Showing posts with label Life's Complicated. Show all posts
Showing posts with label Life's Complicated. Show all posts

Thursday, May 21, 2015

Keputusanmu, Takdirmu!
























Dalam hidup kita pasti akan selalu dihadapkan pada banyak pilihan-pilhan. Bahkan tidak menutupkemungkinan jika pilihan-pilihan tersebut terkadang sangat dilematis. Bahkan jika pilihannya sangat pelik, akan membuat kita gamang dalam mengambil dan menentukan keputusan. Walau bagaimanapun, kita tetap diharuskan untuk menentukan pilihan dari pilihan-pilihan tersebut. Semakin tepat keputusan kita, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan dan keberhasilan yang nantinya akan diperoleh. Tetapi jika kita salah dalam mengambil keputusan, maka konsekuensinya kita pun harus mengorbankan "biaya" kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menentukan pilihan hidup tersebut. Well, our decision determines our destiny! Keputusan yang tepat adalah kunci keberhasilan.

Hidup adalah perjalanan dari satu keputusan ke keputusan-keputusan lainnya. Keputusan di masa lalu, akan berpengaruh terhadap kehidupan sekarang, dan keputusan sekarang akan berpengaruh terhadap kehidupan kita di masa depan. Rangkaian keputusan ini akan membentuk rute dan "benang" takdir yang harus kita lalui. Keputusan juga bisa menjadikan kita mampu dalam menentukan suatu rute dari sekian banyak rute yang harus dipilih dalam hidup.

Tuhan telah memberikan kebebasan kepada kita semua untuk menentukan jalan hidup yang harus kita tempuh, tetapi kehendak kita tersebut sudah pasti akan dibatasi dengan kehendak-Nya. Kita hanyalah makhluk yang bebas menentukan takdir masing-masing dalam naungan kehendak sang Pencipta. Takdir kita tidak akan berubah jika kita tidak mau merubahnya. Itulah mengapa nasih suatu golongan, juga individu tidak akan berubah jika bukan mereka sendiri yang mengubahnya.

Takdir kita dibentuk dari keputusan-keputusan hidup yang sudah diambil, yang sudah di "approve" oleh sang Pencipta. Dengan demikian, perbedaan nasib antara satu orang dengan orang lainnya adalah buah dari keputusannya masing-masing. Misalkan ketika seseorang sedang menghadapi cobaan hidup, maka dia akan dihadapkan pada dua pilihan, berani menghadapinya atau menyerah. Jika dia memilih untuk menghadapi cobaan tersebut, kemungkinan besar dia akan lulus dari cobaan tersebut, dan memperoleh derajat yang lebih tinggi. Tapi jika dia memilih yang kedua, maka kemungkinan besar dia akan berada pada kesulitan, penyesalan bahkan penderitaan. Atau ketika ada seorang sarjana yang baru saja menyelesaikan pendidikannya, dihadapkan pada dilema dalam pengambilan keputusan, apakah melanjutkan kuliah S2, mulai bekerja atau mulai berwirausaha. Tentunya setiap pilihan tersebut, akan memberikan corak takdir yang berbeda pada kehidupannya di masa depan.

Cobalah sejenak mengingat keputusan kita beberapa tahun yang lalu. Bayangkan jika anda memutuskan suatu hal yang berbeda dari keputusan yang sudah anda ambil, apakah anda akan seperti sekarang ini? Atau bisa sebaliknya, anda menyesal, dan tidak ingin seperti sekarang ini? Keadaan bisa saja berbeda. Bisa jadi lebih baik, atau bahkan bisa jadi lebih buruk. Bayangkan jika dulu anda memutuskan belajar disekolah yang berbeda, atau memutuskan untuk memulai suatu bisnis yang berbeda, atau memutuskan untuk tinggal di tempat atau kota yang berbeda, tentunya setiap keputusan tersebut akan berdampak pada keadaan anda disaat sekarang ini.

Saya yakin dan percaya bahwa keputusan-keputusan yang kita ambil didalam hidup, memiliki pengaruh besar terhadap takdir kita. Selebihnya, kehendak dan keputusan Tuhan lah yang nantinya akan menjadi pusat dan penentu dari segala keputusan. Saya percaya, Tuhan tidak akan merubah takdir kita, jika dari dalam diri kita sendiri tidak ada keinginan untuk mengubahnya. Merubah takdir adalah dengan cara membuat keputusan-keputusan hidup yang berkualitas. Ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk hidup sukses atau biasa-biasa saja, pilihan hidup sukses. Ketika kita dihadapkan pada pilihan hidup untuk menjadi kaya atau miskin, pilihlah kaya. Ketika dihadapkan antara menang atau kalah, maka pilihlah kemenangan. Semakin berkualitas keputusan-keputusan hidup kita, maka semakin berkualitas pula takdir kita. Sebaliknya, banyak orang yang asalnya sejahtera tiba-tiba hidup berkekurangan. Hal ini terjadi bukan karena keadaan yang membuatnya, tetapi karena keputusan-keputusan didalam hidup dia yang sebelumnya yang membuat dia menjadi demikian.

Banyak hal penting yang harus diputuskan dalam hidup. Keadaan kita saat ini adalah hasil dari keputusan kita di masa lalu. Jika ada orang yang lebih sukses dari kita, maka itu adalah buah dari keputusannya di masa lampau, atau sebaliknya, jika ada orang yang hidupnya lebih terpuruk dari kita, itu pun hasil dari keputusannya di masa lampau. Keputusanmu akan membangun takdirmu. Maka tentukanlah masa depan kita di dunia ini, maupun nanti di akhirat. Tentukanlah hal penting yang harus kita lakukan, dan apa yang paling bermakna dalam kehidupan kita. Jika kita mampu memutuskan sesuatu dengan baik, maka secara tidak langsung itu adalah pertanda bahwa kita mampu menguasai kehidupan kita dengan baik.

Putuskan sesuatu yang berkualitas didalam kehidupanmu mulai dari sekarang juga! Dengan usaha, dan tetap mendekatkan diri dengan Tuhan, anda dan saya bisa menjadi apapun yang kita putuskan. Amin!

Sunday, March 8, 2015

Menjadi Kaya Yang Sebenarnya.
















Saat ini, banyak individu yang memiliki gaya hidup defisit. Pengeluaran mereka lebih besar dibandingkan dengan pendapatan. Mereka memilih untuk hidup diatas kemampuannya. Kekurangan pendapatan karena besarnya budget bulanan terpaksa dipenuhi dengan pinjaman. Mereka yang memiliki gaya hidup extravaganza biasanya cenderung ingin memenuhi semua keinginan dan kebutuhannya diatas pendapatannya. Jika uang adalah kekuatan, mereka meminjam kekuatan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Alih-alih bukannya kesejahteraan yang mereka raih, tapi bebab-beban yang harus dihadapi di masa depan, termasuk hutang-hutang yang harus mereka lunasi.

Memang, manusia memiliki banyak sekali keinginan, bahkan karena banyaknya keinginan tersebut, ada anggapan bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas. Akhirnya kehidupan mereka pun tidak berkualitas. Orang-orang yang tidak bisa membayar tagihan telepon di akhir bulan, tidak bisa membayar tagihan kartu kredit, tidak bisa membayar cicilan rumah atau kendaraan bahkan yang masih ngontrak atau ngekos sekalipun masih sering keteteran dalam membayar sewa kontrakan secara tepat waktu, adalah mereka yang telah memutuskan untuk hidup diatas kemampuan mereka. Atau karena tiba-tiba pendapatan tidak stabil sehingga pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Hal ini pada akhirnya menimbulkan banyak kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Rumah atau mobil disita, dikejar-kejar debt-collector, disuruh keluar dari kontrakan atau kosan, dan masih banyak hal lainnya.

Dari semua rangkuman tersebut diatas, anda-kah salah satu dari mereka?

