diucapkan, semacam ada rasa pedas bermakna keluhan bila mengaitkan kata ini untuk sebuah peristiwa atau kejadian yang menyebalkan.

Setelah saya cek di internet, ternyata nyinyir itu berarti mengulang-ulang perintah, atau dengan kata lain, cerewet. Sering kali kata ini saya dapatkan di internet, terutama twitter, kala seseorang dilihat cuma bisa ngomong doank, padahal kerja pun belum tentu bisa, kontribusi pun belum tentu ada. Dan mungkin fenomonena nyinyir sedang nge-trend sekarang ini, saat beberapa isu nasional maupun internasional sekalipun sedang asyik tuk di-nyinyir-in.
Semua hal di-nyinyir-in. Jabat tangan menteri komunikasi dengan ibu negara Amerika Serikat, nyinyir. Pedagang stasiun yang bersusah payah membela hak-haknya, nyinyir. Perda larangan berboncengan dengan duduk mengangkang, nyinyir. FPI yang menegakkan nahi mungkar, nyinyir. Bahkan berprasangka baik terhadap partai yang terkena kasus korupsi pun di-nyinyir-in, Gila.. sekedar berprasangka baik saja di-nyinyir-in. duh.

Nyinyir itu asyik, puas rasanya saat mengomentari seseorang yang terkenal bersih dan alim ternyata tersangkut kasus korupsi. Nyinyir itu sarana melampiaskan emosi, saat suatu hal berjalan tidak sesuai dengan kehendak dan pemikiran kita. Nyinyir itu mudah, cuma sekedar duduk santai mengeluh dan mengkritik segala hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, dimana disaat yang bersamaan orang-orang lain sibuk bekerja dan bertindak nyata. C'mon get a life and do something better!
Nyinyir itu budaya, karena sejak dulu leluhur kita memang terkenal sebagai seorang pujangga yang jago bersilat lidah. Sehingga banyak yang beralasan bahwa nyinyir adalah faktor keturunan. Benar juga sih, tapi saat nyinyir hanya bisa berdampak negatif, membuat orang emosi, dan memancing permusuhan, nyinyir tidak lebih dari aktivitas yang penuh kesia-siaan. Apalagi nyinyir-nya sudah sampai tingkatan ghibah, wah itu sudah masuk zona merah..
Mungkin karena nyinyir pula lah yang membuat Indonesia menduduki peringkat 5 besar pengguna Twitter terbanyak di dunia, apapun dikicaukan. Sehingga setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini walau sekedar nyinyir lewat Twitter-an. Bangga?

Ya,
Bangga kah kalian dengan budaya baru ini?


(Dirangkum dari http://anakaseliindonesia.wordpress.com dan http://tegarhamzah.blogspot.com.)

Saturday, July 13, 2013

Why Does God Test Us?

"Does God sometimes test our faith by letting hard times happen to us? If so, why does He do it? Doesn't He already know whether or not our faith is genuine?"

Sometimes God does test our faith, just as He tested the faith of the ancient Israelites by allowing them to go through hard times in the wilderness, "in order to know what was in your heart". Remember: If our faith is weak, it may not be obvious when life is going smoothly and we aren't challenged in any way. But when hard times come, a weak faith will be revealed for what it really is: shallow and unable to help us through life's difficulties. It may be anything: an unexpected illness, the death of a loved one, the loss of our job, or even a friend who turns against us. But when hard times happen, the true nature of our faith will be revealed.

But God doesn't test us because He doesn't know how strong we are, instead, He tests us because we don't know how strong we are. 

God tests us so we can experience victory. He walks in faith and believes we will win every test. He is like a proud parent who tells their child to "Go out there and show them what you can do," expecting them to win.
God allows us to enter into faith combat so we can see His deliverance and victory over our adversary. As we are faithful where we are (the test), God will give us a larger sphere of responsibility. -- and we'll only realize it when times of testing come. The psalmist prayed, "Search me, O God, and know my heart; test me and know my anxious thoughts".

None of us likes to go through hard times (and God isn't necessarily behind them, even if He does allow them). But God can use them to show us our weaknesses. And when that happens, we need to ask God to help our faith grow. Testing should make us spiritually stronger -- and it will as we turn it over to God. The Bible says, "Consider it pure joy, my brothers, whenever you face trials ... so that you may be mature and complete".

(http://www.billygraham.org)

Wednesday, July 10, 2013

Mukjizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia.




"Puasa itu juga bermanfaat u/ kesehatan. Jadi gak ada salahnya kita yang non-muslim ikutan berpuasa, loh. Ini tahun ke- 5 gue bertoleransi."

Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.

Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

Inilah 20 Mujizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia

1. Keseimbangan anabolisme dan katabolisme
Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

2. Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.
Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

3. Tidak berpengaruh pada sel darah manusia
Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia & tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

4. Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh
Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.

5. Pengaruh pada Ibu hamil dan menyusui
Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin.

6. Pengaruh pada janin saat ibu hamil berpuasa
Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.
Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total, low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), very Low density lipoprotein (VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D.

7. Penurunan glukosa dan berat badan
Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan. Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan. Tampaknya efek puasa Ramadhan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia.
8. Pengaruh pada fungsi kelenjar gondok
Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.
9. Pengaruh pada hormon virgisteron
Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

10. Bermanfaat Bagi Jantung
Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian "chronobiological" menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

11. Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel
Saat puasa terjadi perubahan dan konversi yang masif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan, sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang. Sehingga, memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi.

12. Sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin
Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

13. Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi peningkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalami kenaikkan pesat. Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apo-betta, menaikkan kadar apo-alfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah.

14. Penurunan berbagai hormon salah satu rahasia hidup jangka panjang
Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan penurunan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

15. Bermanfaat dalam pembentukan sperma
Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh kedua testis.

16. Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis
Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

17. Memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual
Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya.

18. Memperbaiki kondisi mental secara bermakna
Seorang peneliti diMoskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.

19. Peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia
Manfaat puasa bagi kehidupan psikososial memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya. Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.

20. Menurunkan adrenalin
Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. 

Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia. Selain umat Muslim, jadi gak ada salahnya kan bila kita ikutan berpuasa? Toh, buat kesehatan kita juga.


(Disalin dari www.kompas.com)