Showing posts with label Shockingly Spicy. Show all posts
Showing posts with label Shockingly Spicy. Show all posts

Thursday, February 14, 2013

Sejarah dan Makna Hari Kasih Sayang (Valentine's Day).



Hari Valentine pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi - notisi dalam bentuk " valentines ". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah cupid bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun.

Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu - kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu Valentine.

Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

TRADISI HARI VALENTINE DI NEGARA-NAGARA NON BARAT


Di Jepang, hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari dimana para wanita memberi (para pria yang mereka senangi atau kasihi) permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan dengan sukarela, melainkan menjadi sebuahkewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja kantoran. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya yang besar.
Cokelat ini disebut sebagai Giri-Choco, dari kata Giri (kewajiban) dan Choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, ada pula sebuah hari balasan yang disebut "Hari Putih" (White Day) yang jatuh pada tanggal 14 Maret, dimana pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.

Di Indonesia
, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini cenderung menjadi budaya populer dan konsumtif, karena perayaan Valentine lebih banyak ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang yang terkait dengan Valentine, seperti kotak cokelat, perhiasan dan boneka. Pertokoan, Tempat Hang out dan media (Stasiun TV, Radio, Online Dan Majalah Remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan Valentine.

HARI VALENTINE PADA ERA MODERN

Hari Valentine kemungkinan di impor oleh Amerika utara dari Britania Raya, Negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika kartu Valentine pertama yang di produksi secara massal dicetak setelah tahun 1874 oleh Esther A. Howland ( 1828 - 1904 ) dan Worcester, Massachusatts.

Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. ( Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary".)


(Diambil dari www.boozemagazine.com).

Tuesday, February 15, 2011

XL vs Telkomsel: Perang Iklan (?)


Beberapa waktu lalu, aku melihat sebuah iklan Kartu AS yang diiklankan oleh Sule (Artis pelawak/penyanyi) di televisi. Dalam sebuah iklan, dia tampil seolah-olah sedang diwawancarai oleh wartawan.
Kemudian dia selanjutnya berkomentar,”Saya kapok dibohongin sama anak kecil,” ujar Sule yang disambut dengan tawa para wartawan.

Berikut video iklannya:



Pada saat menonton iklan tersebut, gue langsung teringat iklan Kartu XL yang juga dibintangi Sule bersama Baim (artis cilik) dan Putri Titian (artis remaja). Terjadilah dialog antara Sule dan Baim.“Gimana Im, Om Sule ganteng khan?” tanya Sule. “Jelek!” jawab Baim memperlihatkan muka polosnya.

Kemudian Sule memberikan dua buah makanan (entah permen atau apalah itu) kepada Baim dengan harapan Baim akan mengatakan ‘Sule ganteng’. Namun Baim masih menjawab apa adanya seperti jawaban sebelumnya. “Dari pertama, Om Sule itu jelek. Dari pertama kalau Rp. 25,- XL, murahnya beneran.” jawab Baim lagi, dan seterusnya.

Setelah itu, sule kemudian membujuk baim untuk ngomong lagi, “om sule ganteng” tapi kali ini si baim dikasih es krim sama sule. Tapi tetap saja si baim ngomong, “om sule jelek”.
XL membuat sebuah slogan, “sejujur baim, sejujur XL”.

Iklan ini dibalas oleh TELKOMSEL dengan meluncurkan iklan kartu AS. Awalnya, bintang iklannya bukan sule, tapi di iklan tersebut sudah membalas iklan XL tersebut dengan kata-katanya yang kurang lebih berbunyi seperti ini, “Makanya, jangan mau diboongin anak kecil!”

Nggak cukup di situ, kartu AS meluncurkan iklan baru dengan bintang Sule. Di iklan tersebut, Sule menyatakan kepada pers bahwa dia sudah tobat. Sule sekarang memakai kartu AS yang katanya murahnya dari awal, jujur. Sule juga berkata bahwa dia kapok diboongin anak kecil sambil tertawa dengan nada mengejek.
Berikut video iklannya:



Satu hal yang bikin aneh, koq bisa ya satu orang muncul dalam dua penampilan iklan yang merupakan satu produk sejenis yang saling bersaing,  dan dalam waktu yang hampir bersamaan? Jeda waktu gue menonton penampilan Sule dalam iklan di XL dan AS pun tidak terlalu jauh. Hanya dakam hitungan hari seingat gue. Ada sebagian yang bilang, apa yang dilakukan oleh Sule tidak etis dalam dunia periklanan. Mereka menyoroti peran Sule yang menjadi ‘kutu loncat’ ala tokoh parpol yang secara cepat berpindah kepada pelaku iklan lain yang merupakan kompetitornya. Sebagian lain berpendapat, kalau hal itu adalah sah-sah aja.

