Tuesday, February 15, 2011

Masjid Istiqlal: Wujud Toleransi Umat Beragama


Pada tahun 1953 beberapa ulama mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai ibukota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan. Mereka adalah KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama-sama dengan H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir. Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH. Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Pada tanggal 7 Desember 1954 didirikan yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai oleh H. Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional), menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal. Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti Merdeka sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya yayasan masjid Istiqlal dan kemudian membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan Lokasi Masjid Istiqlal:

Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran. Sementara Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan Thamrin yang pada saat itu disekitarnya banyak dikelilingi kampung, selain itu ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit. Namun akhirnya Presiden Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda, karena di seberangnya telah berdiri gereja Kathedral dengan tujuan untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Sayembara Desain Masjid Istiqlal:

Setahun sebelumnya, Ir. Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid. Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof. Ir. Rooseno, Ir. H. Djuanda, Prof. Ir. Suwardi, Hamka, H. Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada tahun 1955 Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp. 75.000; serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara, namun dari seluruh peserta hanya 5 peserta yang memenuhi syarat:

 - F. Silaban dengan rancangannya “Ketuhanan”

- R. Oetoyo dengan rancangannya “Istighfar”

- Hans Groenewegen dengan rancangannya “Salam”

- Mahasiswa ITB (5 orang) rancangannya “Ilham 5”

- Mahasiswa ITB (3 orang) rancangannya “Chatulistiwa”

Setelah proses penjurian yang panjang dengan mempelajari rancangan arsitektur beserta makna yang terkandung didalamnya berdasarkan gagasan para peserta maka akhirnya pada 5 Juli 1955 atas perintah Presiden Soekarno memutuskan desain rancangan dengan judul “Ketuhanan” karya Frederich Silaban dipilih sebagai pemenang sebagai model dari Masjid Istiqlal.

Sang Arsitek Masjid Beragama Kristen:


Frederich Silaban adalah seorang arsitek beragama Kristen kelahiran Bonandolok Sumatera, 16 Desember 1912, anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Ia adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. selain membuat desain masjid Istiqlal ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan.

Pada tahun 1931 Silaban bekerja di kantor Kotapraja Jakarta sebagai juru gambar bangunan dan magang di biro arsitek milik warga Belanda. Dari sinilah cikal bakal Silaban mempelajari teknik arsitekturnya yang berciri khas gaya internasional.

Tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Silaban untuk bisa memenangkan lomba desain masjid. Karena Silaban beragama Kristen, jadi bukan tidak mungkin beliau tidak dipercayai untuk mendesain sebuah masjid ide Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim ketika itu. Dengan mengusung tema “Ketuhanan” akhirnya Silaban keluar jadi seorang pemenang. Ternyata, design yang ia ajukan disetujui oleh Presiden Soekarno.

Untuk menyempurnakan rancangan masjid Istiqlal F. Silaban mempelajari tata cara dan aturan orang muslim melaksanakan shalat dan berdoa selama kurang lebih 3 bulan dan selain itu ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia.

Awal Pembangunan Masjid Istiqlal:

Pada sekitar tahun 1950 hingga akhir tahun 1960-an Taman Wilhelmina di depan Lapangan Banteng dikenal sepi, gelap, kotor dan tak terurus. Tembok-tembok bekas bangunan benteng Frederik Hendrik di taman dipenuhi lumut dan rumput ilalang dimana-mana. Kemudian tahun 1960, di tempat yang sama, ribuan orang yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat biasa, pegawai negeri, swasta, alim ulama dan ABRI bekerja bakti membersihkan taman tak terurus di bekas benteng penjajah itu.

Setahun kemudian, tepatnya 24 Agustus 1961, masih dalam bulan yang sama perayaan kemerdekaan RI, menjadi tanggal yang paling bersejarah bagi umat muslimin di Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya. Untuk pertama kalinya, di bekas taman itu, kota Jakarta memiliki sebuah masjid besar. Sebuah masjid yang dimaksudkan sebagai simbol kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Padanan katanya dalam bahasa Arab berarti merdeka dan disepakati diberi nama Istiqlal sehingga jadilah, Masjid Istiqlal namanya.