Salah satu cara terbaik dalam mengatasi masalah kendala anggaran adalah mengatur pengeluaran dibawah pendapatan. Gaya hidup yang memiliki pengeluaran dibawah pendapatan adalah kunci dari hidup yang sejahtera. Kita bahkan mungkin sering mendengar nasihat ini, tetapi pada kenyataannya tidak semudah menjalaninya. Hidup dibawah kemampuan adalah bagaimana memangkas pengeluaran dan terus meningkatkan pendapatan sehingga ada sebagian pendapatan yang bisa diinvestasikan.

Walaupun mengatur pengeluaran dibawah pendapatan bukanlah hal yang mudah, tetapi hal ini akan memberikan banyak manfaat terhadap kehidupan kita.

  • Kesempatan Untuk Menabung.

Ada tiga alasan utama seseorang membutuhkan uang. Pertama untuk konsumsi, kedua untuk berjaga-jaga, dan yang terakhir adalah untuk spekulasi, atau lebih tepatnya sebagai investasi. Jika merujuk pada alasan-alasan tersebut, mereka yang menghabiskan uangnya untuk konsumsi adalah mereka yang kehidupannya kurang efisien karena tidak memiliki kesempatan untuk menabung. Mereka juga memiliki kehidupan yang tidak berkualitas, karena tidak ada dana yang nantinya akan digunakan untuk berjaga-jaga maupun investasi.

  •  Kesempatan Untuk Investasi.

Jumlah uang yang ditabung, adalah sama dengan jumlah yang diinvestasikan. Maka ketika seseorang mampu menabung, berarti dia pun mampu berinvestasi. Mengapa ada kejadian yang menjelaskan bahwa orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin? Jangan salahkan pemerintah, orang kaya akan semakin kaya karena mereka memiliki sisa uang dari konsumsi untuk ditabung, sehingga bisa diinvestasikan. Sedangkan orang miskin semakin miskin karena mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk dikonsumsikan sehingga harus ditutupi dengan hutang. Mereka yang hidup diatas pendapatannya adalah mereka yang memiliki mental orang miskin, sedangkan mereka yang hidup dibawah pendapatannya adalah mereka yang memiliki mental orang kaya.

  •  Memiliki Dana Darurat.

Dalam hidup kita sering menghadapi ketidakpastian, dan didalam ketidakpastian tersebut terdapat resiko yang salah satunya adalah resiko munculnya keadaan darurat. Keadaan ini tentu saja bisa muncul dalam bentuk yang bermacam-macam yang memang sulit untuk diprediksi kapan datangnya dan seperti apa bentuknya. Demi menanggulangi keadaan darurat tersebut, maka kita pun harus memiliki dana darurat yang bisa kita gunakan ketika hal itu terjadi. Hidup pun akan semakin jauh lebih tenang ketika kita memiliki dana yang nantinya akan bisa digunakan ketika dalam keadaan yang mendesak.

  • Hidup Berkualitas.

Manakah yang anda pilih, kaya cepat tetapi hidup tidak berkualitas, atau kaya secara perlahan tetapi hidup berkualitas? Mereka yang memilih untuk membeli rumah, kendaraan mewah secara kredit ataupun menikmati liburan mewah dengan uang kredit adalah mereka yang tergesa-gesa dengan sesuatu yang mereka belum mampu untuk memilikinya. Seseorang yang membeli mobil secara kredit untuk dikonsumsi artinya dia menikmati sesuatu yang bukan miliknya, tetapi tetap harus membayar cicilan yang lebih mahal dibandingkan dengan harga mobil yang sebenarnya. Bunga dari cicilan tersebut adalah biaya untuk membayar ketergesa-gesaan dalam pemenuhan hasrat dan keinginannya. Akhirnya, dalam jangka beberapa tahun ke depan, dia hanya memiliki mobil hasil kredit yang membosankan, ketinggalan jaman atau sudah banyak yang rusak. Tetapi jika uang cicilan tersebut diinvestasikan, dan dia bisa bersabar untuk menangguhkan pembeliannya, kemungkinan besar dia akan bisa membeli dua atau tiga mobil dimasa depan. Mobil yang baru dan tentunya lebih bagus dari mobil kredit tersebut.

  • Kebebasan dan Keamanan Finansial.

Para pengusaha bekerja keras untuk meraih kebebasan finansial, sedangkan para pegawai bekerja keras untuk meraih keamanan finansial. Tetapi semua itu akan sia-sia jika kita masih memiliki gaya hidup defisit. Banyak pengusaha yang terjerat dengan hutang, dan banyak pegawai yang diakhir bulan, hanya menerima separuh dari gajinya. Akhirnya hidup pun menjadi sulit. Tapi jika mereka memilih untuk mengatur pengeluaran dibawah pendapatan, tentunya mereka pun akan mudah untuk meraih kebebasan dan keamanan finansial.

  • Menjadi Kaya Yang Sebenarnya.

Pada umumnya, semakin meningkat konsumsi seseorang, maka akan semakin tinggi pula hutangnya. Ada orang yang memiliki tingkat konsumsi tinggi, seperti memiliki mobil mewah, rumah mewah dsb, tetapi jika pendapatannya dikurangi dengan hutangnya hasilnya negatif. Hal ini adalah bentuk dari kekayaan yang semu. Dia akan kaya dengan tingkat konsumsi yang tinggi, tetapi dia kaya dengan kekayaan orang lain. Konsekuensinya dia harus mengembalikan kekayaan orang lain tersebut secara kredit dan tambahan bunga. Tetapi jika dia konsekuen untuk bisa menjaga agar tingkat konsumsi dibawah pendapatannya, menjaga agar tidak ada kegiatan konsumsi yang dipenuhi secara kredit, maka sudah dipastikan dia akan memiliki pola konsumsi yang sehat. Dan jika dia kaya, maka kekayaan yang dia miliki adalah bukan kekayaan yang semu, tetapi kekayaan yang sebenarnya.

Dari beberapa manfaat tersebut diatas, intinya adalah bagaimana agar kita memiliki kesempatan untuk menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk motif yang lain selain konsumsi. Jika seseorang mampu mengurangi presentasi konsumsinya dan menambah presentasi savingnya, tentu dia akan memiliki kesempatan lebih untuk berinvestasi dan berjaga-jaga. Dengan demikian dia akan mengalami pertumbuhan ekonomi secara personal, seiring dengan ketenangan hati.

Gaya hidup inilah yang akan menjadikan kita kaya yang sebenar-benarnya.


Dirangkum dari www.amhardinspire.com 

Wednesday, December 25, 2013

Surviving Christmas.
















Is it true that most people have a miserable time?

Someone once said to me, that most people have a miserable time at Christmas. Now while this isn’t true for everyone, to me it highlights the gap between the hype and the reality for many people. Spending time with family over the Christmas period can re-ignite old difficulties and familiar patterns of relating. And any cracks in your relationships, deepen as you spend a greater amount of time together. It may be hard to admit to mixed feelings about spending time with family. You are supposed to look forward to it, but difficulties from the past often re-emerge at Christmas.

If you are on your own, Christmas can heighten feelings of loss and isolation. But, frankly speaking: It is NOT for me! I almost always spent Christmas Day alone, but at least I have work and keep busying myself with deadline. I could have visited my family, but I chose not to: I preferred to see my family at times other than Christmas, without the stress of holiday travel/ high expectations/ December in the Midwest. And I could have visited any number of friends who were having Christmas Day gatherings. But I didn’t. This time at the Christmas Eve, I'm wondering.. Maybe I loved spending Christmas Day alone, or maybe I'm too indie to celebrate this day?

Christmas Day was my day of peace and quiet. Christmas Day was the day I spent reading books people had given me, watched any of my favorite Christmas Movies, listening to CDs people had given me, eating leftovers from Christmas Eve dinner. I’d talk to friends and family on the phone… but otherwise, Christmas Day was the day that I fed my introverted brain with all the downtime it wanted.

Here’s the reason I bring this up:


The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the way other people reacted to it. The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the expectation that of course you want to spend Christmas Day with family and/ or friends… and that you were a big sad loser if you spent it alone. The one thing that sucked about spending Christmas Day alone was the cultural trope that the only possible reason anyone would spend Christmas Day alone was that they had no family, no friends, nobody who cared about them, no other choice. 