Sejauh yang gue ketahui, pada prinsipnya, sebuah tayangan iklan di televisi (khususnya) harus patuh pada aturan-aturan perundang-undangan yang bersifat mengikat serta taat dan tunduk pada tata krama iklan yang sifatnya memang tidak mengikat. Selain taat dan patuh pada aturan perundang-undangan, pelaku iklan juga diminta menghormati tata krama yang diatur dalam Etika Pariwara Indonesia (EPI).

Perang iklan? Ya, kejadian seperti itu sebenarnya telah terjadi jauh sebelum Sule mengalaminya hari ini. Kawan-kawan pasti masih ingat iklan produk Honda -Astrea Grand- yang dibintangi keluarga Si Doel Anak Sekolahan. Mulai dari si Doel (Rano Karno), Mandra (Mandra), mas Karyo (Basuki), dan Atun (Suti Karno), mereka semua membintangi iklan motor bebek Honda Astrea Grand hingga semakin mengukuhkan peringkat Honda sebagai pabrikan terlaris di Indonesia (kategori motor). Namun sesudah itu, keluarga si Doel berpecah. Si Doel dan mas Karyo beralih ke pabrikan Mocin (Motor China) bermerk Bangau; sementara Mandra masih di Honda. Beberapa saat kemudian pun mas Karyo berpindah ke Suzuki untuk mengiklankan “Si Gesit Irit”. Baik Honda, Jialing, dan Suzuki merupakan produk sejenis yang merupakan kompetitor. Artinya, kejadian Sule bukanlah kejadian pertama kali. dan yang paling penting, hal itu sah-sah saja karena aku tidak melihat adanya pelanggaran kode etik. Lain soal jika terkait persoalan materi kontrak.

Namun demikian, yang patut dipersoalkan bukanlah pada peran Sule yang tampil di dua iklan produk sejenis, tetapi pada materi iklan yang saling menyindir dan menjelekkan. Dalam salah satu prinsip etika yang diatur di dalam EPI, terdapat sebuah prinsip bahwa “Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung.” Di sinilah yang sebenarnya patut dijadikan sebagai objek pembicaraan dan diskusi. Sebagaimana banyak diketahui, iklan-iklan antar produk kartu seluler di Indonesia selama ini kerap saling sindir dan merendahkan produk kompetitornya.

Perang iklan antar operator sebenarnya sudah lama terjadi. Namun pada perang iklan yang satu ini, tergolong parah. Biasanya, tidak ada bintang iklan yang pindah ke produk kompetitor selama jangka waktu kurang dari 6 bulan. Namun pada kasus ini, saat penayangan iklan XL masih diputar di Televisi, sudah ada iklan lain yang “menjatuhkan” iklan lain dengan menggunakan bintang iklan yang sama.

Mengikuti dunia periklanan di negara luar, tampaknya, perang iklan di Indonesia sendiri mulai di berlakukan dan etika-nya pun mulai dikesampingkan. Bagaimana pendapat kalian dalam menyikapi hal ini?


(Dirangkum dari berbagai sumber informasi).

Saturday, February 12, 2011

Poster Film "Couples Retreat": Inilah Bukti Bahwa Inggris Memang Rasis!


U.S.A Version

Bagi Anda penggemar film layar lebar Hollywood mungkin akan mengerti dengan judul film yang menjadi obyek pembahasan kali ini, yaitu “Couples Retreat” (2010) yang dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris utama yaitu: Vince Vaughn dan Kristin Davis. Film yang termasuk kategori komedi ini sempat memicu kontroversi dunia terkait masalah rasis. Bagaimana tidak, pada versi aslinya di negeri paman sam (USA) film komedi ini memiliki poster yang memuat semua aktor utama yang terdiri dari empat pasangan muda-mudi. Tiga pasangan berkulit putih dan satu pasangan berkulit hitam.

Namun Begitu film ini masuk ke Inggris (UK), poster filmnya di modif jadi tiga pasangan saja. Dua orang yaitu pasangan berkulit hitam (Faizon Love dan Kali Hawk) dibuang dari poster baik nama maupun gambarnya. Loh, kenapa? Tentu hal ini memicu kontroversi besar, ada apa gerangan?

U.K Version

Well, lagi-lagi masalah sentimen rasis. Ternyata di negara-negara barat yang notabenenya mengklaim sebagai pendekar demokrasi dan hak asasi manusia itupun isu rasis masih sangat kental terjadi dan selalu muncul sebagai pemisah. Semoga saja kita disini bisa menjadi lebih dewasa menyikapi perbedaan suku, agama dan keyakinan.


(Sumber Informasi: http://ruanghati.com)