Tanggal yang bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu, dipilih sebagai momen pemancangan tiang pertama oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno yang ketika itu langsung bertindak sebagai Kepala Bidang Teknik.

Proses Panjang Pembangunan Masjid Istiqlal:

Seiring dengan iklim politik dalam negeri yang cukup memanas, proyek ambisius itu tersendat-sendat pembangunannya, karena berbarengan dengan pembangunan monumen lain seperti Gelora Senayan, Monumen Nasional, dan berbagai proyek mercu suar lainnya. Hingga pertengahan tahun ‘60-an proyek Masjid Istiqlal terganggu penyelesaiannya. Puncaknya ketika meletus peristiwa G 30 S/PKI tahun ‘65-’66, pembangunan Masjid Istiqlal bahkan terhenti sama sekali.

Barulah ketika Himpunan Seniman Budayawan Islam memperingati miladnya yang ke-20, sejumlah tokoh, ulama dan pejabat negara tergugah untuk melanjutkan pembangunan Masjid Istiqlal. Dipelopori oleh Menteri Agama KH. M. Dahlan upaya penggalangan dana mewujudkan fisik masjid digencarkan kembali. Presiden Soekarno, yang pamornya di mata masyarakat mulai luntur, kedudukannya dalam kepengurusan diganti oleh KH. Idham Chalied yang bertindak sebagai koordinator panitia nasional Masjid Istiqlal yang baru. Lewat kepengurusan yang baru, masjid dengan arsitektur bergaya modern itu selesai juga pembangunannya.

Semula pembangunan masjid direncanakn akan memakan waktu selama 45 tahun namun dalam pelaksanaannya ternyata jauh lebih cepat. Bangunan utama dapat selesai dalam waktu 6 tahun tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1967 sudah dapat digunakan yang ditandai dengan berkumandangnya adzan Maghrib yang pertama.

Secara keseluruhan pembangunan masjid Istiqlal diselesaikan dalam kurun waktu 17 tahun. Peresmiannya dilakukan oleh presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978. Kurun waktu pembangunannya telah melewati dua periode masa kepemimpinan yaitu Orde Lama dan Orde Baru. Pendanaan pembangunan masjid ini pada masa Orde Lama direalisasikan melalui proyek Mandataris sementara pada masa Orde Baru menjadi bagian dari Proyek RePelita (Rencana Pembagunan Lima Tahun).

Masjid Istiqlal yang dibangun sejak tahun enampuluhan, menampilkan kesatuan gaya yang kompak dan bersih. Kubahnya yang besar dan merupakan bentuk setengah bola murni, mempunyai daya dominasi terhadap totalitas bangun arsitekturnya.

Wujud arsitekturalnya bersih (clean dengan design), tidak menonjolkan detail-detail unsur dekoratif, maupun elemen-elemen hias lainnya pada bangunan. Hal ini pun terlihat pada desain interior bangunannya yang bersih dari gaya ornamentik, sehingga tidak mengganggu kekhidmatan suasana religi di ruang utamanya. Eksteriornya juga menampilkan pola struktur yang jelas dan kolam-kolam air yang besar. Sedangkan menaranya ditempatkan agak jauh dari bangunan induk, dengan bentuk menara beton yang tinggi.

Masjid Istiqlal telah berfungsi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bersifat nasional, sehingga masjid ini telah condong menjadi tanda sebagai simbol kenegaraan. Wujud arsitektural Masjid Istiqlal yang dirancang oleh arsitek non-Muslim, tidak menyalahi kaidah. Hal ini malah menunjukkan adanya kerukuran umat beragama, yang saling memberi dan menerima. Apalagi sang arsitek pada hakikatnya telah menghayati fungsi masjid sebagai perwujudan penting umat Islam.