I remember in particular one phone conversation I had on one particular Christmas Day. I was doing the rounds of Christmas phone calls, and one of the people I was talking to asked what I was doing that day. I said that I was just hanging around reading books and eating leftovers. And they said, in a voice filled with horror and shock, “ALONE?!? You’re not spending Christmas alone, are you?” - Up until that moment, I’d felt fine about spending Christmas alone. I’d felt more than fine about it. I’d felt positive and happy about it. I’d been looking forward to my Christmas day alone almost as much as I’d been looking forward to my Christmas Eve of food and festivity and boisterous social chaos. But as soon as I heard, “You’re not spending Christmas alone, are you?”, I suddenly felt ashamed. I actually wound up lying, just to stop the horrified sympathy: I told them I was alone at the moment, but had plans to go visit friends later in the day. This person’s concern — and I do think it was genuine, well-meaning concern — about me not being a big sad loser on Christmas… it was exactly the thing that made me feel like a big sad loser. (And if I had, in fact, felt sad about being alone on Christmas Day, this would have made me feel even worse.)

I know, from what I’ve been told, that I’m not the only one to feel pressured about not spending Christmas alone. I know that this pressure to not spend Christmas alone is felt even by people who don’t care about Christmas. Even people who don’t come from a Christian background, religiously or culturally, get hit with this “You’re not spending Christmas alone, are you?!?!” thing. And I know I’m not the only one who’s been made to feel ashamed about spending Christmas alone, even if they personally were fine with it.


So I want to say two things:


One: If you have people in your life who may be spending Christmas alone — please don’t make them feel bad about it. Sure, extend an invitation if you’re having a gathering. But please don’t frame it with, “You don’t have to spend Christmas alone.” Please don’t frame it with the “You don’t have to be a big sad loser who can’t even find anyone to cadge an invitation from on Christmas” trope. Please don’t frame it as “You poor thing, we’ll invite you to join us out of charity.” Frame it as, “We would love to have your company if you’d like to join us.” (And if they say “No, thank you” accept it.)


And two: If you’re spending Christmas Day alone, I hope you have a good one. Whether you care about Christmas, or you don’t give a damn about Christmas and as far as you’re concerned today is Wednesday and why the hell are all the stores closed… I hope you have a great day today, on these Christmas Day.

Well, to those who celebrate it, HAVE A VERY MERRY CHRISTMAS!

Friday, August 30, 2013

Nyinyir = Idealisme Berlebihan dan Budaya Permisif.


"Di dunia ini, barangkali tidak ada hal baik yang direspon dengan sempurna positif. Hal yang paling benar sekalipun, yang ditujukan untuk kemaslahatan umum, dan meski sudah dikuatkan dengan justifikasi yang bertanggungjawab, selalu menyisakan reaksi-reaksi negatif."

Jika kita sedang dalam kerumunan bersama teman–teman, terus ada orang lewat yang dengan sengaja memamerkan segala kelebihannya dari tampilan fisik juga yang melekat pada tubuhnya yang serba WOW itu –walaupun orang itu tidak merasa ingin diperhatikan dan terkadang manusia berpakaian dan berpenampilan sedemikian rupa hanya untuk merasa nyaman dan pede aja– apa yang terlintas dalam pikiran kita? Pasti kita nggak bisa menahan gerakan mulut kita untuk ngomongin si manusia yang barusan lewat itu. Gosip. Adalah hal biasa bagi setiap orang, khususnya pada wanita atau lelaki yang kewanita-wanitaan (Maybe). Tapi saking asyiknya ngegosip, ujung–ujungnya malah jadi pada nyinyir. Dan bumbu nyinyir itu enak banget rasanya. Bagaikan sayur tanpa garam, kalo gosip nggak dibumbui dengan nyinyir, akan berasa ada yang hambar kali ya. Wait! Enak? Yeah, enak buat yang nyinyir tapi engga buat mereka yang dijadikan objek nyinyir.

Kenapa sih orang banyak sekali yang nyinyir? Gini deh, kenapa sih orang Indonesia banyak banget yang senang ikut campur atau mengurusi urusan orang lain? Mungkin karena budaya di Indonesia ini cenderung berkelompok, berkoloni, sampai ada istilah untuk suku bangsa tertentu yang menyatakan, “Makan nggak makan, yang penting ngumpul”. Itulah, Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan, dan cenderung untuk memihak pada satu kelompok di mana ia berasal, sehingga rasa pembelaan terhadap kelompok itu sangat kuat. Senangnya ngumpul sambil membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan. Dan jika ada suatu hal yang berbeda, yang lain daripada yang lain, yang tidak sama dengan apa yang ada di kelompoknya, maka itu akan menjadi hal yang mengusik perhatiannya dan menimbulkan anggapan tersendiri. Terus apa hubungannya dengan nyinyir?

Nyinyir atau sinis biasanya diutarakan dalam bentuk pernyataan atau perkataan terhadap suatu hal yang dirasa menarik perhatian. Mungkin ada kecenderungan si orang yang nyinyir tersebut iri kepada orang yang dia “nyinyiri”, merasa lebih dari orang lain, sehingga jika ada orang yang melebihi dirinya dalam segala hal apalagi jika orang yang bersangkutan itu tidak disangka– sangka bahwa dia punya kelebihan itu maka dia akan merasa tersaingi hingga menimbulkan rasa tidak suka, atau dalam kondisi yang lebih parah, dia memulai permusuhan dengan orang tersebut, baik melalui kata–kata yang bisa menjatuhkan mental, atau pun melalui gerakan tubuh juga tindak–tanduk yang jelas menunjukkan bahwa dia tidak suka. Dan nyinyir ini biasanya muncul saat seseorang yang bersangkutan itu mendapati sebuah kejadian atau suatu hal yang mengganggu perhatiannya alias “gengges” banget buat dia, hingga dia akan merasa puas jika sudah menyalurkan kata–kata nyinyirnya itu, baik melalui teman–temannya, atau social media. Ya! Penyakit bangsa Indonesia yang sedang booming saat ini adalah nyinyir lewat social media.

Coba perhatikan, jika kita termasuk yang aktif menggunakan jejaring Facebook dan Twitter bahkan Path, jejaring sosial yang cukup banyak digunakan oleh orang Indonesia. Kita sering menemukan status–status yang isinya marah–marah, menggerutu sama orang, nyindir orang, ataupun meledek sinis terhadap apa yang seseorang lakukan, bahkan kata–kata itu sangat lebih dari cukup untuk mewakili kebodohan–kebodohan yang dilakukan oleh orang–orang di sekitarnya. Bukan kah ini sebuah penyakit? Nyinyir berlebihan itu adalah penyakit hati!
 
Kita cukup banyak menyaksikan kesalahan dan kebodohan orang–orang di sekitar kita, kita punya pendapat tersendiri tentang segala hal, dan kita merasa orang lain kebanyakan salah. Pendapat kita lah yang lebih baik. Namanya juga manusia. Boleh saja punya anggapan demikian, asal pendapatnya masuk akal, disampaikan dengan maksud memberi teguran atau memperbaiki kesalahan seseorang, tapi alangkah bijaknya jika menyampaikan hal tersebut dengan kata–kata yang sopan agar tidak menyinggung pihak–pihak tertentu. Saya menulis tentang ini di blog, saya bisa dikatakan sebagai “orang yang punya pendapat sendiri tentang segala hal” itu, tapi setidaknya saya masih berobservasi dan berusaha menyusun kata–kata yang masih bisa dianggap sopan menurut saya. Bukannya sok bijak, tapi hidup ini kan bersosialisasi, dan tidak menutupkemungkinan bahwa suatu saat mereka yang kita nyinyirin itu lah yang akan membantu kita di saat susah atau lagi ada masalah. Hidup ini berputar kawan! Kadang diatas, kadang dibawah. Jangan terlalu sombong!

