Showing posts with label Visual Aesthetics. Show all posts
Showing posts with label Visual Aesthetics. Show all posts

Wednesday, November 26, 2014

Blackberry Passport Please..















Ini dia spesifikasi lengkap BlackBerry Passport!
Setelah sekian lama rumor dan berita-berita beredar seputar BlackBerry Passport. Kali ini spesifikasi lengkap dan detail dari BlackBerry Passport akhirnya terungkap. 

Smartphone berbentuk kotak dari perusahaan asal Kanada ini memiliki spesifikasi yang keren.

BlackBerry Passport didukung layar 4,5 inci dengan resolusi 1440 x 1440 piksel berteknologi AMOLED. Layar iu memiliki kerapatan yang tingi yakni 453 ppi yang dilindungi oleh lapisan antigores Gorilla Glass 3. Dari segi tenaga, BlackBerry Passport mengusung prosesor yang kuat Qualcomm Snapdragon 800 quad-core berkecepatan 2,3GHz ditambah dengan RAM 3GB dan pengolah grafis Adreno 330, dilansir dari sidomi, Sabtu (23/8/2014).


Sektor kamera, BlackBerry Passport dibekali kamera utama 13 MP dengan aperture f/2.0 autofokus lengkap dukungan LED flash dan teknologi OIS (Optical Image Stabilization). BlackBerry Passport mendukung kebutuhan selfie dengan kamera depan 2 megapiksel. Selain itu, kamera utama yang gahar didukung oleh penyimpanan yang besar juga yakni 32GB dan bisa di perbesar menggunakan slot microSD.


Konektivitas BlackBerry Passport terbilang lengkap dengan dukungan WiFi, GPS/GLONASS, NFC, Bluetooth, 4G LTE, SlimPort (HDMI, VGA, DisplayPort), dan HSPA. BlackBerry Passport akan tetap bertahan dengan dukugan baterai 3450mAh yang bersifat non-removable atau tak dapat dilepas dan juga ribuan aplikasi blackberry terbaru.


Akankah BlackBerry mengulang kesuksesan perangkat ponsel mereka dengan BlacBerry Passport?


Tuesday, February 15, 2011

Masjid Istiqlal: Wujud Toleransi Umat Beragama


Pada tahun 1953 beberapa ulama mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai ibukota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan. Mereka adalah KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama-sama dengan H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir. Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH. Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Pada tanggal 7 Desember 1954 didirikan yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai oleh H. Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional), menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal. Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti Merdeka sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya yayasan masjid Istiqlal dan kemudian membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan Lokasi Masjid Istiqlal:

Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran. Sementara Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan Thamrin yang pada saat itu disekitarnya banyak dikelilingi kampung, selain itu ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit. Namun akhirnya Presiden Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda, karena di seberangnya telah berdiri gereja Kathedral dengan tujuan untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Sayembara Desain Masjid Istiqlal:

Setahun sebelumnya, Ir. Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid. Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof. Ir. Rooseno, Ir. H. Djuanda, Prof. Ir. Suwardi, Hamka, H. Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada tahun 1955 Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp. 75.000; serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara, namun dari seluruh peserta hanya 5 peserta yang memenuhi syarat:

 - F. Silaban dengan rancangannya “Ketuhanan”

- R. Oetoyo dengan rancangannya “Istighfar”

- Hans Groenewegen dengan rancangannya “Salam”

- Mahasiswa ITB (5 orang) rancangannya “Ilham 5”

- Mahasiswa ITB (3 orang) rancangannya “Chatulistiwa”

Setelah proses penjurian yang panjang dengan mempelajari rancangan arsitektur beserta makna yang terkandung didalamnya berdasarkan gagasan para peserta maka akhirnya pada 5 Juli 1955 atas perintah Presiden Soekarno memutuskan desain rancangan dengan judul “Ketuhanan” karya Frederich Silaban dipilih sebagai pemenang sebagai model dari Masjid Istiqlal.

Sang Arsitek Masjid Beragama Kristen:


Frederich Silaban adalah seorang arsitek beragama Kristen kelahiran Bonandolok Sumatera, 16 Desember 1912, anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Ia adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. selain membuat desain masjid Istiqlal ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan.

Pada tahun 1931 Silaban bekerja di kantor Kotapraja Jakarta sebagai juru gambar bangunan dan magang di biro arsitek milik warga Belanda. Dari sinilah cikal bakal Silaban mempelajari teknik arsitekturnya yang berciri khas gaya internasional.

Tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Silaban untuk bisa memenangkan lomba desain masjid. Karena Silaban beragama Kristen, jadi bukan tidak mungkin beliau tidak dipercayai untuk mendesain sebuah masjid ide Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim ketika itu. Dengan mengusung tema “Ketuhanan” akhirnya Silaban keluar jadi seorang pemenang. Ternyata, design yang ia ajukan disetujui oleh Presiden Soekarno.