Masjid Istiqlal merupakan salah satu masjid yang arsitekturnya diharapkan bisa menunjukkan identitas nasional dari bangsa Indonesia dan mendokumentasikan kerukunan umat beragama. Kini masjid Istiqlal berdiri megah di Ibukota Jakarta dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia.


(Dirangkum dari berbagai sumber informasi).

Monday, February 14, 2011

Realita Cinta & Segala Komprominya



Mungkin pedoman utama yang harus gue pegang sampai kapanpun, adalah berkencan dengan rasa aman.

Loh, koq? Artinya saat berkencan dengan seseorang, gue tidak akan pernah membiarkan hati merasa cemas selama bersama orang tersebut. Kita jangan pernah mengabaikan rasa cemas yang terus ada dalam pikiran kita saat berkencan dengan seseorang. Itu bisa saja menjadi "ALARM BUAT DIRI KITA" sendiri. Bila rasa cemas itu datang, baik yang sangat terasa maupun sangat samar sekalipun, sekali lagi jangan pernah kita abaikan! Ini adalah lampu kuning buat kita sendiri.

Banyak Hal yang gue lihat, yang gue rasakan dan yang gue pelajari dari sekeliling gue. Entah itu gue pelajari dari cerita sahabat-sahabat gue ataupun kejadian yang gue alami sendiri. Banyak ciri, sikap dan kebiasaan seorang calon pacar atau seseorang yang sudah kita ultimatumkan sebagai pacar kita yang bisa kita pelajari demi terciptanya rasa aman ini. Agar kita tidak sampai terjebak, gue cukup yakin kejadian-kejadian disekeliling gue berikut, bisa menjadi inspirasi buat kita dan buat keselamatan hati kita kedepannya.

Rasanya masih sangat jelas sekali didalam ingatan gue, melihat dan mendengar betapa bahagianya salah satu dari beberapa sahabat gue disaat dia bercerita tentang indahnya hubungan dia yang terjadi disaat itu dengan seseorang yang sangat dia sayangi. Wieke, namanya. Dan gue cukup yakin kalo keindahan itu benar-benar bisa gue lihat dan rasakan dari pancaran mata dia saat bercerita tentang itu semua. Gue cuma bisa bilang "How lucky Her!" Tapi semua yang gue rasakan, dan semua keindahan yang gue bayangkan harus gue rusak, gue tutup rapat-rapat dan sebisa mungkin gue buang jauh-jauh. Betapa gue sangat menyesal telah mengultimatumkan "adanya cinta sejati" didalam hubungan mereka berdua. Damn, apa yang selama ini gue perkirakan ternyata salah besar! Ya, tiba-tiba saja cerita-cerita indah yang selalu keluar dari setiap perkataan-perkataannya harus disudahi dengan sebuah pengakuannya yang selama ini tidak pernah terbersit sedikitpun dalam otak gue. Diluar dugaan, dia bercerita tentang sifat kasar sang pacar. Ya, bagaimana bisa kalo ternyata disetiap keindahan-keindahahan ceritanya ternyata terselip banyak kesedihan yang selama ini tersembunyi. Hati kecil gue bertanya disaat itu, apa mungkin betapa rasa sayang yang sudah teramat sangat bisa menenggelamkan kesedihan-kesedihan yang sepantasnya harus ditiadakan? apa mungkin selama ini keindahan itu hanyalah sebuah bungkusan saja? yang hanya berperan untuk menutupi banyaknya kesedihan-kesedihan dia? Saat itu gue cuma bisa bilang "How survive Her!"

Aah, ternyata rasa sayang yang diciptakan hanya dijadikan sebagai topeng untuk menutupi sifat sadis yang selama ini diterima dari orang yang dia sayang itu. SADIS? ya, tipikal orang seperti itu adalah tipe orang yang harus kita jauhi! Kalau sudah begitu, tolong ikuti kata hati kita, jadikan kata hati sebagai senjata ampuh untuk menjaga diri kita. Begitu rasa tidak nyaman muncul ketika bersamanya, maka menjauhlah sesegera dan sejauh mungkin dari dia!