Entah apa yang menjadi alasan banyak orang menumpahkan kata–kata nyinyirnya lewat social media. Entah artis, pejabat, sutradara film, stand up comedian, doktor, professor, mahasiswa, pegawai kantoran, pelajar, bahkan kaum “underdog” pun masih bisa aja nyinyir. Ketidakpuasan, ketidaknyamanan, dan ketidakbersyukuran atas apa yang sudah dimiliki saat ini, merupakan alasan utama yang menghalalkan perilaku kenyinyiran sejauh yang saya amati. Tapi saya kurang tau, apakah dalam kehidupan nyata mereka selalu berkata nyinyir, ataukah hanya melampiaskannya lewat social media saja, khususnya Twitter. Yang saya tahu pasti, saya punya teman yang hobinya nyinyir blak–blakan right in front your face. Saya akui, cara pandang semacam ini bukan hal yang bagus untuk dibiasakan. Mungkin sudah bawaan manusia bahwa, ego untuk merasa lebih berharga dibanding yang strata sosialnya lebih rendah cenderung menguasai pola pikir yang sehat. Saya sendiripun tidak jarang terkuasai oleh ego dan ambisi itu. Itu memang tantangan bagi setiap orang yang berusaha, meski sedikit, untuk menyebarkan kebaikan dan hal positif, meski dalam taraf yang kecil.
 
Dalam pandangan saya, jika suatu idealisme hidup di tengah-tengah budaya permisif, maka idealisme akan cenderung dipandang negatif. Pola budaya permisif semacam ini, menurut saya, tidak boleh dilestarikan, atau malah dicarikan pembenaran. Bersosial pun ada hukumnya. Lain halnya jika kita hidup sendiri, atau mungkin memang ada seorang yang introvert dan anti sosial? Apa perlu saya bilang WOW terus koprol untuk pendapat seseorang yang lebih mirip kepada penghinaan?

Nyinyir, sayapun tak tahu persis apa kosa kata ini telah terdaftar secara resmi di KBBI atau belum. Tapi unik juga sih kalau mendengar kata ini, agak-agak lucu jika diucapkan, semacam ada rasa pedas bermakna keluhan bila mengaitkan kata ini untuk sebuah peristiwa atau kejadian yang menyebalkan.

Setelah saya cek di internet, ternyata nyinyir itu berarti mengulang-ulang perintah, atau dengan kata lain, cerewet. Sering kali kata ini saya dapatkan di internet, terutama twitter, kala seseorang dilihat cuma bisa ngomong doank, padahal kerja pun belum tentu bisa, kontribusi pun belum tentu ada. Dan mungkin fenomonena nyinyir sedang nge-trend sekarang ini, saat beberapa isu nasional maupun internasional sekalipun sedang asyik tuk di-nyinyir-in.
Semua hal di-nyinyir-in. Jabat tangan menteri komunikasi dengan ibu negara Amerika Serikat, nyinyir. Pedagang stasiun yang bersusah payah membela hak-haknya, nyinyir. Perda larangan berboncengan dengan duduk mengangkang, nyinyir. FPI yang menegakkan nahi mungkar, nyinyir. Bahkan berprasangka baik terhadap partai yang terkena kasus korupsi pun di-nyinyir-in, Gila.. sekedar berprasangka baik saja di-nyinyir-in. duh.

Nyinyir itu asyik, puas rasanya saat mengomentari seseorang yang terkenal bersih dan alim ternyata tersangkut kasus korupsi. Nyinyir itu sarana melampiaskan emosi, saat suatu hal berjalan tidak sesuai dengan kehendak dan pemikiran kita. Nyinyir itu mudah, cuma sekedar duduk santai mengeluh dan mengkritik segala hal yang tidak sesuai dengan pendapat kita, dimana disaat yang bersamaan orang-orang lain sibuk bekerja dan bertindak nyata. C'mon get a life and do something better!
Nyinyir itu budaya, karena sejak dulu leluhur kita memang terkenal sebagai seorang pujangga yang jago bersilat lidah. Sehingga banyak yang beralasan bahwa nyinyir adalah faktor keturunan. Benar juga sih, tapi saat nyinyir hanya bisa berdampak negatif, membuat orang emosi, dan memancing permusuhan, nyinyir tidak lebih dari aktivitas yang penuh kesia-siaan. Apalagi nyinyir-nya sudah sampai tingkatan ghibah, wah itu sudah masuk zona merah..
Mungkin karena nyinyir pula lah yang membuat Indonesia menduduki peringkat 5 besar pengguna Twitter terbanyak di dunia, apapun dikicaukan. Sehingga setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini walau sekedar nyinyir lewat Twitter-an. Bangga?

Ya,
Bangga kah kalian dengan budaya baru ini?


(Dirangkum dari http://anakaseliindonesia.wordpress.com dan http://tegarhamzah.blogspot.com.)

Saturday, July 13, 2013

Why Does God Test Us?

"Does God sometimes test our faith by letting hard times happen to us? If so, why does He do it? Doesn't He already know whether or not our faith is genuine?"

Sometimes God does test our faith, just as He tested the faith of the ancient Israelites by allowing them to go through hard times in the wilderness, "in order to know what was in your heart". Remember: If our faith is weak, it may not be obvious when life is going smoothly and we aren't challenged in any way. But when hard times come, a weak faith will be revealed for what it really is: shallow and unable to help us through life's difficulties. It may be anything: an unexpected illness, the death of a loved one, the loss of our job, or even a friend who turns against us. But when hard times happen, the true nature of our faith will be revealed.

But God doesn't test us because He doesn't know how strong we are, instead, He tests us because we don't know how strong we are. 

God tests us so we can experience victory. He walks in faith and believes we will win every test. He is like a proud parent who tells their child to "Go out there and show them what you can do," expecting them to win.
God allows us to enter into faith combat so we can see His deliverance and victory over our adversary. As we are faithful where we are (the test), God will give us a larger sphere of responsibility. -- and we'll only realize it when times of testing come. The psalmist prayed, "Search me, O God, and know my heart; test me and know my anxious thoughts".

None of us likes to go through hard times (and God isn't necessarily behind them, even if He does allow them). But God can use them to show us our weaknesses. And when that happens, we need to ask God to help our faith grow. Testing should make us spiritually stronger -- and it will as we turn it over to God. The Bible says, "Consider it pure joy, my brothers, whenever you face trials ... so that you may be mature and complete".

(http://www.billygraham.org)

Monday, May 27, 2013

Ketika Cinta Datang Bukan Pada Waktunya.




Gue selalu percaya ada dua hal di dunia ini yang selalu menjadi misteri bagi manusia.. Pertama adalah kematian, dimana kita akan mati, bagaimana caranya kita mati dan seperti apa keadaannya saat kita akan menghadapi maut.. Semua tidak ada yang bisa mengetahui kecuali Tuhan. Dan yang kedua adalah jodoh.
Ya, jodoh ada ditangan -Nya!

Melihat orang jatuh cinta itu rasanya seperti melihat orang yang baru saja menemukan air setelah berpuluh-puluh hari berada di gurun pasir. Menyegarkan meskipun kadang ada beberapa pasangan yang terlalu berlebihan dalam mengekspresikan rasa tersebut. Apalagi jika orang yang jatuh cinta itu adalah diri kita sendiri. Tapi jangan salah, ternyata ada fenomena dimana jatuh cinta itu bukanlah suatu hal yang menyegarkan bahkan ironisnya bisa jadi jatuh cinta itu menghancurkan cinta lainnya. Ya, karena kadang cinta datang di waktu yang salah dan salah satu hati bahkan beberapa hati pun harus ada mengalah dalam waktu yang bersamaan sekaligus.

Jujur saja, gue sendiri pernah mengalami rasanya menjadi seseorang yang mesti mengalah terhadap keadaan. Masih jelas dipikiran gue, bagaimana rasanya menerima kenyataan harus mengubur perasaan yang gue miliki. Kecewa! Pada kenyataannya jika cinta itu datang di waktu yang salah maka harus ada hati lainnya yang mengalah. Entah itu gue, elo atau dia.