Untuk menyempurnakan rancangan masjid Istiqlal F. Silaban mempelajari tata cara dan aturan orang muslim melaksanakan shalat dan berdoa selama kurang lebih 3 bulan dan selain itu ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia.

Awal Pembangunan Masjid Istiqlal:

Pada sekitar tahun 1950 hingga akhir tahun 1960-an Taman Wilhelmina di depan Lapangan Banteng dikenal sepi, gelap, kotor dan tak terurus. Tembok-tembok bekas bangunan benteng Frederik Hendrik di taman dipenuhi lumut dan rumput ilalang dimana-mana. Kemudian tahun 1960, di tempat yang sama, ribuan orang yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat biasa, pegawai negeri, swasta, alim ulama dan ABRI bekerja bakti membersihkan taman tak terurus di bekas benteng penjajah itu.

Setahun kemudian, tepatnya 24 Agustus 1961, masih dalam bulan yang sama perayaan kemerdekaan RI, menjadi tanggal yang paling bersejarah bagi umat muslimin di Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya. Untuk pertama kalinya, di bekas taman itu, kota Jakarta memiliki sebuah masjid besar. Sebuah masjid yang dimaksudkan sebagai simbol kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Padanan katanya dalam bahasa Arab berarti merdeka dan disepakati diberi nama Istiqlal sehingga jadilah, Masjid Istiqlal namanya.

Tanggal yang bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, dipilih sebagai momen pemancangan tiang pertama oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno yang ketika itu langsung bertindak sebagai Kepala Bidang Teknik.

Proses Panjang Pembangunan Masjid Istiqlal:

Seiring dengan iklim politik dalam negeri yang cukup memanas, proyek ambisius itu tersendat-sendat pembangunannya, karena berbarengan dengan pembangunan monumen lain seperti Gelora Senayan, Monumen Nasional, dan berbagai proyek mercu suar lainnya. Hingga pertengahan tahun ‘60-an proyek Masjid Istiqlal terganggu penyelesaiannya. Puncaknya ketika meletus peristiwa G 30 S/PKI tahun ‘65-’66, pembangunan Masjid Istiqlal bahkan terhenti sama sekali.

Barulah ketika Himpunan Seniman Budayawan Islam memperingati miladnya yang ke-20, sejumlah tokoh, ulama dan pejabat negara tergugah untuk melanjutkan pembangunan Masjid Istiqlal. Dipelopori oleh Menteri Agama KH. M. Dahlan upaya penggalangan dana mewujudkan fisik masjid digencarkan kembali. Presiden Soekarno, yang pamornya di mata masyarakat mulai luntur, kedudukannya dalam kepengurusan diganti oleh KH. Idham Chalied yang bertindak sebagai koordinator panitia nasional Masjid Istiqlal yang baru. Lewat kepengurusan yang baru, masjid dengan arsitektur bergaya modern itu selesai juga pembangunannya.

Semula pembangunan masjid direncanakn akan memakan waktu selama 45 tahun namun dalam pelaksanaannya ternyata jauh lebih cepat. Bangunan utama dapat selesai dalam waktu 6 tahun tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1967 sudah dapat digunakan yang ditandai dengan berkumandangnya adzan Maghrib yang pertama.

Secara keseluruhan pembangunan masjid Istiqlal diselesaikan dalam kurun waktu 17 tahun. Peresmiannya dilakukan oleh presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978. Kurun waktu pembangunannya telah melewati dua periode masa kepemimpinan yaitu Orde Lama dan Orde Baru. Pendanaan pembangunan masjid ini pada masa Orde Lama direalisasikan melalui proyek Mandataris sementara pada masa Orde Baru menjadi bagian dari Proyek RePelita (Rencana Pembagunan Lima Tahun).

Masjid Istiqlal yang dibangun sejak tahun enampuluhan, menampilkan kesatuan gaya yang kompak dan bersih. Kubahnya yang besar dan merupakan bentuk setengah bola murni, mempunyai daya dominasi terhadap totalitas bangun arsitekturnya.

Wujud arsitekturalnya bersih (clean dengan design), tidak menonjolkan detail-detail unsur dekoratif, maupun elemen-elemen hias lainnya pada bangunan. Hal ini pun terlihat pada desain interior bangunannya yang bersih dari gaya ornamentik, sehingga tidak mengganggu kekhidmatan suasana religi di ruang utamanya. Eksteriornya juga menampilkan pola struktur yang jelas dan kolam-kolam air yang besar. Sedangkan menaranya ditempatkan agak jauh dari bangunan induk, dengan bentuk menara beton yang tinggi.

Masjid Istiqlal telah berfungsi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bersifat nasional, sehingga masjid ini telah condong menjadi tanda sebagai simbol kenegaraan. Wujud arsitektural Masjid Istiqlal yang dirancang oleh arsitek non-Muslim, tidak menyalahi kaidah. Hal ini malah menunjukkan adanya kerukuran umat beragama, yang saling memberi dan menerima. Apalagi sang arsitek pada hakikatnya telah menghayati fungsi masjid sebagai perwujudan penting umat Islam.