Kembali lagi gue mengingat suatu hari dimana, Djalu, satu dari beberapa sahabat gue yang tiba-tiba saja bercerita tentang keadaan dia saat itu, keadaan dimana dia sedang dekat dan menuju kearah keseriusan dengan seseorang yang ternyata sudah mempunyai orang lain sebelumnya. Well, mungkin kalau dibahasakan untuk jaman sekarang itu adalah: "selingkuhan". Gue cukup yakin kalau keadaan seperti ini pasti banyak dan sering terjadi dalam kehidupan kita, tidak menutup kemungkinan, gue pun pernah mengalaminya juga! Pacaran dengan seseorang yang ternyata milik orang lain, siapa yang mau? Tapi, bagaimana jika kita sudah terlanjur pacaran dengannya? Disini, gue cuma bisa menyarankan satu kata saja "sudahi"! Tapi tidak menutup kemungkinan bisa diajak kompromi apabila dia bisa menentukan pilihannya, dan syukur saja kalo toh emang kita yang memenangkan pilihannya itu.

Cuma gue rasa pertanyaan lain akan muncul kembali setelah itu, apa mungkin dia bakal selamanya setia ke kita? atau mungkin 'gak dia kembali mengulangi hal yang sama tanpa sepengetahuan kita diluar sana? Gue rasa hidup memang pilihan dan apapun yang sudah kita pilih, maka hadapilah dengan segala resikonya!

"Hati-hatilah bila kita berkenalan dengan tipe orang yang banyak omong, atau seringnya kita dengar dengan sebutan tukang tipu, perayu ulung atau apapun sebutannya!"

Peringatan ini mengingatkan gue kembali dengan kejadian yang pernah gue alami. Berhadapan dan berhubungan dengan tipikal orang seperti ini tentu sangat tidak menyenangkan, apalagi kalau dia terus menerus membahas tentang kehebatannya, tentang betapa gaulnya dia, tentang betapa banyaknya orang yang menginginkan dia sebagai pacarnya, atau bahkan betapa beruntungnya kita kalau bisa menjadi pacarnya, blah blah blah, yaks! Keadaan itu akan terus berkembang sampai kita akan bertanya-tanya sendiri, apa iya? Ingat! Orang seperti ini biasanya akan berusaha mati-matian membuat kita percaya dengan kehebatan-kehabatannya itu. Dan setelah itu? Dia akan menggerogoti kita dengan leluasa. Disini gue tidak perlu membicarakan hal-hal apa saja yang termaksud dalam kategori "tindak penggerogotannya" itu. Gue sangat yakin tanpa gue jelaskan pun, kita pasti sudah tahu itu semua!

Ada satu hal yang harus kita waspadai, bila kita belum pernah punya pacar, bisa jadi kita langsung terpesona mendengar ucapan-ucapan mautnya tersebut! Terus terang, orang seperti ini, dia sangat ahli membuat kita jatuh cinta lewat hujan kata-kata mautnya, bahkan mungkin juga lewat hadiah yang melimpah demi mendapati sesuatu dari kita.

Bicara tentang cinta dan relationship, sangatlah berarti buat gue apabila semuanya melalu proses, tapi apa mungkin ada orang yang begitu mudahnya bilang "Gue sayaang banget ama loe" atau "I Love You" sementara dia baru bertemu dengan kita dalam hitungan jari saja bahkan dalam pertemuan pertama sekalipun? Its weird huh!

Gue jadi ingat istilah yang sering gue dengar dari mulut sahabat gue, Bianca: "kecintaan", itulah istilah sahabat gue dalam melihat keadaan seperti ini, sampai dimana dia sendiri pun mengalaminya dan bercerita ke gue. Gue cuma bisa diam dan kembali mengingat betapa banyak sudah orang-orang seperti ini yang gue temui dalam cerita hidup gue pribadi. Biarpun dari ujung keujung kita berusaha menjelaskan bahwa dia bukan pasangan yang kita cari dan kita harapkan, tapi terus saja orang-orang seperti ini tidak akan pernah mau mengerti! Masih saja selalu berusaha menyodorkan diri kepada kita.