Kemarin, disaat hati gue sudah mantap untuk kembali dibuka dan berniat serius dengan seseorang yang sudah mencoba meyakinkan gue disaat trauma hubungan tiga tahun yang lalu gue masih ada (mengingat kandasnya hubungan terakhir gue sebelum ketemu si orang baru ini dikarenakan adanya orang ketiga), kenyataannya malah ketidakseriusan dari dialah yang gue terima dan kejadian serupa pun terjadi lagi. Dan kini, disaat perasaan takut itu kembali muncul, bahkan semakin kuat, ada cinta lain yang datang dan mencoba meyakinkan gue lagi. Bukan cuma satu, tetapi dua cinta datang dalam waktu yang bersamaan. Rasanya memang hampir tidak percaya, disaat gue terjatuh karena cinta, ada cinta-cinta lain yang datang secara bersamaan. Mungkin inilah yang sering dibilang kalau kebahagiaan dan kesedihan itu selalu berjalan berdampingan. Begitupun dengan cinta, dia sering kali datang pada waktu yang tepat namun dengan orang yang salah, dan bahkan sebaliknya.


“Ketika loe punya pacar dan suatu saat loe jatuh cinta sama seseorang, elo baru akan merasakan apa itu yang namanya cinta di waktu yang salah” ucap seorang teman.

Dulu gue hanya mengangguk malas dan tidak percaya mendengar ucapan teman gue itu. Sekarang, gue mulai kepikiran ucapannya. Cinta itu bisa datang kapan saja entah detik ini, hari ini, besok atau mungkin tahun depan dengan siapa orangnya tentu kita tidak akan pernah tahu.

Karena terkadang cinta itu datang di waktu yang salah, terlebih disaat elo harus dihadapkan diantara dua pilihan. Gagalnya hubungan, bukan serta merta gue lupakan dan tinggalkan begitu saja, tetapi gue coba untuk pelajari demi terciptanya hubungan baru yang jauh lebih indah. Dihadapkan dengan dua pilihan tidak membuat gue menjadi besar kepala, tetapi semakin membuat gue mawas diri. Kejujuran lah yang selalu gue jadikan modal utama saat berproses dalam menentukan pilihan ini. 

Dari sini gue pun semakin percaya kalau ada banyak cara yang diberikan Tuhan saat hendak mempertemukan kita dengan yang namanya "soulmate". Salah satunya mungkin kita harus dipertemukan dengan orang yang salah dulu sebelum yang benar datang. Gak usah terlalu keukeuh lah mencari pasangan hanya untuk mengisi kekosongan hati dan kesepian hidup elo! Being single is a freedom, yeah! Tetapi jangan karena istilah ini juga yang nantinya bisa membuat elo jadi salah kaprah. Kebebasan dan kebablasan itu bedanya tipis! Mencari apa yang dicari, menunggu apa yang ditunggu kadang saat dijalani memang cukup membosankan.. tapi bukan berarti kita harus hinggap dari satu tempat ke tempat yang lainnya hanya untuk meraba-raba dimana cinta kita yang sebenarnya, loh. Berproseslah dengan bijak, then live your life, do the best and be nice to everyone's around you.. We never know who's next! Itulah yang gue pegang sekarang dan thank's to God, I'm back to myself and away better to living my life.

Monday, April 8, 2013

Belajar Mengikhlaskan.





Mencintai adalah pekerjaan yang mulia, karena cinta cenderung melahirkan sifat kasih sayang kepada apa yang kita cinta. Sedangkan sifat “pengasih” dan “penyayang” itu sendiri adalah salah satu sifat Tuhan.

Mencintai akan membuat kita melakukan segala sesuatu yang membuat seseorang yang kita cintai merasa senang dan bahagia. Kita rela bersusah payah demi membahagiakan yang kita cinta. Kita rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan biaya demi mendapatkan dan memelihara cinta seseorang yang kita cintai tersebut. Pendek kata, demi cinta, katanya mati pun rela. Dari sini, kita pasti tahu bahwa subyek perasaan cinta pada pembahasan gue ini adalah subyek yang hidup, bukan benda mati atau sebuah status belaka.

Ketika kita mendengar kata "cinta" maka seringnya asosiasi kata itu ialah cinta kepada lawan jenis. Cinta kepada pacar atau kekasih, suami atau istri, meskipun sebenarnya obyek cinta itu sangat luas. Untuk kali ini mungkin kita tekankan pada emosi cinta pada kekasih atau orang yang spesial dan teristimewah di hati kita.

Membahas masalah cinta akan sangat panjang dan penuh perdebatan, karena arti "cinta" bagi setiap orang mungkin berbeda-beda. Namun kali ini yang akan gue bicarakan mungkin sering terjadi, atau mungkin kita sendiri juga pernah mengalaminya. Apa itu? Tidak lain adalah sebuah episode dari truelove story perjalanan cinta kita mencari pasangan hidup. Kalau dibuat film (yang kemungkinan besar bisa box office), judulnya adalah "Menghadapi Pengkhianatan Cinta" atau "My Love, Kenapa Kau Tinggalkan Daku?". No, I'm joking

Ketika kita sedang sepenuh hati mencintai seseorang, kemudian cinta kita berbalas cinta; tidak ditolak mentah-mentah. Dan si dia juga dari mulutnya sudah berkata bahwa perasaannya juga sama. Oh, indahnya dunia ini. Dua cinta berpadu, aneka bunga pun mekar di hati sepasang insan yang sedang kasmaran. Kasmaran: sejauh mana kau kejar cinta? Bila diteropong dengan kacamata empat dimensi maka akan terlihat di atas kepala mereka berdua beterbangan daun waru merah hati yang berkelap-kelip dan berputar-putar. Ada teman saya yang cintanya baru diterima maka hitam-hitam (pupil) di matanya tiba-tiba berubah menjadi warna pink dan bentuknya menyerupai hati (yang ini hanya fiktif belaka).
Ceritanya sekarang adalah ternyata seseorang (kekasih) yang sangat kita cintai tersebut tiba-tiba berkhianat (menduakan cinta kita, selingkuh, tidak setia atau apapun sebutannya itu). Tentu yang terjadi adalah broken heart; hati kita pun hancur berkeping-keping!

"Dia memang brengsek, bro! Padahal aku ini orang paling setia di dunia…”, demikian sumpah serapah seorang kawan yang lagi patah hati, atau "Sampai sekarang gue gak ngerti, koq bisa ya?" dan sudah pasti masih banyak lagi tanda tanya yang akan keluar dari mulut seseorang yang merasa cintanya sudah dikhianati.

Menurut seorang teman saya, dia berpendapat bahwa seorang "pengkhianat cinta", berarti dia tidak tahu makna sebenarnya tentang cinta itu sendiri. Dia tidak ingin berkomitmen dan tidak ingin terikat dengan cinta yang dia pegang, karena ingin mendapatkan keuntungan dari cinta yang dia tebar (ke orang lain). Dia tidak teguh pendirian dan tidak bisa melihat orang yang lebih indah dari pasangannya, atau bisa saja didukung dengan ketidakstabilan emosi yang dimilikinya.

Sementara itu, teman lain memiliki pendapat yang agak berbeda sebagai berikut. "Pengkhianat cinta"?, Pengkhianat itu orang yang menyalahgunakan kepercayaan. Menurutku pengkhianat cinta itu juga bisa ketika kita mencintai makhluk lebih daripada Penciptanya. Misal, setiap manusia diberi hati dengan rasa cinta karena Tuhan Yang Maha Penyayang, akan tetapi rasa itu diumbar secara berlebihan dan salah sasaran. Mencintai pacar secara berlebihan, jor-jor'an a.k.a kebangeten (berlebihan) sampai menomor sekiankan urusan lainnya. Cinta itu suci, tulus dan ikhlas. Jangan sampai ternoda deh! Kalau terlanjur, cepat perbaiki. Pengkhianat cinta mungkin nggak bisa disalahkan sepenuhnya, mungkin karena dia belum tahu seperti apa cinta itu. Sama halnya dengan cinta orang tua, mereka bekerja untuk kehidupan kita. Bahkan mereka tidak tahu apakah kita akan berbakti atau tidak, tapi mereka tetap mencintai kita dan berdoa yang baik-baik, padahal mungkin kita bolos sekolah, nakal, curang tentang uang SPP, bohong, apalagi sampai melakukan tindak kriminal… berarti kita juga sudah jadi pengkhianat cinta! Baik cinta kepada orang tua, juga cinta kepada Tuhan. Iya kan?”