Masjid Istiqlal merupakan salah satu masjid yang arsitekturnya diharapkan bisa menunjukkan identitas nasional dari bangsa Indonesia dan mendokumentasikan kerukunan umat beragama. Kini masjid Istiqlal berdiri megah di Ibukota Jakarta dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia.


(Dirangkum dari berbagai sumber informasi).

Saturday, February 12, 2011

Patung Liberty: Media Bilateral



"Patung Liberty", kebanggaan dan simbol Kota New York dan juga Amerika pada umumnya dan sangat mendunia itu ternyata bukan dibuat di New York. Patung tersebut di desain oleh pemahat Prancis, Frederic-Auguste Bartholdi pertama kali dibangun dan disusun di Prancis pada tahun 1874. Patung Dewi Kemerdekaan tersebut dipersembahkan oleh rakyat Prancis kepada rakyat Amerika, sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100.

Patung Liberty adalah sebuah karya monumental seni pahat yang melambangkan kebebasan bagi seluruh dunia. Nama patung ini sebenarnya adalah “Liberty Enlightening the World” atau Liberty yang diambil dari nama dewi kebebasan yang menyinari dunia. Patung ini di gambarkan sebagai seorang wanita yang sedang membebaskan diri dari belenggu tirani dengan tangan kanan yang memegang sebuah obor dengan api yang menyala, ini melambangkan kebebasan. Sementara tangan kirinya memegang sebuah buku dengan tulisan “July 4, 1776” (dengan angka Romawi), hari kemerdekaan Amerika. Dia mengenakan jubah yang menjuntai dan 7 bayangan dari paku besar pada mahkotanya melambangkan 7 samudra dan benua.

Patung Liberty memiliki tinggi kurang leih 46 m (151 ft). Jika dihitung dari dasar, patung ini memiliki tinggi sampai 93 m (305 ft). Lapisan patung ini terbuat dari lempengan tembaga tempa debnan ketebalan 2.4 mm (0.01 in) yang di pasang pada rangka besi. Rangka besinya di buat oleh Insinyur Perancis, Gustave Alexandre Eiffel, yang juga pembuat menara Eiffel di Paris.

Setelah selesai dibuat di Perancis, patung tersebut dibongkar, dan dikemas dalam 200 muatan besar untuk dikirim ke Amerika.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxCw2tRThLfkVeeHMwUklmzFNKXXAP-gIQ9ADE-rH_G1ZFwzFrpVmg8B01YEj1wGS5jWETsmI2lcL3Oe57xfSceAp0OUKSXRxWB7JI_CfajLuUC1zo_j5P4W1WsX_jSkKvAQjNL3lrkjHn/s400/patung+liberty+2.jpg

Alas patung ini didesain menggunakan beton dan granit oleh arsitek Amerika, Richard Morris Hunt. Sebuah dinding berbentuk bintang mengelilingi alas setinggi 47-m (154-ft) ini. Dinding ini adalah bagian dari Fort Wood, tembok yang di bangun awal abad 19 untuk mempertahankan kota New York selama berlangsungnya perang 1812 (1812-1815).

Patung Liberty menjadi ikon kota New York. Sebenarnya. Patung ini berada di wilayah New Jersey, tapi New York lah yang menjadi pemiliknya. Patung Liberty terletak di Pulau Liberty, di muara Sungai Hudson di New York Harbor. Patung ini dihadiahkan Perancis untuk Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan merupakan suatu simbol selamat datang untuk pengunjung, imigran dan orang Amerika yang kembali.

http://i100.photobucket.com/albums/m18/sadan_p/Statue-of-Liberty-3.jpg  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAwWKS9Y68zhtaQM_A2ztgK4X86nohLI05NFSkBoq2UpGdAE2XXTKjXrv9UMtzywBGjgZ_dtuFYu3YOMitrx38TNkzJkTczH-q4MVoFgsfnBWyaDKP3-R6XgSONLnOiDF4LLvS4khRTQ/s400/new-york-statue-of-liberty.jpg


Sejarah

Awalnya, patung Liberty di buat sebagai monumen untuk mengingatkan adanya aliansi yang pernah terjadi antara Perancis dan Amerika selama terjadinya Revolusi Amerika (1775-1783). Patung ini di desain oleh pemahat Perancis, Frédéric-Auguste Bartholdi dan selesai pada bulan Juli 1884. Rakyat Perancis menyumbangkan uangnya untuk membangun patung ini. Pemerintah Amerika sendiri membangun landasan untuk patung ini dari dana yang di himpun oleh pengusaha surat kabar yang bernama Joseph Pulitzer.


(Dirangkum dari berbagai sumber informasi).