EItttsss, disini bukan kesombongan diri yang gue tawarkan, tapi realitanya kita harus melihat hal ini sebagai hal buruk, dan bukan pertanda baik! Kita jangan pernah salah mengartikan tindakan mereka itu sebagai tanda cinta yang mendalam, itu salah besar! Malah sebaliknya, kita justru harus lebih waspada menghadapi tipikal orang seperti ini!

Entah kapan, tiba-tiba saja gue kembali mengingat apa yang pernah diceritakan Andy, salah satu sahabat gue. Mengingat keadaan yang selalu diceritakannya. Tentang ketidakjelasan status hubungannya itu, gue kembali bertanya, apa mungkin suatu hubungan yang sama sekali tidak ada komitmen akan nyaman-nyaman saja dihadapi? Semuanya mungkin balik lagi ke diri kita masing-masing. Menghadapi tipe orang yang takut untuk berkomitmen mungkin dari siap tidaknya kita menjalaninya, dan gue cukup yakin sahabat gue juga memiliki alasan tersendiri dengan keadaan dia saat itu. Mendengar cerita itu, pertanyaan demi pertanyaan kembali muncul dari otak gue, apa mungkin suatu keadaan yang sama sekali tidak ada status kejelasannya bisa membuat kita bener-bener nyaman melakukannya? Lalu dimana letak batasan-batasan jalannya hubungan tersebut? Gue cukup yakin banyak yang merasa fine-fine saja dengan keadaan seperti ini, tapi gue tidak cukup yakin dengan semakin lamanya hubungan yang nantinya mereka jalani akan membuat mereka tetap diam dan menerima keadaan tersebut, apalagi jika hati dan perasaan sudah mulai berbicara didalam ikatan keduanya. Sekali lagi, hidup itu memang pilihan!

Membahas tentang keadaan dimana tidak adanya ikatan tapi masih bisa merasakan makna sayang itu sendiri, Mungkin lebih sangat beruntung dibandingkan dengan keadaan dimana adanya suatu ikatan tapi tidak adanya kemesraan yang tercipta dalam hubungan itu sendiri. Hal ini sempat berdiam lama di otak gue, sejak Djalu, sahabat gue menceritakan keadaan relationship dia yang sebenarnya saat itu. Sex? Membuat gue bertanya, seberapa pentingkah peranan sex dalam ikatan emosi dua orang? Mungkin memang benar dengan adanya tiga kata itu bisa memuluskan suatu hubungan yang sudah mulai renggang, gue kembali mengingat beberapa hubungan yang pernah gue jalanin sebelumnya, dan ya!, sex ternyata juga mempunyai pengaruh kuat dari berhasil tidaknya suatu hubungan itu. Hidup memang aneh, sex tanpa ikatan menjadi sesuatu yang hambar, bahkan lebih hambar lagi apabila ikatan tanpa sex. Well, that's life, our weird life!

Terus Bagaimana pula dengan keadaan dimana kita memiliki seseorang yang sangat mesra? akankah kembali dipertanyakan? Tentu saja! Punya pacar yang penuh perhatian dan mesra, pastinya akan sangat menyenangkan. Tapi, bagaimana kalau dia tipe orang yang terlalu kelewat mesra dan tidak pernah melihat keadaan di sekelilingnya? Hmm, ini bisa saja sangat mengjengkelkan! Mungkin tujuan dia baik, supaya bisa lebih dekat dengan kita barangkali? Tapi apa itu nantinya akan membuat kita merasa tidak nyaman karena menjadi sasaran utama dan dijadikan pemandangan umum oleh orang-orang sekeliling kita? Serba salah memang! Inti dari semua permasalahan-permasalahan tersebut diatas adalah balik kembali kepada pribadi kita masing-masing. Selama kita nyaman, hadapilah dengan segala resikonya, tapi disaat ketidaknyamanan itu muncul, jalan satu-satunya adalah menjauhlah, dan berusaha menjadi pasangan yang terbaik demi mendapatkan pasangan yang baik pula. Eventhought nobody is perfect, there's a beauty in unperfections! Deal?