Sebelum melangkah lebih jauh, kita sebutkan dulu beberapa penyebab seseorang berkhianat, menyeleweng atau selingkuh. Kalian pun boleh menambahkan sendiri:
  1. Kita kurang menjaga perasaannya
  2. Si dia mencari atau menemukan yang lebih baik atau lebih sempurna dari kita
  3. Si dia ingin sesuatu yang lebih dari apa yang sudah kita berikan
  4. Si dia sedang mencari sensasi baru
  5. Si dia bukan tipe pasangan setia
  6. Si dia memang sengaja melukai hati kita
  7. Si dia memang seorang buaya darat (untuk lelaki) atau buaya laut (untuk wanita)
  8. Dasar sifatnya playboy atau playgirl

Demikian mungkin beberapa alasan kenapa "si dia" yang sangat kita cintai membalas cinta kita yang tulus, suci, plus murni dengan sebuah pengkhianatan yang kejam dan tidak berperi kekasihsayangan. Oups!

"Mas, padahal aku sangat mencintainya. Aku mencintainya dengan sepenuh jiwaku. Ketika kami melakukan janji setia, langit dan bumi jadi saksinya. Bahkan dia memintaku untuk bersumpah setia atas nama Tuhan. Aku berpikir bahwa dialah jodoh sejatiku, tapi kenapa dia tega menduakan cintaku dan menghancurkan perasaanku?!"

Teman, mungkin begitulah kalau hati kita tertambat kepada seseorang. Kalau patah hati pasti menderita. Bagi kalian yang sudah biasa dikhianati mungkin tidak merasakan sakit lagi atau malah tidak percaya lagi dengan yang namanya "cinta".

Saya pikir pengalaman "dikhianati" seseorang yang kita cintai adalah merupakan salah satu berkah, rahmat atau hidayah dari-Nya agar kita mau menginsafi kesalahan dan melakukan instrospeksi diri. Ternyata Dia Maha Membolak-balikkan Hati, sehingga dalam hitungan detik bisa mengubah perasaan yang tadinya suka dan cinta dengan kita menjadi sebaliknya.

Jadi, jangan terlalu sedih atau terluka dengan pengalaman yang satu ini. Juga jangan membenci si dia yang telah mengkhianati cinta kita yang seputih salju Himalaya. Oups! Sakit hati karena dikhianati benar-benar akan menjadi ladang pembelajaran bagi kita dalam melatih emosi dan bersikap lebih dewasa. Pengalaman sakit hati akan membuat kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan jika kita mau belajar darinya.

Bicara masalah sakit hati karena dikhianati, bukannya saya tidak pernah mengalaminya. Justru pengalaman itu adalah pengalaman terpahit yang pernah saya alami. Namun, dari pengalaman itulah saya banyak mendapatkan pemahaman dan ilmu baru. Saya tidak tahu bagi kalian yang mengalami pengalaman yang sama, apakah bisa mengambil manfaatnya atau tidak. Tapi yang jelas hikmahnya selalu ada.

Dari masa sakit hati itu, adanya sahabat-sahabat sejatilah yang bisa menegarkan dan memberi arti indahnya persahabatan. Bila dikenang, hanya sahabat-sahabat sejati sayalah yang ternyata hadir dengan penuh perhatian dan memberi support mental yang luar biasa. Dari itu, terkadang sahabat adalah segalanya karena di satu sisi cinta kasih mereka lebih tulus dari kekasih kita yang sebenarnya. Dan sahabat ternyata selalu ada di saat kita benar-benar membutuhkannya. Selain mereka, keluarga juga merupakan media nomor satu untuk menyembuhkan diri dari perasaan kecewa ini.

Selanjutnya, berikut beberapa hal yang mungkin bisa kalian lakukan bila ternyata sudah menjadi takdir cinta kalian yang katanya tulus dan suci hanya mendapat balasan berupa sebuah pengkhianatan yang "menyakitkan". Saya sengaja memberi tanda petik pada kata menyakitkan, karena sesungguhnya itu hanya sebagai akibat penilaian (pemberian makna) pikiran kita secara subyektif. Jika kita belajar NLP (Neuro Linguistic Programming) maka akan dijelaskan bahwa sesungguhnya semua kejadian itu bersifat "netral", hanya pikiran kita saja yang menilai atau memberi "makna".

Ok, mari kita bahas satu per satu…!
Introspeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik

Mengatahui ternyata si dia yang sangat kita cinta koq bisa-bisanya meninggalkan kita dan berdua dengan orang lain harusnya disikapi dengan pemikiran bahwa ternyata diri kita bukanlah makhluk yang sempurna. Jika kita manusia yang sempurna, mana mungkin kekasih kita akan pergi meninggalkan kita dan menjalin cinta dengan orang lain. Kita seharusnya melakukan instrospeksi diri. Ternyata diri kita masih banyak kekurangannya sehingga tidak bisa mempertahankan cinta si dia kepada diri kita. Dari sini kita sama sekali tidak boleh bersikap sombong, meskipun secara fisik kita ini indah. Yang layak untuk sombong hanya Tuhan. Bukan begitu?

Setelah kita menganalisis kekurangan diri kita maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki diri agar kekurangan-kekurangan tersebut bisa kita minimalisir dengan kelebihan yang ada pada diri kita. Jadikan "sakit karena dikhianati" sebagai cambuk agar diri kita bisa menjadi lebih baik, secara lahir maupun batin.

Dalam proses perbaikan diri ini tidak usah kita mengharapkan si dia akan kembali pada kita, karena setelah dia berkhianat/berselingkuh maka kita tahu bahwa ternyata cintanya tidaklah murni.

"Tapi aku sangat mencintainya, Mas! Aku sangat menyayanginya!"

Tidak perlu diuraikan lebih jauh lagi ya, karena kalau sudah begini maka yang bicara adalah emosi. Dan kalau menuruti emosi maka tidak akan ada titik temunya.

"Kalau si dia mau tobat, bagaimana Mas?"

"Kalau dia mau tobat maka dia tidak akan mencari cintamu lagi. Dia hanya akan menemuimu untuk minta maaf, that's all!"

Memaafkan dan mengikhlaskan

Langkah selanjutnya ialah memaafkan dan mengikhlaskan, tidak hanya orangnya, tapi juga perbuatan si dia yang membuat luka di hati kita. Ini dimaksudkan agar kita bisa merelease emosi negatif berupa amarah, sakit hati maupun dendam dari hati kita, karena semua emosi tersebut adalah emosi yang akan sangat menghambat kemajuan diri kita. Orang yang menyimpan dendam cenderung akan sulit meraih kesuksesan karena semua emosi negatif tersebut akan menyedot energi psikis kita. Jadi, bukannya kita tambah bahagia, namun makin menderita.

Maafkanlah orang yang telah mengkhianati kita, karena memaafkan adalah akhlak yang dicontohkan Tuhan. Kalau tidak ada orang yang menyakiti hati kita maka kapan kita praktek langsung meneladani akhlak Tuhan, yakni memaafkan.

Ikhlaskanlah, karena sesungguhnya semua yang ada di dunia ini—termasuk orang yang menyakiti hati kita—juga adalah milikNya. Ikhlaskan kepergiannya dari hati kita agar tidak ada emosi negatif yang bersarang di hati dan menjadi sumber penyakit, baik lahir maupun batin.

Pernah beberapa tahun yang lalu ketika sedang merasakan sakit hati karena dikhianati, seorang kawan yang sedang pulang dari kuliahnya di Jakarta berkunjung dan berkata, "Bersyukurlah coy, itu tandanya Allah masih sayang sama kamu dan mau menunjukkan bahwa dia bukanlah yang terbaik untukmu. Untung selingkuhnya sekarang, coba kalau nanti ketika dia sudah jadi istrimu."
Yakinlah bahwa hukum karma itu ada

Kita tahu bahwa jika orang lain menyakiti kita sesungguhnya dia sedang menyakiti dirinya sendiri. Demikian juga jika menyakiti orang lain, sesungguhnya kita juga sedang menyakiti diri sendiri. Pendek kata, semua itu akan ada balasannya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Hukum karma atau hukum tebar-tuai menyatakan bahwa apa yang kita tebar maka itulah yang akan kita peroleh. Jika yang kita tebar adalah kejahatan, maka bisa dipastikan kejahatan juga yang akan menimpa kita. Begitu juga jika yang kita tebar adalah benih-benih kebaikan, maka kebaikan pula yang akan menghampiri kita, bahkan jumlahnya bisa berlipat ganda.

Sekedar berbagi pengalaman, ternyata bisa dibuktikan… Mantan kekasih yang pernah mengkhianati saya (telah saya maafkan) juga ditinggal kekasihnya (pacar barunya setelah saya) karena orang lain juga.

Karma… selalu ada balasan bagi setiap perbuatan atau tindakan yang berhubungan dengan diri dan perasaan orang lain. Oleh karena itu, hati-hatilah!

Sekedar untuk bahan renungan, dari kisah "pengkhianatan cinta" yang pernah saya alami (semoga tidak akan ada lagi setelah ini, amin..), ternyata mantan kekasih yang menjadi tokoh utama kisah tersebut sampai sekarang masih "sendiri". Sampai kapanpun, Saya percaya bahwa tipikal orang seperti ini tidak akan pernah berhenti mencari.

Mungkin benar ungkapan yang menyatakan hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Namun, menurutku 'cinta' yang dimaksud adalah cinta dari Sang Pemilik Cinta… Adakah manusia yang mencintai sesamanya demi mengharap kerido'an-Nya…?”

So, jangan pernah takut untuk disakiti, namun takutlah untuk menyakiti! Karena dari rasa sakit itulah, maka pelajaran baru pun akan kita terima, ya.. Belajar mengikhlaskan dengan tulus.

Menjadi Kesayangan Tuhan

Merasakan pedihnya cinta kita dikhianati mungkin akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan tak ingin terulang lagi. Namun, boleh jadi dengan cara itu Tuhan sedang mengingatkan kita (bagi yang mau sadar) agar tidak menambatkan seluruh cinta kita kepada sesama makhluk-Nya. Kita mencintai dengan sepenuh hati dan pengharapan, tapi justru si dia membalasnya dengan sebuah pengkhianatan yang memilukan.

Jika saja si dia tidak mengkhianati kita, belum tentu kita jadi ingat dengan Sang Pencipta.. So, jika realitas yang terjadi ternyata si dia berkhianat, mungkin itu sebuah sinyal agar kita segera mendekatkan diri ke Tuhan!

Untuk itu, jika kita sudah terlanjur dikhianati, jangan biarkan hati kita bersedih dan meratapi nasib. Namun, jadikan momentum itu sebagai sarana untuk menginsafi diri dan mendekatkan jiwa raga anda pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadikan setiap keadaan yang tidak nyaman atau menyakitkan sebagai ladang pembelajaran bagi kita untuk memahami kehidupan ini.

Ingat selalu kata bijak berikut ini:
Hal paling buruk yang terjadi terhadap anda mungkin merupakan hal paling baik yang pernah terjadi terhadap diri anda kalau anda tidak membiarkannya mengalahkan diri anda. ~ Napoleon Hill

Setelah ini, alangkah baiknya kita terus memperbaiki diri detik demi detik dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan karena Dia-lah sesungguhnya yang harus menjadi tumpuan cinta dan pengharapan kita. Dengan sekuat tenaga kita berusaha terus meningkatkan kualitas maupun kuantitas amal ibadah kita dan kita lakukan secara terus menerus (konsisten) sehingga pada akhirnya kita pun bisa menjadi "Kesayangan Allah". Jika kita sudah menjadi yang "disayang Allah" maka mungkin kita akan lebih kuat dalam menghadapi apapun cobaan yang datang.

Well, life must go on guys. Keep up the good spirit! 

(Based on a true story).  

Sunday, March 31, 2013

Someone's Dirty Little Secret Is Me!


February 20th 2013
 
Kemarin, akulah yang menjadi orang dan tujuan pertama dihatimu.. Sekarang? Entahlah.. I'm just your another option. I accepted that. 

Semestinya gak ada 'dia', 'dia' dan 'dia' diantara 'kita'.. Mungkin kamu akan kaget dengan hal ini, tapi sejujur-jujurnya, aku sudah lama mengetahui apa yang sudah sebenarnya terjadi di belakang. Tapi aku mencoba untuk berpura-pura bodoh saja. Hati cuma satu, gak sepantasnya dipakai untuk menyukai dan mencintai dua orang atau lebih sekaligus. But I accepted that. Akupun tahu kalau kamu juga sedang berjuang melawan dilema ini.

Sudahlah, mungkin memang sudah harus begini jalannya, jalan kita.. I accepted that. You don't need to worry about my heart. I'll take care of it by myself here. 

This is my first time becoming "orang ke tiga" dan menemukan beberapa "orang lain" juga dibelakang aku, dan saatnya aku harus mulai belajar membiasakan diri, walau entah sampai kapan.. Well, I've missed you so long.. You can come to me everytime you miss me, if you really do and want to. I'm here, waiting and let your heart a break to them.. But, I gave you time, then don't blame me when the next days, I'll leave everything on us.

Now, I'm ready to be your 'Dirty Little Secret' as long as you want me. Semoga kebahagiaan selalu ada diantara "kamu ke mereka" dan "kamu ke aku". Be good there! 

I care to you, Hun!

Tuesday, March 5, 2013

Ujian Iman!



Sebenarnya hari ini, 5 Maret 2013 adalah sama dengan hari-hari gue sebelumnya, tidak ada memori yang spesial yang perlu gue kenang dari hari ini, namun sejak hari ini berakhir, gue dan semua kakak-kakak gue mungkin akan menjadikan hari ini sebagai hari kenangan. Hari dimana kebahagiaan dan kesedihan menyatu sekaligus didalam sebuah perayaan. 

Ya, hari ini merupakan hari kebahagiaan untuk Ayah kami dimana beliau baru saja melangsungkan pernikahannya yang kedua dengan perempuan pilihannya. Hari dimana beliau belajar untuk melanjutkan hidupnya di usia senja dan memulai kehidupan baru dengan orang lain setelah kepergian Mama untuk selama-lamanya di akhir 2010 lalu. Kebahagiaan bisa saja terpancar dari raut wajah beliau dan keluarga istri barunya, namun tidak buat kami. Hari pelepasan tersebut betul-betul sangat emosional buat kami anak-anaknya.

Gue, dan kedua kakak gue yang datang menghadiri perayaan tersebut butuh perjuangan besar dalam melawan ego kami masing-masing untuk datang dan berada disana. Ketidakrelaan kami melepas ayah sejak beliau mengutarakan maksud dan keinginannya dari setahun yang lalu untuk menikah kembali membuat kami berjuang agar hal tersebut tidak terjadi. Berbagai upaya sudah kami lakukan agar beliau tidak merasa kesepian dan bisa melupakan keinginannya tersebut namun mungkin memang harus beginilah jalannya. Balik lagi, sebagai manusia kami cuma bisa berkehendak, namun Tuhan lah yang menentukan.