Oopss,
I almost forget in this ending story.
It's valentine's day right?

Happy Valentine to all of you, guys!
Be careful with your heart!

Sunday, February 13, 2011

100 Hari Mama

                       


Mengenang 100 Hari Kepergian Mama:
"Margaretha Manda Patoding"
Kenangan Terakhir Bersama Mama, Natal 2009.
                                                                              

Sampai detik ini,
Masih terasa kehilangan yang mendalam tanpa kehadiranmu
Kala itu, 4 November 2010 di pagi hari,
fajar masih juga enggan keluar dari dekapan sang malam
Bagai mimpi saat aku mendengar kabar kepergianmu


Airmataku pun mulai keluar dengan derasnya dipipi
cerminan tangis di hati …….

Tak percaya …..
Tak percaya... benarkah kau pergi secepat ini?

Masih terdengar tawa riang candaanmu …..
Masih mengalun suara nyanyianmu …..
Masih tergetar semangatmu .....
Masih terngiang suaramu saat kita berdoa bersama .....
Masih melekat dalam ingatanku saat tanganku menggandeng tanganmu
saat menyeberangi jalanan pertokoan itu .....
Masih terasa tatapan kesedihanmu setiap kali melepas kepergianku yang jauh darimu .....
Masih teringat dalam ingatanku
saat dirimu sibuk membuatkan kue dan makanan
di hari ulang tahunku tahun lalu .....
Masih terkenang saat engkau melipat dan merapikan seluruh pakaianku ke dalam koper itu .....
Masih kuingat raut kesedihan yang mendalam ketika engkau mencurahkan semua beban pikiranmu .....

Mama, .....
Dalam sakitmu, engkau masih juga memikirkanku
Engkau tak lupa menasehati & memperhatikanku
Engkau selalu siap menjadi tumpuan jawaban bila aku perlu
Engkau selalu berusaha menjadi perempuan perkasaku

Kini, .....
100 hari sudah
engkau kembali pada Sang Pencipta

Tiada lagi teman tempatku bertanya seperti dulu .....
Tiada lagi mama yang sekaligus menjadi Sahabat sepertimu .....
Tiada lagi canda tawa tulus khas sapaan darimu .....
Tiada lagi tempatku berbagi .....
Tiada lagi sandaran kasih sejatiku .....

Tapi, …..
aku ikhlas melepas kepergianmu
Aku yakin Tuhan akan menjagamu

Tuhan sangat mencintaimu
Nasehat, ketegaran & semangatmu akan terus menjadi tauladan bagiku

Pergilah Mamaku Tersayang, …..
Pergilah, .....

Temuilah Kedamaian Sejatimu, diatas sana!

Selamat Jalan, Ibu!
Selamat Jalan, Mama !
Selamat Jalan, Sahabatku!
Selamat Jalan, Perempuan terhebatku!

Tunggulah Aku disana
Tunggulah aku...

Tunggulah aku di alam Keabadian .....
Bersama kita akan kembali berkumpul di dalam rumah itu, Mama .....
Rumah terindah, Rumah yang tenang .....
yang tidak mengenal kata perpisahan lagi.

Ya, TUHAN
Ampunilah segala dosa-dosanya
Limpahkanlah Rahmat kepadanya
Hapuskanlah segala kesalahannya
Muliakanlah tempatnya & Lapangkanlah pintu baginya
Maafkanlah segala kekhilafannya
Dan biarlah dia selalu tidur dalam ketengangan bersama kasih abadi Mu

Amien, .....

Love you as always,
Your Son,-