Meskipun kedua kakak gue ada yang tidak hadir sebagai tanda ketidaksiapan mereka, kami yang hadir, selama perayaan tersebut berlangsung hanya bisa berharap semoga ayah kami bisa menemukan kebahagiaan dengan pilihannya. Dan dengan kehadiran kami disana bisa menjadikan hari istimewanya itu menjadi jauh lebih berarti.

For me, when my mother died, I didn't want my dad to get married again, but then I realize that he needs to be happy as well. When my father makes decision to re-married again, I respect that! If it that's makes him happy, then I'll be happy too.

Now I understand that many individuals feels incomplete without a soul mate to share their life with as life without love is indeed no life. When their soulmate died and being alone after a great marriage, usually leads older guys to find someone to share their lives with.. And I believe if this is what actually happen to my father!

Selama perayaan berlangsung, bentuk penolakan-penolakan kecil melalui sikap kami disadari atau tidak pasti ada, namun ada satu hal yang sungguh menarik ketika kami bertiga duduk bersama menyaksikan upacara pernikahan itu. Tiba-tiba saja kakak perempuan gue berucap: "Paling tidak, kita sudah berhasil melewati ujian iman yang diberikan Tuhan kepada kita, dengan ikut hadir disini." Mendengar  itu, gue bersama kakak laki-laki gue pun hanya bisa tersenyum dan berkata: "amin.."

Well,
Happy wedding, Papa..
Kami tulus dan sudah ikhlas melepasmu. 
Semoga kebahagiaan selalu menyertai kehidupan barumu, Papa..
amiiiiiin

Tuhan memberkati kita selalu.
-Immanuel


Wednesday, January 2, 2013

Resolusi Tahun Baru, Perlu?


Sepertinya sudah menjadi kebiasaan, ya? Tiap akan berganti tahun, banyak orang yang membuat resolusi, yang menurut Goenawan Mohamad di tweet-nya pagi ini padanan yang pas dalam Bahasa Indonesianya adalah tekad, kecuali untuk layar laptop atau televisi. Resolusi itu sendiri memang pas dipadankan dengan tekad, dengan resolusi seseorang yang menyatakan resolusi tersebut bertekad untuk melakukan ha-hal yang ditekadkannya.

Sejauh ingatan, setiap tahun akan berganti, saya tak pernah membuat resolusi. Semuanya seperti sebuah aliran sungai menuju muara, sesuatu yang mesti datang dan pergi, mengapa pula harus ditandai dengan resolusi. Namun demikian, tentu banyak dari anda yang membuat resolusi. Setidaknya menurut anda sekadar tekad adalah penting, pelaksanaannya itu soal yang lain.

Untuk itu saya akan mencoba berbagi dengan anda beberapa resolusi yang mungkin tidak perlu anda ucapkan atau tuliskan bahkan laksanakan. Tentunya resolusi ini bukan saya yang membuatnya. Teman maya saya yang sangat baik, Tom “MySpace” Anderson, memberikan beberapa hal tentang resolusi yang pada dasarnya merupakan elemen penting dalam kehidupan.

1. Speak Less, Reflect More
Betapa mudahnya berbicara, demikian yang sering saya dengar. Ada lagi yang mengatakan, “Lidah Tak Bertulang”.  Coba bayangkan kalau lidah bertulang, apa anda bisa berbicara? Demikianlah, saya sering lebih banyak suka omong, banyak omongan, ngomong ngalor-ngidul, membual dan banyak lagi. Mungkin karena sedemikian mudahnya berbicara, kadang hal yang tidak saya ketahui sering saya bicarakan sehingga  terperosok menjadi sok tahu, sok kenal segala segala sesuatu. Nah ini kesempatan bagi saya dan kita semua untuk berbicara lebih sedikit, dan meresapi hal-hal yang dibicarakan lebih banyak. Dengan makin banyak berefleksi, tentu kita bisa lebih memahami apa yang kita bicarakan. Refleksi penting bukan hanya mampu menunjukkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, namun tidak diketahui orang, tetapi juga menjadikan kita lebih wisdom.
2. Worry Less, Love More
Apa yang tidak kita khawatirkan di dunia ini? Gaji, uang di saku yang semakin menipis, kehidupan yang tidak beranjak ke arah yang lebih baik, pacar yang minta dinikahi, anak yang sakit, dan banyak lainnya. Bahkan mungkin kita khawatir di tahun depan kiamat benar-benar terjadi. Kita khawatir jika suatu saat kita tak mampu lagi melakukan apa-apa. Kita khawatir dipecat dari pekerjaan, kita khawatirkan apa saja, bahkan posisi  klasmen liga Inggris.
Worries aren’t serving anyone nor anything. Worries are expression of the Ego losing control.
Namun kita bisa menepis rasa khawatir itu. Kita bisa menepisnya dengan membawa sebanyak mungkin keyakinan akan kebaikan dari kehidupan ini. Berikan cinta yang lebih banyak sesudah itu kita bisa berharap kekhawatiran akan berkurang.
3. Hold Less, Express More
Memiliki banyak hal sangat penting. Memiliki pengetahuan yang banyak, kekayaan yang berlimpah merupakan elemen penting yang bisa membuat seseorang bahagia. Namun kadang permasalahannya tidak sesederhana itu. Ketika kekayaan sedemikian banyak diperoleh, serasa ada ruang kosng di dalam diri. Ketika ilmu pengetahuan begitu banyak didapat, serasa perlu untuk membaginya. Nah, mungkin baik bagi kita untuk memiliki lebih sedkit dan memberikan lebih banyak. Saya ingat, memberi itu lebih baik daripada menerima. Makin sedikit kita memiliki, sebenarnya makin banyak yang kita miliki sebagai ganti yang kita berikan. Kekayaan yang kita miliki jangan khawatir akan berkurang jika banyak kita ekspresikan kepada orang lain melalui berbagi. Ilmu pengetahuan yang dibagi akan menjadi pupuk bagi pohon kehidupan. Betapa sebenarnya kita tak pernah kekurangan satu apa pun dengan sedikit memiliki.
4. Judge Less, Forgive More
Kritik dan judment sering membuat kita luka. Dalam hal paling tak berdasar sekalipun kritik dan judment sebenarnyalah sebuah peringatan bagi kita. Anda, saya dan semua manusia tidak pernah terlepas dari kritik dan penghakiman orang lain. Kadang kita sedemikian gusarnya karena sering diberikan secara serampangan. Saya sering mengalami hal ini. Kadang saya sungguh emosi, kadang saya sedemikian marahnya, mengapa mereka hanya melakukan kritik, tetapi di sisi lain tidak mampu memberikan hal yang sama atau malah lebih baik dari apa yang saya berikan. Saya belajar, rasa marah, gusar, sakit hati karena kritik dan penghakiman lebih sering menyakiti diri sendiri. Untuk itu mungkin saya perlu memaafkan saja. Bukan untuk belajar rendah hati, namun semestinyalah demikian. Rasa marah hanya akan membakar diri sendiri. Ada baiknya saya memafkan saja dan mencoba melakukan refeksi dari apa yang orang lain katakan terhadap saya.
Forgiveness is the first medication that must be administered after self-awareness has brought clarity to the situation.
5. Do Less, Be More
Pernah menyisakan waktu untuk diri sendiri dalam beberapa tahun terakhir? Sering kita bekerja sedemikian giatnya. Tiada henti mengejar hal-hal di luar diri kita sendiri. Di tahun baru yang segera datang, mungkin kita perlu memandang lebih ke dalam. Melihat sisi-sisi lain diri sendiri, mematut-matut diri di kaca (bukan untuk menemukan betapa gagah atau cantiknya diri). Saya sendiri hampir tak ingat lagi kapan saya berbicara serius dengan diri saya sendiri dalam suatu waktu yang saya tentukan. Hampir sebagian besar kehidupan saya adalah tentang bagaimana saya terliaht di luar sana. Kadang saya malu dengan kenyataan saya tak pernah memikirkan bagaimana rupa saya dilihat oleh diri saya sendiri.

(diambil dari Catatan Kimi Raikko, http://lifestyle.kompasiana.com/)